Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, Desember 16, 2009

Penyakit Aneh Serang Siswa Berprestasi

Jemberpost.com
Sekujur tubuh Bibit Wijianto (13) warga Desa Suci Kecamatan Panti kondisinya memprihatinkan. Seorang siswa MTS itu sekujur tubuhnya mengalami bergelembung dan mengerut yang diduga akibat kekurangan hormoneAkibatnya, yang bersangkutan harus tergolek lemas di RSD dr Subandi Jember hingga kini.
Bibit merupakan siswa kelas 1 MTS di Desa Suci Kecamatan Panti itu sejak kemarin harus tergolek lemas di salah satu ruang RSD dr Soebandi Jember. Siswa berprestasi itu mengalami penyakit langka yang diduga diakibatkan oleh kekurangan hormone tertentu.
Sekujur tubuhnya mengelupas, setelah sebelumnya terdapat gelembung-gelembung berisi air. Beberapa bagian bersisik, beberapa bagian yang lain mengalami luka yang sangat sukar mengering. Sementara jari-jari tangan yang awalnya sempurna kini seperti hendak menyatu. Sedangkan, tubuhnya tampak masih seperti bocah berusia 7 tahun, yang ditopang dengan tulang yang kecil.
Humas RSUD dr Subandi, Judi Nugroho, menyatakan, berdasarkan diagnosa yang dilakukan oleh dokter penyakit dalam, yang bersangkutan memang mengalami penyakit yang langka. Penyakit itu bernama bullous disease, atau penyakit gelembung. Penyakit ini diduga diakibatkan oleh kekurangan hormon.
Sementara, saat ini pihaknya masih harus melakukan stabilisasi terhadap darah pasien, karena kekurangan hemoglobin. Sementara, karena peralatan yang kurang, Judi menuturkan selayaknya pasien tadi dirujuk ke dr Sutomo, Surabaya. “Disini peralatan masih terbatas. Mungkin kalau di Surabaya lebih lengkap dan canggih,” ujarnya.
Orang tua Bibit bernama Didik mengatakan, penyakit yang diderita putranya itu sebetulnya sejak yang bersangkutan berusia 4 hari, 14 tahun yang lalu. Awalnya gelembung itu hanya terhadap di tangannya. Karena berisi air, ia akhirnya memecah gelembung itu dengan peniti.”Saya tidak tega melihat kondisi anak saya ini. Padahal, dia tergolong siswa cerdas di sekolahnya,” kata Didik yang sehari hari sebagai tukang parkir.
Ternyata, gelembung itu menyebar nyaris ke seluruh bagian tubuh lainnya. Didik menceritakan, selama ini, putranya hanya dirawat di puskesmas pembantu. Tetapi, karena kemarin kondisinya sedikit parah, sehingga, ia mengirim putranya ke RSUD dr Subandi.”Kondisi anak saya di puskesmas tak kunjung pulih. Akhirnya, saya bawa ke sini (RSD),” tuturnya.
Pasutri ini mengaku kasihan kepada putranya ketika musim kemarau tiba. Karena keringatan sehingga gelembung itu menimbulkan rasa gatal. Sedangkan, Bibit, saat diwawancara mengaku ingin segera sembuh dari sakit yang dideritanya. Pasalnya, ia ingin segera kembali ke sekolah.
Hal ini karena selama sebulan belakangan ia tidak bisa ikut pelajaran karena kondisinya yang memburuk. Bibit mengaku sering tidak bisa tidur karena rasa gatal yang menyiksa. Pasien tadi, termasuk pasien miskin. Namun, karena tidak terdaftar dalam jamkesmas, sehingga penanganannya diperlakukan sebagai pasien umum yang harus membayar semua biaya obat dan perawatan.”Sekarang masih tergolong pasien umum,” imbuhnya. (sal/kot)



Selengkapnya..

Kamis, November 12, 2009

Dinkes Hentikan Operasi Katarak Sepihak, Masyarakat Marah


Jemberpost.com- Kegiatan Sosial yang dilaksanakan Medical Ministery Internasional (MMI) tiba-tiba dihentikan mendadak oleh Dinas kesehatan Jember. Yumarlis Humas Dinkes membenarkan penghentian kegiatan ini namun menurutnya penghentian ini atas usulan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).Seperti diketahui Kegiatan sosial pemeriksaan dan Operasi Katarak ini diikuti oleh ribuan masyarakat, bahkan setiap hari lembaga tersebut dapat memeriksa dan mengoperasi 300 pasien. Disinyalir karena persaingan profesi antar dokter sehingga kegiatan ini dihentikan.
Masyarakat yang mayoritas antri sejak senin ini tidak terima dan berdemonstrasi di depan pintu masuk gedung Rumkit FKG Unej. Mereka mempertanyakan alasan penghentian kegiatan yang dirasakan penuh nuansa persaingan profesi.
“Pemerintah Jember menutup mata dengan keadaan kami, mereka menghentikan ini karena iri hati”Teriak Suroso SH pasien yang tinggal melaksanakan operasi.
Senada dengan itu Ahmad Alkaff dari Yayasan Rabithah Alawiyah Jember menyayangkan sikap Dinkes dan IDI yang menafikkan nurani dan mengedepankan faktor iri hati. Ia berharap ada setitik perhatian untuk masyarakat kecil, apalagi sekedar fator administrasi mestinya bisa diselesaikan sambil jalan. Ahmad mencontohkan keikhlasan para dokter MMI yang bekerja dengan nurani dan keikhlasan. “Mereka profesional, Ikhlas membantu masyarakat kecil dan dengan penuh senyuman, Tiru mereka”.Ujarnya.
Ironisnya petugas yang memberi pengumuman malah melakukan pembohongan publik dengan mengatakan bahwa obat-obatan yang dibawa para bule telah habis. Mendengar itu masyarakat berteriak-teriak tidak percaya. “Sudah mengecewakan malah menyalahkan dokter bule, Dasar dinas kesehatan dan IDI ndak punya malu”kata Salim warga Balung yang ikut Demo.
Sementara itu Dr Kendzia dari MMI yang dikonfirmasi Jemberpost.com disela-sela persiapan pulangnya menyatakan kebahagiaannya bisa menolong masyarakat Jember. “Mereka cantik, ganteng dan baik-baik “. Ujarnya sambil senyum
Ketika ditanyakan seputar penghentian kegiatan ini Dr Kendzia dengan anggun menjelaskan bahwa ia menyesal nggak bisa menolong masyarakat Jember lagi, ia hanya ikuti peraturan. Namun jika diijinkan pasti MMI akan kembali. (sal)


Selengkapnya..

Rabu, November 11, 2009

Ribuan Orang Padati Operasi Katarak Gratis

Jemberpost.com-Ibarat merindukan sesuatu yang telah lama hilang, masyarakat Jember seperti ketiban rejeki besar, MMI Fondation sebuah Lembaga Sosial Internasional mengadakan kegiatan Operasi Katarak Gratis bekerjasama dengan Universitas Jember (Unej) melaksanakan kegiatannya di Rumkit Gigi dan Mulut Unej.
MMI Fondation yang terdiri dari dokter-dokter spesialis Mata dari berbagai Negara ini disambut bak pahlawan oleh para Dhuafa dan orang miskin yang memang menanti kegiatan semacam ini. Pantauan jemberpost.com Ribuan Orang memadati halaman dan areal parkir mereka berdesakan berebut nomor antrian, walaupun telah diminta oleh panitia untuk berbaris rapi namun himbauan tersebut tidak diindahkan, panitia yang kewalahan pun membatasi dengan menutup pintu dan memanggil satu persatu pasien yang akan diperiksa.
Dr.Nugroho salah satu penanggung jawab kegiatan ketika dikonfirmasi jemberpost.com dengan wajah sumringah membenarkan bahwa kegiatan ini murni sosial.”Kami berharap dapat mengadakan kegiatan seperti ini setiap tahunnya”ujar dokter mata yang berpraktek di jl.Trunojoyo itu. Menurutnya dalam sehari kegiatan tersebut bisa melayani 200 hingga 300 pasien.
Sementara itu Dedi salah satu Staff MMI yang terlihat sibuk melayani dan mengontrol kebutuhan dokter dokter bule itu gembira dengan sambutan masyarakat Jember yang luar biasa, Ia berharap dapat melaksanakan kegiatan semacam ini secara rutin, Ia juga berharap masyarakat yang antri bisa lebih rapi sehingga semua kegiatan dari administrasi,registrasi pemeriksaan dan operasi bisa berjalan dengan baik, Di Jember dibuka sejak tanggal 3 November2009 hingga 12 November 2009.
Salim Umar BSA pengurus Yayasan Rabithah Jember yang mengantar 20 anggotanya mengaku antri sejak senin pagi dan rencananya diperiksa baru Rabu hari ini. “Ini kegiatan luar biasa, anggota kami seluruhnya dhuafa merasa sangat terbantu dan berharap kegiatan ini bisa dilaksanakan setiap tahun”katanya sambil bersyukur.
Salim menjelaskan jika tak ada kegiatan semacam ini, para dhuafa atau orang miskin tak akan memikirkan untuk melaksanakan operasi karena terbentur biaya yang perkiraannya sekitar 4 juta rupiah per kepala. Ia atas nama masyarakat Jember mengucapkan terima kasih atas kegiatan tersebut.(sal)


Selengkapnya..

