Tampilkan postingan dengan label Pertanian Peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian Peternakan. Tampilkan semua postingan

Minggu, Desember 27, 2009

Bulog Jember Jamin Stok Beras Aman

Jemberpost.com,
Persediaan beras di Kabupaten Jember menjelang Natal dan tahun baru 2009 dirasa cukup, bahkan kesediaan beras hingga enam bulan kedepan tersedia dalam jumlah yang banyak sehingga masyarakat diharapkan tidak perlu resah.Stok beras menjelang akhir tahun ini di gudang Bulog Subdrive XI mencapai 23.555 ton, bahkan sepanjang tahun 2009 Bulog Subdrive Jember tidak melakukan operasi pasar mengingat selama ini tidak ada gejolak harga beras yang meningkat tajam. Bahkan realisasi pengadaan beras dan gabah sampai awal Desember 2009 telah mencapai target 100%, yakni sebanyak 88.362 ton setara beras, sedang realisasi penyaluran beras raskin 2009 juga mencapai 44.520.42 ton.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bulog Subdrive XI Jember Chairul Anwar terkait dengan ketersediaan beras di Jember di penghujung tahun 2009, bahkan tidak hanya itu saja dalam tiap tahunnya disaat puasa dan lebaran Bulog Jember selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan beras. Dengan tersedianya jumlah beras yang ada di Bulog Jember sekarang ini dinilai Chairul mampu mencukupi kebutuhan beras masyarakat hingga datangnya musim panen pada pertengahan Februari 2010, bahkan Kabupaten Jember dikenal sebagai salah satu kabupaten di Jember sebagai penghasil beras dengan kwalitas yang cukup bagus hingga mampu memenuhi kebutuhan beras diluar pulau sekalipun seperti NTB.
“Ketersediaan beras di Bulog Jember cukup melimpah bahkan dari stok yang ada di bawa ke Sumatra yang tengah mengalami defisit, mengingat di Bulog sendiri mempunyai mekanisme pengaturan logistik yang aktif. Bila suatu drive jumlah stok berasnya tidak mencukupi, maka drive tersebut bisa meminta ke drive lain untuk mengirimkan berasnya. Kalau ada kenaikan harga beras itupun relatif kecil karena dipicu oleh tingkat kebutuhan masyarakat akan beras yang cukup tinggi seperti pada saat hari besar keagamaan, biasanya pada saat lebaran dan natal masyarakat membeli beras dalam jumlah banyak melebihi dari hari biasanya baik itu untuk konsumsi keluarga maupun untuk keperluan zakat fitrah,”ungkap Chairul.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh Agung Gunawan wakil kepala Bulog Sub drive XI Jember, menurutnya stok beras yang ada di masing-masing drive termasuk di Jember juga merupakan bagian dari stok nasional. Harga beras yang ada dipasaran dinilai oleh Agung kenaikannya masih cukup wajar, karena kenaikannya tidak terlampau tinggi dengan harga beras yang ditetapkan oleh Bulog per Kg-nya. Selain itu tahun 2009- 2010 Bulog Subdrive Jember akan memberi perhatian khusus terkait dengan produksi beras, mengingat musim hujan yang tidak menentu menyebabkan pergeseran musim panen sehingga mempengaruhi stok beras namun tidak sampai terjadi Bulog kekurangan beras.
“Khusus untuk program beras keluarga miskin (raskin) Bulog Subdrive XI Jember dari target 44.704.080 mencapai 100%, bahkan Bulog Jember mampu melaksanakan raskin dengan baik dan tidak mempunyai tunggakan pembayaran raskin baik tunggakan tahun berjalan maupun tahun sebelumnya.Untuk bulan Desember ini saja target raskin mencapai 3.725.340 dengan realisasi target sebanyak 1.235.385, begitu pula pada bulan sebelumnya yakni Nopember dengan target yang sama dengan bulan Desember yakni3.725.340 dengan realisasi target sebanyak 4.361.505,”tandas Agung.(hms)


Selengkapnya..

Kamis, November 26, 2009

Bapemas Bantu Petani Bangun Irigasi

Jemberpost.com,
Upaya Pemkab Jember melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas) dengan mengadakan pembangunan irigasi persawahan di kawasan pedesaan sangat dirasakan manfaatnya oleh para petaniprogram stimulan irigasi desa yang sudah berlangsung sejak tahun 2006 tersebut sudah tersebar hampir merata di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Jember. Dalam tiap tahunnya Bapemas sendiri membangun 10 irigasi desa dengan dibantu dana partisipasi masyarakat, sementara dana yang dianggarkan oleh Bapemas untuk membangun satu irigasi sebesar Rp.30 juta dan sisanya berasal dari masyarakat. Untuk tahun 2009 ini irigasi yang dibangun sudah mencapai tahap penyelesaian, diantaranya terdapat di Desa Jambearum dan Cumedak (Sumberjambe), Paseban (Kencong), serta Sukorejo (Bangsalsari).
Hal tersebut dibenarkan oleh Tombak Pramudiarosa,SH.MSi Kabid SDM & TTG Bapemas Kabupaten Jember, bahwa Bapemas sendiri untuk membangun irigasi pedesaan terlebih dahulu melakukan verifikasi terhadap proposal pengajuan yang masuk. Mengingat pembangunan irigasi pedesaan ini sifatnya bukan bantuan murni pemkab, serta sesuai namamanya yakni pemberdayaan masyarakat maka diperlukan dana partisipasi masyarakat agar pembangunan irigasi tersebut bisa terlaksana. Adapun irigasi yang dibangun oleh Bapemas ini tidak berbenturan dengan program dari dinas pengairan, sebab pengerjaan irigasi dari Bapemas ini ini sifatnya bukan kontraktual tapi swakelola dengan dibantu oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dan masyarakat sendiri.
“Sejak awal program ini dilaksanakan pada tahun 2006 hingga tahun 2010 nanti, sebanyak 40 saluran irigasi persawahan di 40 desa sudah dibangun oleh Bapemas dari 240 desa di Kabupaten Jember. Agar pembangunan irigasi ini bisa merata dan bisa maka untuk desa yang sudah pernah memasukan proposal ke Bapemas diharapkan untuk tidak mengusulkan lagi, mengingat keterbatasan anggaran yang ada sehingga program irigasi ini terpaksa dilakukan secara giliran untuk tiap desa. Sebelum irigasi tersebut dibangun maka terlebih dahulu Bapemas mengadakan survei kelayakan di lapangan terlebih dahulu, seperti melihat dari dekat lokasi persawahan yang akan dibangun irigasi,”jelas Tombak, dengan dibangunnya pembangunan irigasi persawahan ini paling tidak bisa meningkatkan hasil pertanian para petani.
Untuk tahun 2009 ini program irigasi sudah dilaksanakan di delapan kecamatan, khusus di Kecamatan Sumberjambe Bapemas telah merampungkan dua bangunan irigasi yakni di Desa Jambearum dan Desa Cumedak. Mengingat kedua desa tersebut letaknya sangat terpencil, sehingga dipandang perlu dan mendesak untuk dibuatkan sarana irigasi untuk mengairi persawahan di desa tersebut. Bapemas sendiri berharap pada tahun depan semakin banyak desa di wilayah Kabupaten Jember yang tersentuh dengan program ini, diakui selama ini masih banyak desa yang butuh irigasi persawahan. Sedang panjang, tinggi dan diameter irigasi tersebut bergantung dari kondisi persawahan yang ada, untuk penggarapan satu irigasi ini ditargetkan oleh Bapemas rampung dalam waktu dua bulan.
Tombak berharap dengan adanya irigasi baru yang dibangun oleh Bapemas dan dana partisipasi masyarakat di wilayah pedesaan, masyarakat hendaknya ikut merawat irigasi tersebut dan dipergunakan sebagaimana mestinya untuk kepentingan mengairi sawah. Meski pembuatan irigasi ini cukup singkat yakni dalam jangka waktu dua bulan, namun kekuatan irigasi tersebut tidak perlu diragukan dan bisa bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Anwar salah seorang petani di Desa Wirowongso Kecamatan Ajung merasa terbantu dengan adanya program Bapemas tersebut, hal itu juga dirasakan oleh ratusan petani lainnya di berbagai kecamatan di Kabupaten Jember yang saat ini desanya sudah dibangun irigasi persawahan dan mampu mengairi puluhan ribu hektar sawah.(sal)


Selengkapnya..