Kamis, September 17, 2009

Wabup Kusen Andalas : Kesehatan Nomor Satu

Jemberpost.com,
Seluruh elemen masyarakat diminta untuk melakukan pencegahan dini terhadap terjangkitnya penyakit HIV/AIDS. Dengan banyak melakukan kegiatan yang sangat bermanfaat untuk kepentingan bangsa dan negara. “Kita tidak usah banyak berpikir yang macam-macam, tapi dengan menjaga kesehatan diri sendiri berarti ikut mensukseskan program kesehatan, “pinta Kusen Andalas saat membuka pelaksanaan sosialisasi penanggulangan HIV/AIDS, di pendopo Kabupaten Jember.
Dikatakan sosialisasi penanggulangan HIV/AIDS seperti ini jangan hanya sampai disini saja, melainkan harus terus dilaksanakan dan ditindak lanjuti hingga sampai wilayah pedesaan. “Agar pengetahuan mereka tentang bagaimana menghindari terjangkitnya virus yang mematikan ini dapat diminimalisir, “ujarnya.
Mengingat hingga saat ini menurut Kusen Andalas kesadaran masyarakat Indonesia akan kepeduliannya tentang HIV/AIDS sangat minim sekali, padahal ini juga merupakan masalah serius yang dihadapi masyarakat. “Kalau lingkungan kita sehat, tentunya semua yang ada akan sehat pula, sebab kesehatan adalah nomor satu, “jelasnya.
Untuk itu Kusen berharap agar para peserta mengikuti sosialisasi ini dengan serius, sehingga pengetahuan mereka bertambah dan akan sangat bermanfaat bagi kepentingan kesehatannya. “Sebab sosialisasi ini sangat penting guna memberikan pendidikan dan pengetahuan masyarakat tentang bahaya virus HIV/AIDS ini, “katanya.
Karena ini merupakan pengetahuan bagi peserta, maka bilamana di masyarakat terdapat gejala penyakit seperti HIV/AIDS, secepatnya bisa melaporkan kepada pihak petugas agar dapat dicegah lebih dini. “Karena masih banyak masyarakat yang bila terkena AIDS merasa malu untuk melaporkan kepada petugas, “terangnya.
Sementara itu Ketua Penyelenggara, Drs. Edi B. Susilo mengatakan peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 405 orang yang terdiri dari para camat, Kades/lurah, Kepala Puskesmas Se-kabupaten Jember, Komisi D DPRD Jember, LSM peduli AIDS dan seluruh anggota KPA Jember.
Dijelaskan perkembangan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Jember mengalami peningkatan sejak tahun 2004 telah diketemukan hanya 2 ODHA menjadi 217 ODHA hingga Mei 2009, maka sangat diperlukan penanggulangan HIV/AIDS secara komprehensif dengan melibatkan peran aktif antar Dinas Instansi dengan program yang jelas sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing.
Dilanjutkan bahwa tujuan adanya sosialisasi ini agar peserta memahami program penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Jember, sehingga setelah peserta paham akan virus ini dapat menyebarluaskan kepada masyarakat sehingga timbul partisipasi aktif terhadap program ini. “Dengan demikian kepedulian para camat, kepala desa dan Lurah serta perangkatnya sekaligus tokoh masyarakat terhadap masalah HIV/AIDS di Jember dapat ditingkatkan, “ujarnya.
Sedangkan narasumber diantaranya Ketua KPA Nasional yang diwakili oleh Inang Winarso, Ketua KPA Jawa Timur DR. Otto Bambang Wahyudi, Msi, MM sebagai sekretaris KPA, Dinas Kesehatan Jawa Timur, dan dari KPA Jember.
Kepala Dinas Kesehatan Jember dr. Olong Fadjri M mengatakan bahwa dari data yang ada Propinsi Jawa Timur telah ditetapkan sebagai propinsi dengan tingkat epidemi HIV tinggi. “Tercatat menjadi 3 besar tingkat nasional, sedangkan Kabupaten Jember masuk 5 besar di Jawa Timur dan ini harus ditanggulangi secara intensif dalam waktu singkat, agar tidka menjadi epidemi HIV sangat tinggi, “katanya.
Untuk itu Dinas Kesehatan Kabupaten Jember bersama dengan masyarakat peduli HIV melakukan langkah strategis untuk mendidik pemilik tempat hiburan tentang pengetahuan HIV/AIDS dan cara pengendaliannya, mewajibkan klien WPS dan PS lelaki memakai kondom saat hubungan seks. (sal)


Selengkapnya..

Jumat, September 04, 2009

Operasi Mamin, Toko Makanan Menjual Mercon


Jemberpost.com
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, setiap memasuki bulan Ramadhan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri, Dinas Kesehatan, Kabupaten Jember, selalu menggelar operasi makanan minuman (mamin) ke sejumlah toko dan swalayan. Gelar operasi mamin oleh dinas kesehatan ini dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari kemungkinan terjadinya perubahan kualitas atas suatu makanan atau minuman yang sudah masa berlakunya sudah lewat (ekspied)
“Kegiatan ini kita maksudkan untuk melindungi masyarakat dari ancaman makanan atau minuman yang berbahaya bagi kesehatan, karena masa berlakunya sudah habis,” kata Widjajaingsih, Kasi Kesehatan Makanan dan Minuman, Dinas Kesehatan, Kabupaten Jember.
Dalm gelar operasi mamin oleh Pengawas Obat-obatan dan Makanan Dinkes yang juga melibatkan intansi terkait dan Polres Jember ini, petugas dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok menyisir ke jurusan kampus, Jalan Panjaitan, Sriwijaya dan hingga berahkir di Jalan Gajahmada. Sedang kelompok kedua, melakukan operasi mamin sejak dari jalan Wahid Hasyim, Samanhudi hingga Hayam Wuruk.
Kelompok pertama yang melakukan operasi di Jalan Jawa berhasil menemukan sejumlah minuman yang sudah tidak layak dikonsumsi (ekspied). Minuman soft drink yang yang masa berlakunya habis itu umumnya banyak disukai anak-anak.
Karena itu, petugas operasi meminta agar seluruh minuman dan makanan yang masa berlakunya habis, segera dikemas dari rak-rak tempat dipajangnya barang dagangan. “Ini berbahaya, karena minuman jenis ini banyak disukai anak-anak,” jelas salah seorng petugas yang mengikuti kegiatan operasi mamin.
Tidak hanya sampai di situ, tim yang beroperasi hingga jalan Gajahmada tersebut, juga menemukan tumpukan barang dengan bahan baku beracun yang berdekatan dengan makanan. Karena itu petugas segera meminta petugas dari toko tersebut untuk memindah barang-barang itu.
“Ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Karena bisa saja itu bocor dan mengenai makanan yang ada disebelahnya,” kata seorang petugas operasi, seraya meminta petugas toko untuk menjauhkan obat nyamuk dan sabun detergent dari makan dan minuman.
Di lain pihak, operasi mamin yang dilaksanakan kelompok kedua dan dimulai dari jalan Wakhid Hasyim, Samanhudi hingga Hayam Wuruk, berhasil menemukan sejumlah barang yang kondisi kemasannya sudah penyok. Selain itu petugas juga menemukan toko yang ijin usahanya menjual makanan, tapi praktiknya menjual mercon. Yang lebih mengerikan lagi, toko ini menjual merconnya bercampur dengan makanan
Sementara itu, kaitan dengan kesucian bulan Ramadhan, Widjajaningsih, meminta petugas yang akan melakukan operasi mamin, untuk memeriksa setiap parcel yang ada di toko atau swalayan. Sebagaimana himbauan Dinas Kesehatan Jawa Timur, yang meminta agar toko atau swalayan tidak menjual parcel yang berisi minuman keras dan makanan mengandung babi.(sal)


Selengkapnya..

Mendagri Tunjuk Bapemas Ikut Tangani Posyandu


Jemberpost.com.
Keberadaan pos pelayanan terpadu (posyandu) di seluruh wiayah Indonesia kedepan tidak hanya dikelola oleh dinas kesehatan seperti selama ini, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Bapemas) ikut untukmemikirkan bagaimana kegiatan posyandu ini tetap bisa eksis dan berkembang ditengah masyarakat, bapemas yang ditunjuk sebagai sekretariat tetap (sektap) mempunyai kewenangan secara kelembagaaan membantu kelompok kerja operasional pembinaan pos pelayanan terpadu (pokjanal posyandu), hal tersebut sesuai instruksi menteri dalam negeri yang tertuang dalam Permendagri no.54 Tahun 2007.
Humas Dinas Kesehatan Pemkab Jember Yumarlis,SH mengatakan, secara organisasi kepengurusannya pokjanal posyandu berasal dari satuan kerja perangkat daerah (SKPD), LSM, dan PKK. “Posyandu tetap diketuai oleh kepala dinas kesehatan (kadinkes), bapemas secara kelembaagaan hanya memikirkan bagaimana kedepan posyandu tersebut bisa maju dan berkembang dengan fasiitas sarana dan prasarana yang dipunyai oleh posyandu seperti gedung dan mebeler. Dinkes ikut menangani posyandu melalui penyediaan kebutuhan kesehatan, mulai dari penyuluhan, tenaga medis, maupun obat-obatan yang dibutuhkan oleh masyarakat,”terang Yumarlis.
Pokjanal posyandu ini mempunyai tugas untuk mengelola posyandu, mulai dari tingkat pusat hingga ditingkat kecamatan yang ada ditiap-tiap kabupaten dan kota di Indonesia. Menurut Yumarlis, salah satu tugas yang dipunyai oleh pokjanal ini antara lain menyiapkan data dan informasi dalam lingkup yang ada di kabupaten terkait dengan pengelolaan posyandu. Selain itu juga pokjanal ikut menyusun rencana kegiatan tahunan dan mengupayakan adanya sumber pendanaan dalam mendukung kegiatan pembinaan posyandu, serta melaporkan hasil pelaksanaan kegiatankepada bupati dan ketua pokjanal posyandu propinsi.
Sejak awal pendiriannya posyandu sebagai upaya kesehatan yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, dan untuk masyarakat tersebut, berfungsi untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan utamanya terhadap ibu hamil, bayi, dan balita. “Dinkes melalui posyandu terus melakukan sosialisasi terkait dengan pola hidup sehat kepada masyarakat, program ini terus dilakukan oleh dinkes utamanya bagi masyarakat pedesaan yang masih awam tentang pola hidup sehat. Termasuk memberikan pemahaman yang benar terhadap mandi,cuci dan kakus (MCK), selama ini masyarakat memanfaatkan sungai sebagai sarana MCK ,”tandas Yumarlis.
Yumarlis juga menambahkan, masyarakat banyak diuntungkan dengan adanya kegiatan posyandu. Dengan mendatangi posyandu warga masyarakat yang punya bayi dan balita bisa memeriksakan kesehatan bayi dan balitanya secara rutin tanpa dipungut biaya. “ Setiap kali posyandu digelar banyak didatangi oleh warga yang ingin menimbang dan memeriksakan bayinya, itu artinya kesadaran masyarakat akan kesehatan semakin tinggi. Di posyandu sendiri selain ada penimbangan bayi dan balita juga ada program imunisasi dan pemberian vitamin juga ada pemberian makanan sehat seperti kacang hijau,”papar Yumarlis.(win)


Selengkapnya..

Selasa, Agustus 11, 2009

Kadinkes: Flu Babi Tidak Berbahaya


Jemberpost.com
Pernyataan mengejutkan sekaligus membuat tenang ini meluncur dari Dr.Olong fadjri Maulana Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. Menurut Dr.Olong keberadaan flu baru atau yang familier disebut Flu Babi ini tidak perlu ditakutkan karena angka kematian akibat kasus tersebut sangat rendah.

Dijelaskan bahwa dibanding Flu burung tingkat kematian Flu babi hanya 0,5 persen artinya jika ada 1000 pasien Flu burung maka kemungkinan meninggal mencapai 700 hingga 800 pasien. Dan jika demam berdarah ada 1000 pasien kemungkinan meninggal sekitar 10 orang dan Flu babi jika terdapat 1000 pasien kemungkinan meninggal sekitar 5 orang.

“Artinya lebih berbahaya Demam berdarah daripada Flu Baru (flu babi-red)”Ujar Kadinkes. Pernyataan ini melansir dari pernyataan resmi Menteri Kesehatan menanggapi banyaknya ketakutan akan bahaya Flu babi.
"Meski demikian masyarakat tetap harus mewaspadai kemungkinan terjangkiti flu baru ini, paling tidak masyarakat harus tetap melakukan kebiasaan pola hidup bersih," tukasnya.

Menurut Olong virus flu baru gampang menular ke siapapun mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, seperti dari dahak, bersin ataupun benda-benda yang sudah terkontaminasi dengan virus tersebut seperti piring, sendok, gelas, handuk, sabun, maupun sikat gigi yang dipakai oleh penderita flu babi ini. "Jika itu bisa dihindari maka resiko tertular sangat kecil," imbuhnya pada jemberpost.com sore tadi di ruang kerjanya.

Adanya perkembangan baru genetik maka penularan flu babi ini bisa melalui manusia bukan lagi binatang, flu babi yang awalnya disebut mexican strain dan kini di sebut flu baru. Dengan penyebaran melalui manusia ini paling tidak membuka peluang setiap orang bisa terkena flu baru, karenanya apabila salah satu anggota keluarga terjangkiti flu babi ini hendaknya secepatnya dibawa ke rumah sakit ataupun puskesmas.

Apabila masih penderita flu babi terpaksa dirawat di rumah karena kadarnya penyakitnya masih belum parah, Olong menghimbau penderita hendaknya di isolasi dalam kamar tersendiri sehingga tidak menular ke anggota keluarga yang lain.
Dan untuk penderita Flu biasa apabila telah mencapai 3 hari sebaiknya segera ke petugas kesehatan, baik itu di puskesmas atau ke Dokter dan sebaiknya mengisolasui dirinya hingga sembuh. (sal)


Selengkapnya..