Minggu, November 15, 2009

Optimalkan Panenan Jeruk

Jemberpost.com,
Langkah serius diambil oleh Dinas pertanian untuk mendongkrak jumlah panenan jeruk, di Jember sendiri ada 5 kecamatan penghasil jeruk diantaranya Kecamatan Umbulsari, Semboro, Sumberbaru, Jombang, dan Gumukmas. Salah satunya dengan mendirikan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT), untuk tanaman holtikultura khususnya tanaman jeruk. SLPHT yang merupakan program departemen pertanian pusat didanai melalui APBN 2009 senila Rp.50 Juta tersebut di Kabupaten Jember ditempatkan di Desa Sumber Agung Kecamatan Semboro.Dengan menunjuk kelompok tani Sido Makmur yang beranggotakan 25 orang dengan luas lahan jeruk siam yang dimiliki 24 hektar, SLPHT tersebut sangat diminati oleh petani dan merupakan wahana pembelajaran di lapangan kepada petani khususnya tanaman jeruk.
Dipilihnya Kecamatan Sumberbaru sebagai tempat dilaksanakannya SLPHT karena selama ini di kecamatan tersebut belum pernah di sentuh dengan program semacam SLPHT ini, dibanding dengan kecamatan penghasil jeruk lainnya seperti Umbulsari yang sudah terlebih dahulu menerapkan SLPHT. Program ini sendiri rencananya berlangsung selama 3 bulan dan sudah dimulai bulan Oktober lalu, dengan memiliki jadwal pertemuan 12 kali itu yakni setiap Selasa pagi hingga jam 1 siang tersebut para peserta diberi materi teori (25%) dan praktek (30%). Para petani di Kecamatan Sumberbaru yang tergabung di SLPHT tersebut, rata-rata memiliki tanaman jeruk siam usia produktif yakni 3-5 tahun dengan harapan SLPHT ini bisa membantu meningkatkan jumlah panenan.
Ir. Imam Mujiono Kasi Perlindungan Tanaman Holtikultura Dinas Pertanian Pemkab Jember mengatakan, kwalitas jeruk yang ada di Kecamatan Sumberbaru ini tidak jauh beda dengan jeruk dari Kecamatan Umbulsari maupun Semboro. Dengan dibudidayakannya jeruk di Kecamatan Sumberbaru ini diharapkan Kabupaten Jember bisa menjadi sentra tanaman jeruk di Jawa Timur, keinginan tersebut tidaklah berlebihan mengingat selama musim panen jeruk di Jember bisa mencapai ratusan ton. Lambat laun jeruk dari empat kecamatan yang ada di Kabupaten Jember tersebut sudah banyak diminati oleh warga Jember sendiri, bahkan jeruk made in Jember ini sudah menembus pasaran kota besar di Indonesia seperti Semarang, Yogya dan Jakarta setiap tahunnya.
“Adanya SLPHT ini petani jeruk di Sumberbaru sangat diuntungkan sekali, karena sekolah lapang bertujuan mengamankan tanaman jeruk dari hama penyakit, perbaikan kwalitas serta mengurangi residu (racun) pada jeruk. Selain itu dengan SLPHT paling tidak mereka menjadi tahu bagaimana menanam jeruk dengan baik. Mulai dari lubang tanam, pemilihan bibit yang berkwalitas, pemeliharaan tanaman jeruk jeruk yang benar, hingga pasca panen.Untuk mendapatkan hasil panenan jeruk yang bagus tidak terlepas dari pemilihan bibit itu sendiri, tentunya harus dari bibit yang unggul dan berstifikat. Dimbangi juga dengan teknologi yang benar baik itu saat pemupukan, pemangkasan, dan penjarangan buah, apabila itu sudah dilakukan oleh para petani jeruk maka akan mendapatkan hasil panenan yang berkwalitas pula,”tukas Imam.
Sementara itu dari data yang ada di Dinas Pertanian Pemkab Jember jumlah keseluruhan tanaman jeruk di Kabupaten Jember mencapai 7000 pohon, sebagian diantaranya masih dijumpai benih yang tidak bersertifikat. Dinas pertanian sendiri mengakui jumlah panenan jeruk di Jember masih dirasa kurang dari cukup, sebab untuk bisa menawarkan jeruk Jember ini ke pihak swasta yakni produsen minuman jeruk pabrikan seperti nutrisari dibutuhkan lebih banyak lagi jeruk yang berkwalitas. “Dinas pertanian terus mencari terobosan untuk meningkatkan jumlah panenan jeruk di Jember, salah satunya dengan mengajak para petani untuk mengikuti SLPHT untuk bisa menghasilkan jeruk yang bermutu. Jeruk sendiri banyak dikonsumsi oleh masyarakat sebagai buah segar, karena selain harga jeruk terjangkau oleh masyarakat juga banyak mengandung vitamin c yang diperlukan oleh tubuh untuk kekebalan penyakit,”imbuh Imam.(sal)


Selengkapnya..