Rabu, Agustus 05, 2009

Malam Amal Kemanusiaan PMI Bersama Panbers


Jemberpost.com- Sebagai publik figur, keberadaan seorang artis di mata masyarakat, dipandang sebagai sosok yang memiliki kelebihan tertentu. Karena itu tak jarang kehadiran mereka dalam suatu kegiatan, banyak menyedot perhatian masyarakat, sebab memang dielu-elukan.
Nah, dalam rangka menyedot perhatian masyarakat ini, PMI cabang Kabupaten Jember, mengundang kelompok musik legendaris Panjaitan Bersaudara (Panbers), ke Jember. Kehadiran Panbers yang tampil dalam acara Tembang Kenangan di Rumah Makan New Sari Utama pada Selasa malam, 4 Agustus ini, dalam rangka Malam Amal Kemanusiaan dan Kampanye Anti Narkoba PMI.
Namun begitu, sebelum memulai acaranya, personil Panbers, yang terdiri dari Benny Panjaitan, Asido Panjaitan, Hans Panjaitan dan Doan Panjaitan, pada siang harinya berkesempatan bertemu Wakil Bupati Jember, Kusen Andalas dan Asisten Ekonomi Pembangunan, Drs H Edy B Susilo, M.Si, di aula bawah Pemkab Jember.
Kepada personil Panbers, pada kesempatan itu Wabup, mengatakan, bahwa secara umum Jember tidak termasuk dalam daerah yang rawan penyalahgunaan obat-obatan terlarang (narkoba). Bebasnya Jember dari persoalan narkoba ini, kata wabup, karena Pemkab Jember sendiri berusaha melakukan antisipasi pada setiap kemungkinan terjadinya penggunaan narkoba.
Selain itu, kata wabup, sejalan dengan program jangka pendek dan menengah Pemerintah Kabupaten Jember, prioritas pembinaan mental lewat lembaga pondok pesantren senantiasa dilakukan. “Jember ini dikenal sebagai kota pendidikan dengan pondok pesantren yang tidak dari 700 lembaga. Karena itu arah pembangunan di sini (Kabupaten Jember), adalah Jember Relegius,” terang Wabup, yang didampingi Asisten Ekonomi Pembangunan, Drs H Edy B Susilo, M.Si.
Sementara Benny Panjaitan, vokalis sekaligus maskot dari kelompok Panbers, pada kesempatan itu menyatakan kegembirannya karena bisa hadir di Kota Jember, yang pada tahun 1974 silam, pernah dikunjunginya. Kehadirannya di Jember ini, kata pelantun lagu-lagu populer Panbers, seperti Pilu, Semusim Bunga, Risau, Pergi dan Berlalu, Hidup Terkekang dan Akhir Cinta dan sebagainya itu, selain dalam rangka Malam Amal Kemanusiaan dan Kampanye Anti Narkoba PMI, sekaligus untuk bernostalgia.
“Saya senang bisa datang lagi ke kota Jember. Ini napak tilas dari perjalanan Panbers mulai dari Medan, hingga ke Jember,” kata Banny, didampingi saudara-saudaranya yang tergabung dalam kelompok Panbers. (sal)


Selengkapnya..

Selasa, Agustus 04, 2009

Siswa Jember Dari Thailand Diawasi Ketat

Jemberpost.com - Dinas Kesehatan menilai, keberangkatan sedikitnya 80 orang siswa ke Thailand untuk studi banding, tak perlu dibatalkan karena isu flu babi. Namun, diperlukan adanya pengawasan ketat sepulang para siswa ini dari Negeri gajah Putih"Kalau dulu di sini masih steril (tidak ada flu babi di Indonesia), itu harus kita jaga betul. Tapi karena di sini sudah kebobolan, ya percuma. Tidak usah sudah," kata Kepala Dinas Kesehatan Jember dr. Olong Fajri Maulana.

Namun, para siswa ini tetap akan dipantau. Jika ada yang mengalami gejala demam seperti flu, maka Dinkes akan bertindak. "Masa inkubasinya 1-7 hari, 10 hari sudah save (aman)," kata Olong.

Para siswa yang berangkat ke Thailand adalah siswa sekolah menengah pertama dan atas yang berhasil meraih prestasi bagus, saat ujian nasional tempo hari. Ini bukan tahun pertama Dinas Pendidikan Jember memberikan kado bagi para siswa berprestasi.
Sementara itu, terkait wabah flu babi yang mulai merebak di pesantren, Dinkes sudah memerintahkahn puskesmas meningkatkan kewaspadaan. "Mobilitas santri lebih tinggi dibanding siswa sekolah biasa," kata Olong. Selain itu, para santri tak hanya berasal dari Jember, tapi juga dari luar kota. Setiap puskesmas sudah dibekali lima kotak tami flu.[bj]


Selengkapnya..

Sabtu, Agustus 01, 2009

Masyarakat Tidak Perlu Cemas Merebaknya Flu Babi


Jemberpost.com-Merebaknya flu babi yang lebih dikenal dengan sebutan flu baru tidak perlu membuat masyarakat tidak perlu panik dan takut dalam menyikapi flu yang berasal dari Mexico Amerika Latin itu. Pasalnyameski penyebaran virus flu babi ini sangat cepat melalui kontak dengan penderita, namun flu tersebut bukanlah penyakit yang mematikan layaknya demam berdarah maupun flu burung yang kerapkali membawa korban jiwa.Meski demikian masyarakat tetap harus mewaspadai kemungkinan terjangkiti flu baru ini, paling tidak masyarakat harus tetap melakukan kebiasaan pola hidup bersih.
Demikian diungkapkan oleh H.Dr.Olong Fajri Maulana, Mars Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkab Jember, diungkapkan oleh Olong flu babi ini kini telah merambah ke Indonesia dan penyebarannya diawali dari Jakarta dan Bali.Tidak menutup kemungkinan flu tersebut akan merambah ke daerah-daerah lain termasuk Jember, namun pihaknya telah mengantisipasi sejak dini kemungkinan Jember menjadi daerah penyebaran flu babi ini walau sampai saat ini belum dijumpai satupun warga Jember yang terkena flu babi itu.
Salah satu antisipasi yang dilakukan oleh Dinkes Kabupaten Jember terkait flu babi diantaranya dengan mengirim surat kepada seluruh camat, puskesmas, dan rumah sakit yang ada di Jember untuk tetap mencegah masuknya penyebaran flu babi. Menurut Olong virus flu baru gampang menular ke siapapun mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, seperti dari dahak, bersin ataupun benda-benda yang sudah terkontaminasi dengan virus tersebut seperti piring, sendok, gelas, handuk, sabun, maupun sikqat gigi yang dipakai oleh penderita flu babi ini.
Namun demikian tingkat resiko kematian dari flu babi ini relatif kecil yakni 0,5% , dari 1000 penderita flu babi ini hanya 5 orang yang meninggal dunia yang diakibatkan oleh terlambatnya penderita dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pengobatan. “Bila dibandingkan dengan flu burung tingkat kematian penderita yang mencapai 70 - 80%, dari 10 penderita flu burung 7-8 orang yang meninggal, kalau semisal di suatu wilayah yang terjangkit flu burung ini mencapai 1000 orang maka yang mengalami kematian mencapai 700 hingga 800 orang,”tukas Olong dan menyayangkan ada sebagian anggota masyarakat yang menyamakan flu babi dengan flu burung.
Dibanding demam berdarah keberadaan flu babi ini masih diatas flu babi ini yang mencapai 1%, karenanya meski flu babi bisa sembuh dengan sendirinya bergantung kondisi tubuh seseorang, tapi Dinkes Pemkab Jember tidak mau kecolongan dalam mengatasi flu babi. Bahkan ribuan obat tami flu telah di distribusikan ke seluruh rumah sakit dan puskesmas di 31 kecamatan yang ada di Jember, ratusan tenaga medis sudah disiapkan 24 jam untuk menangani pasien flu babi sesuai intruksi dari menteri kesehatan.”Jember sendiri juga melaksanakan intruksi dari menteri kesehatan, dan dinkes telah menindak lanjuti hal tersebut hingga ke tingkat kecamatan sekalipun,”kata Olong.
Adanya perkembangan baru genetik maka penularan flu babi ini bisa melalui manusia bukan lagi binatang, flu babi yang awalnya disebut mexican strain dan kini di sebut flu baru. Dengan penyebaran melalui manusia ini paling tidak membuka peluang setiap orang bisa terkena flu baru, karenanya apabila salah satu anggota keluarga terjangkiti flu babi ini hendaknya secepatnya dibawa ke rumah sakit ataupun puskesmas. Apabila masih penderita flu babi terpaksa dirawat di rumah karena kadarnya penyakitnya masih belum parah, Olong menghimbau penderita hendaknya di isolasi dalam kamar tersendiri sehingga tidak menular ke anggota keluarga yang lain.(sal)

Selengkapnya..

Ratusan Siswa SDN Mrawan Negatif Flu Babi

Jemberpost.com – Setelah membuat tegang dan risau keluarga dan masyarakat ,Ratusan siswa SDN Mrawan Kecamatan Mayang yang mulai beberapa hari terakhir ini tidak masuk sekolah karena sakit demam tinggi dan sesak nafas, ternyatatidak terserang flu babi, seperti yang dikhawatirkan sebelumnya.

Wali murid dan masyarakat sekitar boleh bernafas lega, pasalnya penyakit yang dikhawatirkan menyerang lebih dari 120 siswa mulai kelas I hingga kelas VI tersebut hanya ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) biasa bukan flu babi.

Menurut Humas Dinas Kesehatan Jember, Yumarlis SH, siswa yang sedang demam tinggi dan sesak nafas serta mual-mual tersebut terserang ISPA.