Kamis, Oktober 29, 2009

Sapi Hasil Kawin Suntik Lebih Diminati Peternak


Jemberpost.com- Puluhan ekor sapi dan kambing jenis etawa hasil kawin suntik atau inseminasi buatan (IB) yang dipamerkan di lapangan Desa Karang Duren Kecamatan Balung saat pelaksanaan dialog solutif bedah potensi desa, banyak menarik perhatian mereka yang datang di acara tersebut, pasalnya sapi tersebut memilki bentuk fisik berbeda dengan sapi pada umumnya dan juga harga jualnya cukup tinggi. Sapi unggulan yang ada di Desa Karang Duren tersebut bobotnya bisa mencapai lebih dari 1 ton , perlakuan terhadap sapi yang besarnya mirip banteng itupun juga sedikit berbeda. Sapi IB tersebut oleh para pemiliknya juga kerapkali dikontrol kesehatannya, sebulan sekali sapi yang jenisnya mirip sapi brahmana itu diberi suntikan vitamin untuk menjaga stamina agar tetap prima dan tahan terhadap serangan penyakit.
Ramlan salah seorang peternak warga Dusun Krajan Desa Karang Duren Kecamatan Balung membenarkan hal tersebut, bahkan dirinya tidak pernah mengikutkan sapi yang dipunyai untuk kawin suntik. Sapi umur 25 bulan itu justu dari hasil dari kawin suntik dan dibelinya sejak baru dilahirkan dari induknya, mengingat jenisnya termasuk kwalitas unggul maka perkembangannya cukup pesat bila dibanding sapi biasa. Selain Desa Karang Duren masyarakatnya kebanyakan berprofesi sebagai petani juga banyak menjadi peternak sapi, jadi tidak heran bila di desa tersebut pemilik sapi hasil kawin suntik jumlahnya mencapai ratusan orang. Mengingat prospek sapi ini kedepan cukup bagus seiring dengan stabilnya harga dipasaran, bisa jadi kelak Desa Karang Duren menjadi sentra ternak sapi.
“Sapi hasil kawin suntik ini hanya diambil dagingnya bukan untuk kepentingan membajak sawah karena tidak tahan panas ketika sapi tersebut sudah mencapai ukuran maksimal terpaksa dijual oleh pemiliknya. Harga satu ekor sapi semacam ini bisa mencapai lebih dari puluhan juta, sapi saya ini sudah ada ada yang menawar Rp.25 juta tapi harga segitu masih belum sesuai. Biasanya para peternak sapi kawin suntik di Desa Karang Duren ini akan melepas sapinya ke tangan pembeli kalau sudah mencapai umur 4 tahun, mengingat pada usia tersebut harga sapi akan lebih mahal lagi dan ukuran badannya bisa semakin besar. Meski perawatan sapi kawin suntik ini tidak terlalu rumit, adakalanya sapi juga perlu diberi makanan tambahan seperti ampas tahu dan dedak,”tukas Rahman.
Sementara itu Ir. Dalhar Kepala Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan (Disnakkan) Kabupaten Jember mengatakan, sapi kawin suntik ini adalah program nasional dalam rangka swasembada daging pada tahun 2010. Di Kabupaten Jember sendiri program IB ini sudah dilaksanakan hampir merata di 31 kecamatan, dengan memiliki tukang suntik atau iseminator sebanyak 67 orang dengan asumsi satu kecamatan dilayani oleh 2 orang tukang suntik. Sejalan dengan program swasembada daging tersebut maka paling tidak pada tahun 2010 nanti terdapat 1 juta kelahiran anak sapi, di Jember sendiri saat ini hampir semua sapi yang ada sudah dilaksanakan kawin suntik. Jumlah sapi di Kabupaten Jember sekarang ini mencapai 200 ribu ekor,diharapkan pada tahun 2010 terdapat 80 ribu ekor anak sapi yang lahir.
“Sampai bulan Oktober ini sudah mencapai 6000 dosis IB disuntikan kepada induk sapi yang ada di Kabupaten Jember, sedang untuk mengetahui jumlah pencapain kelahiran anak sapi IB ini bisa diketahui pada akhir tahun. Dari segi rasa daging antara sapi IB dan sapi biasa mungkin tidak ada bedanya, namun hasil daging yang dihasilkan sapi IB ini bisa sampai 140 Kg hingga 160 Kg per ekor bila dibanding dengan sapi biasa yang hanya 100 Kg sampai maksimal 110 Kg per ekornya.Terhadap sapi yang sudah berusia enam tahun lebih disnakkan melakukan peremajaan, mengingat sapi seumuran tersebut sudah dianggap terlalu tua dan dagingnya kurang enak untuk dikomsumsi selain juga sudah tidak mampu bereproduksi.”jelas Dalhar.
Sapi IB di Kabupaten Jember banyak dijumpai di wilayah selatan mulai dari Kecamatan Ambulu hingga Kecamatan Gumukmas, selain itu di wilayah utara mulai Kecamatan Sumberjambe sampai Kecamatan Silo sudah dilaksanakan juga program IB namun tidak sebanyak di wilayah selatan. Adanya perbedaan jumlah IB sendiri dikarenakan di wilayah utara secara geografis merupakan daerah perkebunanan sehingga banyak dibudidayakan sapi kereman, sedang di wilayah selatan memang merupakan daerah pertanian dan sangat mendukung dilaksanakannya program IB. Khusus di Kecamatan Balung jumlah sapi yang sudah mengikuti IB sebanyak 7000 ekor, selain itu di kecamatan tersebut masyarakat banyak yang sudah menerapkan IB ini pada kambing jenis etawa.(sal)