"Minimnya kesadaran kebersihan lingkungan menjadi penyebab utama terjangkitnya penyakit infeksi saluran pernafasan akut," terangnya, usai meninjau lokasi di SDN Mrawan, Sabtu (1/8/2009).

Yumarlis menambahkan, seluruh masyarakat sebaiiknya tetap menjadi kebersihan lingkungan dan makanan, agar kasus serupa tidak terjadi lagi. Hasil pemantauan Dinas Kesehatan, kebersihan lingkungan SDN Mrawan 2, masih kurang.

"Apalagi jajanan di sekitar sekolah kurang hygienis. Sehingga, virus penyebab infeksi tumbuh subur, dan menyerang anak-anak," imbuhnya.

Selain itu peran orang tua dan lingkungan juga penting untuk menjaga lingkungan dan menjaga kebersihan rumah. Pasalnya selama berkeliling ke sejumlah rumah, pegawai dari dinas kesehatan menemukan beberapa kamar anak yang berdekatan dengan kandang sapi. "Pola hidup seperti itu sudah seharusnya dirubah," tuturnya.

Selain itu lokasi MCK juga harus diatur jangan disungai atau didekat rumah tanpa saluran yang jelas. Apalagi di musim kemarau seperti ini, sungai banyak yang tercemar, sementara sumber air berkurang. [sal/bj)


Selengkapnya..

Jumat, Juli 31, 2009

Aduuuh.. Pasien Miskin Tambah Nelangsa

Jemberpost.com– Naiknya PAD 2 persen yang menggembirakan Pemkab ternyata menjadi tangisan buat si Miskin. Karena pemkab tak lagi membiayai si miskin yang tak terdata di JamkesmasBuruknya Pendataan statistik menyebabkan banyak warga yang tak terakomodir oleh Jamkesmas dan bisa dibiayai dengan Surat Keterangan Miskin sehingga kini hal tersebut tak bisa lagi dinikmati warga miskin. Direktur RSUD dr. Soebandi, dr. Yuni Ernita, hanya bisa pasrah ketika usulan PAK Rp 10 miliar untuk mencukupi kebutuhan rumah sakit yang dikelolanya dipastikan tidak diakomodir oleh Pemkab Jember.

Untuk itu pasca perubahan APBD Jember 2009 ini pasien miskin non Jamkesmas dapat diprediksi bakal tidak mendapatkan pengobatan dari pihak RSUD dr Soebandi. Pasalnya untuk mengobati dan merawat pasien miskin dari SKm atau non Jamkesmas beberapa bulan lalu saja pihaknya masih mempunyai hutan ke sejumlah penyuplai obat yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

Sehingga jika ditambah dengan pasien miskin baru RSUD dipastikan tidak mampu. "Untuk itu kami sedang berkoordinasi dengan Pemkab dan kami sudah berkirim surat," terangnya.

Sementara untuk pasien miskin yang ikut Jamkesmas sampai hari ini tidak ada masalah karena dibiayai oleh APBN. "Kalau yang dibiayai APBN tidak ada masalah, yang SKm itu yang bermasalah," imbuhnya.

Menanggapi hal ini Pemkab Jember belum bisa berkomentar banyak. Sejumlah pejabat Pemkab cenderung diam ketika dimintai komentar soal nasib RSUD. Sebelumnya Bupati Djalal hanya menghimbau kepada Kepala Desa untuk tidak mudah mengeluarkan SKM (surat keterangan miskin) bagi pasien yang bakal dirujuk ke RSUD dr Soebandi. Perlu solusi yang tepat dari Pemkab Jember agar penanganan hal tersebut dapat segera ditindaklanjuti. [sal/bj]


Selengkapnya..

Jumat, Juli 17, 2009

RSUD dr. Soebandi Terpaksa Tambah Biaya Pelayanan


Jemberpost.com,
Untuk menutupi kekurangan biaya operasional rumah sakit dr. Soebandi yang selama ini terus bertambah, direktur RS tersebut dr. Yuni Ermita memberlakukan tambahan biaya pelayanan baru sejak awal tahun ini. Biaya tambahan pelayanan tersebut hanya berlaku bagi pasien yang rawat inap diruang perawatan klas III sebesar 50 ribu, dan tarif ini jauh dibawah kententuan Menkes RI, No. 125/Menkes/II/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) tahun 2008 yang menetapkan tarif sebesar 90 ribu/hari. “Kalau dibandingkan dari ketentuan Menkes RI, tarif baru tersebut sangat jauh dibawahnya, tapi yang terpenting pelayanan di RS ini tetap bisa berjalan dengan lancar, “jelasnya.
Menurut dr. Yuni, tambahan biaya pelayanan tersebut hanya untuk menutupi kekurangan biaya operasional antara lain diperuntukkan kebutuhan makan pasien, biaya listrik, biaya cleaning service dan biaya Alat Kesehatan (Alkes) habis pakai. Dan sesuai Peraturan Daerah (Perda) yang dikeluarkan sejak tahun 90-an, tarif tersebut relatif sangat kecil yang hanya sebesar 10 ribu rupiah. “Sekarang saja, kebutuhan untuk makan dirasa cukup besar, dan dengan uang 10 ribu rupiah sangat sulit pihaknya (Rumah Sakit.red) untuk menutupi kekurangannya, “terangnya.
Dikatakan oleh dr. Yuni Ermita bahwa tambahan tarif pelayanan ini diberlakukan, agar keberadaan RS pemerintah ini tidak terus merugi, sebab untuk biaya operasionalnya sudah tidak lagi diberi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember. Dan masih menurut dokter Yuni Ermita bahwa biaya operasional RS dibebankan pada pendatapan RS itu sendiri tanpa APBD, “ujarnya.
Selain pemberlakuan tambahan biaya pelayanan untuk rawat inap di ruang perawatan kelas III, Rumah Sakit (RS) dr. Soebandi juga menambah 25% biaya laboratorium (lab) dan kenaikan biaya sebesar 25 % itu hanya cukup untuk mengganti bahan habis pakai yang digunakan oleh pasien. “Selisih kenaikan harga tersebut sangat minim sekali hanya cukup untuk ganti Alkes habis pakai, “jelasnya.
Sementara itu Kabag. Humas Pemkab Jember, Drs. Agoes Slameto berharap meski RS ini minim akan biaya, tetapi pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus tetap menjadi tujuan utama. “Sebab kesehatan merupakan salah satu program prioritas Pemkab Jember, “ujarnya.
Apalagi RS milik pemerintah ini dinilai paling lengkap peralatan medisnya, bila dibanding dengan RS lainnya yang ada di Kabupaten Jember. “Dan mengenai tarif pelayanan kesehatannya juga dirasa masih terjangkau oleh masyarakat menengah kebawah, “pungkasnya. (sal)


Selengkapnya..

Jumat, Mei 01, 2009

PT Askes Gelar Medical Check Up Gratis Untuk PNS


Jemberpost.com,
Untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya Pegawai Negeri Sipil (PNS), serta berupaya untuk mempromosikan budaya hidup sehat, PT Askes Jember memberikan pelayanan yang bersifat promotif dan preventif dengan memberikan pelayanan pengobatan dan Medical Check Up. PT Askes berharap pelayanan ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para pemegang Kartu Askes. PT Askes sendiri telah menyediakan loket pelayanan askes di semua Rumah Sakit Jember dengan tujuan untuk memudahkan bagi peserta Askes yang ingin memanfaatkan pelayanan rumah sakit dan bagi PNS yang masih aktif.
Menurut Asisten Manager PT Askes Jember, Drs. Budi Wusonoadi ketika di temui diruang kerjanya mengatakan dengan pelayanan diharapkan peserta Askes bisa memanfaatkan layanan ini dengan sebaik-baiknya sebagai rasa kepedulian PT. Askes kepada peserta yang sudah setia memanfaatkan layanan askes.
Lanjut Budi, bagi PNS Aktif, dengan usia antara 40 s/d 56 tahun bisa mendapatkan pelayanan Medical Check Up secara gratis dari PT Askes (Persero) yang dilakukan di laboratorium RSUD dr. Soebandi dan RSUD Balung mulai pukul 07.00 s/d 11. 00 WIB. Peserta hanya cukup membawa fotocopy Kartu askes 1 lembar, undangan Check Up asli dan puasa selama 12 jam sebelum Medical Check Up (MCU) dilaksanakan. “Program ini berlaku sampai pertengahan bulan Mei 2009 dengan maksimal peserta ± 3000 peserta, “jelasnya.
Dikatakan pula oleh Budi, pelayanan MCU gratis bagi PNS yang masih Aktif ini sebenarnya sudah dimulai tahun 2008 dengan jumlah peserta 2000 peserta, sedang untuk tahun 2009 ini di tambah sebanyak 3.000 peserta PNS yang masih Aktif. Akan tetapi, layanan tersebut diharapkan dimanfaatkan sebaik baiknya bagi wanita yang ingin melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi wanita, misalnya Papsemier, serta juga dapat dimanfaatkan bagi pria untuk melakukan Medical Check Up gula darah, Asam urat, rongsent, dan sebagainya.
Perlu di ketahui dalam medical Check-Up PNS tidak dikenai biaya sama sekali atau gratis sebagai bentuk pelayanan yang selama ini lebih banyak mengacu pada pelayanan kuratif dan preventif. “Pelayanan ini agar PNS yang tidak pernah menggunakan kartu Askesnya, mulai sekarang bisa digunakan pada program Medical Check Up ini, “pungkasnya (sal)



Selengkapnya..

Selasa, April 28, 2009

Tekan Jumlah Penduduk, KB Kembali Digencarkan

Jemberpost.com,
Pengendalian jumlah penduduk merupakan suatu hal yang cukup signifikan dalam pembangunan. Sebab, bila tidak ada keseimbangan antara jumlah penduduk dengan ketersedian kebutuhan primer manusia, maka tentu saja dapat menghambat proses pembangunan. Demikian dikatakan Bupati Jember, MZA Djalal,dalam sambutannya ketika membuka acara Rapat Kerja Daerah Program KB Kabupaten Jember,di Aula PB. Sudirman, Pemkab Jember.
Ia mengharapkan, dengan adanya rakerda yang dimotori oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB ini, dapat digunakan oleh instansi yang baru berdiri itu untuk lebih menunjukkan kinerja kepada masyarakat. “Dengan adanya rakerda ini, saya berharap agar kinerja Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB ini akan lebih nampak”, ungkapnya di depan kurang lebih 150 orang peserta yang terdiri dari Camat, Ketua Tim Penggerak PKK se-Kab. Jember, Kepala Puskesmas dan Kepala UPT KB se-Kab. Jember.
Berkaitan dengan program KB yang tengah dicanangkan oleh instansi itu, orang nomor satu di Jember itu mengungkapkan, kesuksesan program KB tidak hanya tanggung jawab pemerintah saja. “Lebih dari itu, kesuksesan program KB ini akan terwujud bila ada kerjasama antara pemerintah (semisal : Kepala Desa, Lurah, PLKB, dan lain sebagainya) dan masyarakat”, imbuhnya.
Bupati Djalal menegaskan, dengan adanya pertumbuhan penduduk Jember pada saat ini yang 1,9 %, tentu Jember dapat digolongkan menjadi salah satu kabupaten yang relatif tinggi pertumbuhan penduduknya. “Dengan digencarkannya kembali program KB, saya berharap agar pertumbuhan penduduk Jember dapat ditekan hingga menjadi 1,5 %”, kilahnya.
Untuk itu, katanya menandaskan, bagi para Camat beserta jajarannya, untuk mewujudkan kesadaran yang tinggi untuk memobilisasi masyarakatnya agar ikut program KB yang pada akhirnya akan berdampak pada pengendalian jumlah penduduk.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Kab. Jember, Dra. Lilik Hartini, M.Si, dalam laporannya mengatakan bahwa maksud dan tujuan diselenggarakannya rakerda ini adalah untuk menguatkan kembali komitmen antara pemerintah dan masyarakat tentang program KB, untuk meningkatkan kualitas pelayanan KB khususnya kepada keluarga miskin di daerah terjangkau dan di daerah yang tidak dapat terjangkau serta untuk mengoptimalkan program KB di tingkat desa, kota dan kelurahan yang selama ini dirasa semakin tidak populer.
Sedang menurut Kabid Supervisi KB, Dra. Sulasi Eko Nintowati, M.Si yang saat itu mewakili Kepala BKKN Propinsi menjelaskan bila pertumbuhan penduduk tidak ditekan, maka pertumbuhan kebutuhan juga akan semakin meningkat. “Dengan adanya program KB selain dapat mengendalikan laju pertumbuhan penduduk juga akan dapat mengurangi angka kematian ibu, anak dan juga dapat meningkatkan gizi keluarga”, terangnya.
Untuk Kabupaten Jember, katanya menambahkan, Pemkab masih perlu mengadakan pembinaan yang intensif tentang KB melalui instansi terkait. Selain itu, seperti diketahui, di Jember juga masih sangat kurang tenaga PLKB dikarenakan banyak yang telah pensiun.
Sementara itu menurut Sekretaris KORPRI Kab. Jember, Drs. Agoes Slameto, M.Si yang bertindak sebagai narasumber pada acara itu menjelaskan, KORPRI sebagai Tim Kerja Terpadu dalam ikut mensukseskan program KB mempunyai tugas untuk memadukan teknis operasional program KB dilingkungan pengurus dan anggota KORPRI unit Kabupaten/Kota. “Sedang fungsinya adalah menyusun rencana kegiatan program KB dilingkungan KORPRI unit Kabupaten/Kota, melakukan advokasi dan KIE program KB dan juga melaporkan perkembangan kegiatan program KB dilingkungan KORPRI unit Kabupaten/Kota kepada Tim Kerja Terpadu Propinsi dan pimpinan wilayah”, terang narasumber yang juga Kabag Humas Pemkab Jember itu.
Sedang Dr. Yuni Ermita Djatmiko, M. Kes, selaku Direktur RSD Dr. Soebandi yang juga bertindak sebagai narasumber mengatakan, pihaknya akan memberikan pelayanan kepada para peserta KB secara optimal dengan memaksimalkan akses dan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi kepada masyarakat melalui pelayanan KB di rumah sakit dan memberikan kontribusi dalam penurunan Total Fertility Rate (TFR) dengan meningkatkan cakupan pelayanan KB di rumah sakit.
Pada acara rakerda itu, ditampilkan juga perubahan logo program KB sebagai tanda digalakkannya kembali program KB sebagai salah satu bidang pembangunan. Selain itu, diserahkan pula bantuan BKKBN Propinsi berupa IUD Kit, Implant Kit dan Anastesi Kit kepada Dinas Kesehatan dan Poli KB RSD Dr. Soebandi. (sal)


Selengkapnya..

Senin, April 20, 2009

Klinik Komplementer Perlukah?

Jemberpost.com,
Pelayanan kesehatan saat ini dan masa yang akan datang akan terus dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan dan kebutuhan masyarakat tentang kesehatan, pelayanan kesehatan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan sesuai dengan harapan masyarakat.
Dengan perkembangan tekhnologi dan terapi obat-obatan, maka pembiayaan kesehatan juga meningkat. Disisi lain, tidak semua masyarakat mempunyai cukup biaya untuk dapat mengakses semua bentuk teknologi dan pelayanan kesehatan. “Masyarakat membutuhkan pelayanan kesehatan yang murah dan bermutu, terjamin keselamatan dan efektifitasnya, “demikian dikemukakan oleh dokter Bambang P. Anggono, AKp yang kesehariannya bertugas di Jember Medical Center.
Untuk itu berbagai upaya pelayanan kesehatan harus terus dilakukan salah satunya yang sekarang sudah menjadi tren adalah pengobatan dengan cara komplementer yaitu penggabungan cara pengobatan kedokteran barat (konvensional) dan kedokteran timur menjadi sinergis bagi kepentingan pasien/klien untuk memperoleh hasil yang maksimal, optimal dan terjangkau. “Di JMC ini pelayanan lebih fokus pada memadukan terapi akupunktur medik dengan terapi kedokteran konvensional, terutama dalam peresepan obat-obatan, “lanjutnya.
Lalu akupunktur. Metode tusuk jarum ini untuk mengembalikan keseimbangan metabolisme dalam tubuh. Menurut dokter Bambang, karena bersifat tenofikasi, yang efektif untuk meningkatkan tenaga dan sistem kekebalan tubuh, akupunktur dapat meredakan sensasi nyeri dan berbagai penyakit, seperti stroke, hipertensi, diabetes, obesitas, dan disfungsi ereksi. "Selain itu, akupunktur juga bisa untuk kecantikan, “dia menjelaskan.
Dokter Bambang juga menyatakan, meski fokusnya adalah pengobatan alternatif, pengobatan di poli yang dia pimpin itu berusaha memadukan pengobatan konvensional dengan non-konvensional. "Makanya lebih tepat dinamakan pengobatan komplementer, karena menggabungkan dua cara yaitu metode pengobatan modern dan tradisional, “ujarnya.
Pemanfaatan lain dari terapi komplementer menurut dokter Bambang sebagai pelengkap dalam penanganan nyeri dan perawatan estetika antara lain obesitas (kegemukan) dan skin care (keriput, kantung mata, agne dll). “Dan pengobatan di klinik komplementer sanggup untuk menurunkan 10 kg dengan tingkat keberhasilan 95%, tetapi dengan syarat pasien dapat mematuhi segala aturan diaet yang dianjurkan, “tegasnya.
Sementara itu dokter Susilo Wardhani, S, MM mengatakan bahwa Jember Medical Center telah mempunyai peralatan yang cukup representatif untuk mengangani berbagai penyakit khususnya di dalam klinik komplementer ini seperti elektron stimulator dan laser akupunktur. “Dengan alat ini akan mampu mengobati keluhan pasien yang selama ini membutuhkan perawatan, “jelasnya.
Lebih jauh menurut dokter Dhani bahwa dengan pengobatan komplementer yang menggabungkan antara pengobatan konvensional dan pengobatan alternatif sangat membantu masyarakat, karena dengan berkurangnya dosis obat yang dibutuhkan sekaligus akan mengurangi biaya yang akan dikeluarkan oleh pasien. Penanganan dengan menggunakan pengobatan komplementer akan jauh lebih murah dan dijamin keamanannya. “Harapan kami supaya pasien merasakan kepuasan dengan pelayanan yang diberikan oleh Klinik Komplementer dan bisa diterima oleh seluruh kalangan lapisan masyarakat. “harapnya.
Ada petugas kami yang professional dan kompeten dan didukung dokter spesialis dan ahli akupuntur. “Semua dilayani dengan ramah dan bersahabat, kami memberikan pelayanan komprehensif (menyeluruh), “pungkasnya. (sal)


Selengkapnya..

Sabtu, April 18, 2009

Rumah Sakit Citra Husada Diresmikan


Jemberpost.com
Rumah Sakit (RS) Citra Husada sebagai rumah sakit baru di Jember diresmikan Bupati Jember, Bupati Djalal, mengatakan, dengan berdirinya Rumah Sakit (RS) Citra Husada sebagai rumah sakit baru bukan berarti bakal menyaingi RSUD dr Soebandi yang menjadi milik Pemkab Jember. Tapi keberadaan rumah sakit baru itu justru menjadi pendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Jember.
“Saya sebagai owner rumah sakit terbesar (RSUD dr Soebandi, red) di Jember tidak merasa tersaingi dengan berdirinya RS Citra Husada. Justru saya mendukung jika di Kabupaten Jember banyak berdiri RS swasta karena tanda-tanda kemakmuran suatu daerah salah satunya adalah banyak berdirinya rumah sakit,” ungkapnya dalam sambutan peresmian Grand Opening RS Citra Husada.
Djalal mengatakan, kesehatan masyarakat di negara yang makmur dan maju seperti Singapura salah satunya ditandai adanya rumah sakit yang berjumlah banyak. Kondisi tersebut, tentunya bisa mendukung terjaganya kesehatan masyarakat, yang kian hari menjadi kebutuhan yang vital masyarakat.
“Bila di suatu daerah banyak terdapat rumah sakit, maka umur masyarakatnya akan lebih panjang. Karena jika sakit masyarakat bisa langsung melakukan perawatan kesehatan ke rumah sakit. Sehingga penyakitnya bisa lekas sembuh,” tukasnya di hadapan ratusan hadirin.
Pihaknya mengijinkan para dokter yang berstatus PNS menyambi kerja di RS swasta yang ada di Kota Tembakau itu. “Saya tidak melarang dokter-dokter saya yang bekerja di RSUD dr Soebandi menyambi kerja di RS swasta,” katanya.
Bahkan, ia mengharapkan semua rumah sakit di Jember lebih berkembang lagi. Dengan berkembangnya kualitas pelayanan dan sarana prasarana rumah sakit, akan banyak membantu pengobatan penyakit yang menjangkiti masyarakat lewat pelayanan berkualitas dan profesional, dengan disertai tingkat teknologi kedokteran yang maju.
Ia mengharapkan, pelayanan rumah sakit negeri maupun swasta di Jember tidak hanya dikhususkan untuk masyarakat Jember saja. Namun, rumah sakit tersebut juga menjadi jujukan masyarakat luar Jember berobat. “Akan lebih baik jika rumah sakit di Jember juga melayani pengobatan masyarakat luar kabupaten,” tandasnya.
Gambaran tersebut, ujarnya, telah diterapkan oleh Singapura. Di negeri itu, imbuhnya, pasien yang berobat kebanyakan berasal dari luar negeri. “Contohnya di Singapura, RS di sana tidak hanya untuk masyarakat Singapura saja, tapi juga luar Singapura. Wacana seperti itu saya harapkan juga akan terjadi di Jember, ” jelasnya.
Sementara itu Pembina dan Ketua Yayasan Citra Husada, Albert Roberty, kepada jemberpost.com mengatakan rumah sakit yang dipimpinnya bakal memberikan pelayanan yang optimal bagi para pasien. “Saya berharap pada dokter, perawat dan para pekerja supaya bekerja dengan baik dan memberikan pelayanan yang terbaik pada para pasien yang berobat ke rumah sakit ini,” tegasnya.
Oleh karenanya, lanjutnya, RS Citra Husada telah melengkapi tenaga medis dan sarana prasarana kesehatan yang cukup memadai. Rincinya, sebanyak 12 dokter spesialis, 8 dokter umum serta puluhan perawat telah siap melayani penyehatan para pasien yang berobat. “Kami sudah menyiapkan IGD yang buka 24 jam dan dijaga oleh 8 dokter umum,” imbuhnya.
Sedangkan kamar operasi yang disediakan terdiri atas kamar operasi bedah umum dan saraf serta kamar operasi mata. “Kita memiliki kamar operasi katarak tanpa jahitan. Teknologi operasi katarak ini sangat maju, di Jawa Timur baru dimiliki oleh RS di Surabaya, Malang, dan sekarang sudah ada di Jember,” paparnya.(sal)


Selengkapnya..

Rabu, April 15, 2009

Puskesmas Sumberjambe Jadi Rujukan TBC

Jemberpost.com
Kendatipun berada di pelosok Jember Utara, Puskesmas Kecamatan Sumberjambe ternyata menjadi rujukan penanganan penderita TBC dari berbagai daerah. Tak heran, bila pasiennya bukan hanya berasal dari wilayah Sumberjambe dan sekitanya saja. Bahkan, masyarakat kota dan warga Kabupaten Bondowoso kerap berobat dan merujuk ke Puskesmas tersebut.
Sudah sejak lama Sumberjambe menjadi daerah endemik TBC. Pasalnya, selain daerahnya berada di dataran tinggi, suhu udara yang dingin dan minim pencahayaan sinar matahari membuat kawasan tersebut menjadi basis penderita TBC.
”Kondisi dingin selalu linier dengan terjadinya endemik TBC. Makanya, pada awalnya pengobatan yang dilakukan terhadap para pengidap penyakit ini cukup dengan cara disinari atau dijemur di bawah terik matahari,” ungkap Kepala Puskesmas Sumberjambe, dr Abdul Ro’uf.
Tapi sekarang, kondisi telah berubah. Pengobatan tidak lagi menggunakan cara-cara konvesional dan tradisional. Obat-obatan yang digunakan untuk penderita TBC di Puskesmas tersebut sudah mendapat rekomendasi dari Wolrd Health Organization (WHO). Sehingga obat tersebut memiliki kualitas yang tinggi. ”Tapi sekarang ini pengobatan yang dilakukan di Puskesmas Sumberjambe sudah memakai obat-obatan dan dijemur pada saat pasien opname,” ujarnya.
Sebelum dinilai positif mengidap TB dan dilakukan pengobatan, penderita didiagnosis terlebih dahulu, lalu dikategorikan serta ditentukan obatnya. Pada tahap kategorisasi, pengidap dibedakan menjadi 3 macam. Kriteria pertama Bakteri Tahan Asam (BTA) positif, kedua BTA negatif rontxen positif, dan relaps atau TB kambuhan.”Ketiga kriteria itu akan menentukan jenis obat yang akan digunakan,” tuturnya.
”Pengobatan TBC ini dilakukan selama 6 bulan berturut-turut sampai dinyatakan benar-benar sembuh. Makanya, pasien diharuskan minum obat selama waktu itu,” ujarnya. Dalam 2 bulan pasien diwajibkan untuk meminum obat setiap hari, sedangkan 4 bulan terakhir durasi minumnya seminggu 2 kali.
”Jika penderita tidak mengikuti aturan minum obat, maka bakteri yang ada dalam paru-parunya akan bisa resisten terhadap obat. Karenanya aturan minum obat ini harus diikuti oleh si penderita sehingga akan lekas sembuh dari penyakitnya,” tuturnya.
Sementara itu, menurut Koordinator TBC dan Pengendali Penyakit Menular (P2M) Puskesmas Sumberjambe, Sukemi, Puskesmas tersebut telah menjadi Puskesmas rujukan mikroskopis, khususnya untuk para penderita TBC. Umumnya Puskesmas yang merujuk ke sana adalah Puskesmas Ledokombo dan Sukowono.
”Bahkan kebanyakan penderita TB yang merujuk ke Puskesmas Sumberjambe banyak berasal dari Kabupaten Bondowoso, Kelurahan Gebang, dan Kecamatan Pakusari. Kemungkinan mereka merujuk ke sini karena di sini ada pelayanan mikroskopis yang khusus menangani penderita TB,” jelasnya.
Pada tahun 2008, katanya, penderita TB yang ditangani Puskesmas itu sejumlah 96 orang, dengan kategori 73 penderita BTA positif, 5 orang BTA negatif dan 18 orang ekstra paru. ”Yang dimaksud ekstra paru ini adalah TBC yang sudah menjalar ke kulit, tulang dan kelenjar,” tengaranya.
”Kita tidak bisa memprediksi apakah jumlah penderita TBC di Sumberjambe ini menurun tiap tahunnya. Karena mobilitas penduduk berbeda. Tapi perbandingan penderita tahun 2007 dan 2008 mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Pada tahun 2007 jumlah penderitanya mencapai 108 orang lalu pada tahun 2008 menurun menjadi 96 pengidap,” paparnya.(sal)


Selengkapnya..

Jumat, April 10, 2009

Rp 1 Triliun Dana Pendidikan dan Kesehatan Gratis

Jemberpost.com – Janji Pemerintah Provinsi Jawa Timur tengah berupaya memenuhi janjinya untuk menyediakan dana pendidikan dan kesehatan gratis. Anggaran itu mencapai Rp 1,1 triliun. Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf mengatakan, Pemprov Jatim sedang mengirimkan tim khusus ke Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan. Tim ini melakukan studi banding bagaimana menerapkan sistem sekolah dan pelayanan kesehatan gratis.

Dana untuk layanan kesehatan dan sekolah gratis berasal dai APBN, APBD Jatim, dan APBD kabupaten/kota. "Jatim akan menyiapkan Rp 800 miliar untuk pendidikan dan Rp 300 miliar untuk kesehatan gratis," kata Gus Ipul..

Gus Ipul menjelaskan itu kepada warga saat meninjau persiapan TPS. Ia minta maaf, Gubernur Soekarwo tak bisa hadir ke Jember. Menurutnya, Soekarwo sedang menghitung anggaran untuk pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis tadi. [BJ/sal]


Selengkapnya..

Kamis, April 09, 2009

ONE STOP SERVICE DI JEMBER MEDICAL CENTER


Jemberpost.com,
Dalam rangka mewujudkan percepatan masyarakat Jember yang sejahtera dan terajad kesehatan yang optimal karena kesehatan merupakan kebutuhan setiap orang, maka dengan layanan kesehatan dan fasilitas yang tersedia, Jember Medical Center (JMC) siapmenerima kedatangan masyarakat di kota Jember dan sekitarnya untuk melakukan pemeriksaan kesehatannya. “Kami siap menerima masyarakat dengan layanan yang “one stop service” yaitu memberikan layanan kesehatan yang bermutu, merata, terjangkau dan efisien, “jelas dr. Susilo Wardhani, S.MM saat dikonfirmasi jemberpost.com di kantornya, jalan Gajah Mada 206 Kaliwates Jember.
Jember Medical Center (JMC) mengembangkan layanan one stop services kepada para pasiennya. Fasilitas yang tersedia sangat lengkap, mulai dari pelayanan medis spesialis, pelayanan kesehatan gigi dan mulut, pelayanan umum dan konsultasi gizi, pelayanan kedokteran komplementer dan masih banyak lagi pelayanan yang ada. "Gedung ini dilengkapi peralatan dan fasilitas modern terpadu untuk memenuhi kebutuhan banyak pasien, “ujarnya
Dalam kesempatan yang sama, dr. Dhani yang ditemui di kantornya ini juga menjelaskan bahwa seluruh fasilitas yang ada berbasis informasi teknologi (IT). Mulai dari laboratorium, farmasi, dan administrasi pasien semua online. Hal ini dilakukan untuk memberikan kemudahan pada para pasien, dimana seluruh pasien tidak perlu di transfer dari satu unit ke unit lain untuk mendapat pelayanan. “Kali ini JMC ingin memperbaiki sistem pelayanannya untuk mengembangkan one stop services bagi para pasien, jadi pasien bisa mendapatkan seluruh layanan yang dibutuhkan tanpa harus keluar dari gedung/kantor. Obat, laboratorium, rehabilitasi medik semua sudah tersedia disini, “tambah dokter Dhani
Lebih jauh dikemukakan dokter yang sudah banyak pengalaman ini, bahwa dalam mengakomodasi dan memperluas akses pelayanan kesehatan, khususnya sekmen masyarakat yang selama ini memanfaatkan fasilitas yang ada di luar Kabupaten Jember, Jember Medical Center (JMC) memberikan pelayanan medis modern yang dilengkapi dengan sarana penunjang medis, kebugaran dan kelengkapan pelayanan lain dalam satu lokasi. “Kemampuan peralatan yang modern akan mampu memberikan pelayanan yang maksimal dalam satu lokasi (tempat) di JMC, “tegasnya.
Yang lebih membanggakan lagi bahwa semua pelayanan pemeriksaan (general chek-up) kesehatan sudah tersedia disini, seperti pelayanan medis spesialis, pelayanan kesehatan gigi dan mulut, pelayanan umum dan konsultasi gizi, pelayanan kedokteran komplementer dan masih banyak lagi pelayanan yang ada, diharapkan akan mampu memberikan kepuasan pelanggan dalam memenuhi derajat kesehatannya. “Misalnya bila memerlukan pelayanan pemeriksaan laboratorium tidak perlu keluar gedung, bahkan bila perlu peningkatan kebugaran juga tidak perlu mencari pelayanan keluar gedung, “ujar dr. Dhani panggilan akrabnya sekaligus promosi.
Konsep One Stop Service (OSS) di JMC adalah salah satu solusi untuk mengurangi hilangnya kesempatan pelanggan (opprotunity loss) yang mungkin saja menyebabkan kerugian ekonomi (economic loss). “Dengan konsep ini pasien yang datang tidak perlu harus kemana-mana lagi, dan dapat dilayani di satu tempat atau area yang mudah dijangkau, “katanya.
Konsep OSS kemudian berkembang dengan berbagai pelayanan aksesori lainnya semisal, kantin/restaurant, disamping pelayanan utama/fungsional berupa poliklinik, laboratorium, apotik, dll, yang berada dalam satu area yang mudah dijangkau. “Dalam konsep OSS maka misalnya, ruang poliklinik harus berdekatan dengan laboratorium, fasilitas radiologi, serta instalasi farmasi, “pungkasnya.
Sementara itu drg. Rustin Savitri sangat menyayangkan apabila prasarana yang sangat memadai ini tidak dimanfaatkan maksimal oleh masyarakat Jember, padahal semua sarana medis yang ada dapat menghasilkan data atau rekam medik yang sangat akurat.(sal)

Selengkapnya..
Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template custom by Adiguna