Selengkapnya..

Selasa, Agustus 25, 2009

Petani Ikuti Sekolah SLPTT di Curah Lele Balung


Jemberpost.com-Apa yang terbayang dibenak kita bila para petani ikut sekolah, tentu paling tidak terlintas dalam pemikiran bahwa sekolah tersebut seperti sekolah pada umumnya.Namanya juga sekolah lapang jadi tempatnya tidak di dalam gedung bahkan bisa dipinggir sawah sekalipun, uniknya sekolah tersebut dalam setahun hanya berjalan satu musim, materi yang diberikan pun seputar persoalan pertanian yang dihadapi para petani.
Teras rumah Haji Samsudin yang terletak di Desa Curah Lele Kecamatan Balung pagi itu Kamis (20/8) tampak dipenuhi oleh para petani, keberadaan para petani di rumah tersebut bukan tanpa satu tujuan apapun. Para petani tersebut ternyata sedang mengikuti Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT), sekolah bagi para petani tersebut merupakan bentukan dari departemen pertanian pusat. Di Kabupaten Jember sendiri SLPTT tersebar di berbagai kecamatan sesuai dengan potensi pertanian yang ada, di Kecamatan Balung sekolah petani tidak hanya dijumpai di Curah Lele saja. Di Desa Balung Lor bisa ditemui SLPTT serupa dengan potensi pertanian padi, di Desa Karang Duren dan Tutul SLPTT ini memfokuskan pada hasil pertanian jagung sedang di Desa Curah Lele menggarap permasalahan tanaman kedelai.
Dengan didampingi penyuluh lapangan (PPL) dari dinas pertanian kabupaten serta penyuluh pendamping tenaga harian lepas-tenaga bantu penyuluh pertanian (THL-TB PP) sebagai instruktur sekolah pertanian yang hanya berjalan semusim tersebut ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi para petani. Selain untuk menambah wawasan dibidang pertanian, mereka para petani bisa berdiskusi memecahkan permasalahan pertanian dengan tujuan untuk meningkatkan hasil pertanian. Langkah yang dilakukan oleh departemen pertanian ini ternyata cukup jitu dan efektif, pasalnya terbukti para petani setelah mengikuti sekolah lapang tersebut mengaku kalau hasil panennya cenderung meningkat dibanding sebelum bergabung di SLPTT.
Hal ini seperti yang dirasakan oleh kelompok tani Kurnia Jaya Desa Curah Lele Kecamatan Balung yang beranggotakan 135 orang, kelompok tani yang berdiri sejak tahun 1984 itu para anggotanya sudah mengikuti sekolah semacam ini sejak 2005.Untuk tahun 2009 ini menurut Samsudin yang juga sebagai ketua kelompok tani Kurnia Jaya itu , ada 30 orang anggota kelompoknya yang mengikuti sekolah pertanian yang diselenggarakan setiap kamis pagi hingga berakhir sekitar pukul ll siang itu. Mengingat kerbatasan jumlah peserta sekolah pertanian dalam tiap tahunnya, maka Samsudin mengikutkan anggota kelompok taninya secara bergiliran. Dengan demikian nantinya seluruh anggota kelompok tani Kurnia Jaya ini bisa mengikuti sekolah tersebut, mereka para peserta SLPPT selain diberi materi penyuluhan pertanian juga bisa berdiskusi sesama peserta yang lain.
Amanda Primadeswara penyuluh THL-TB PP mengatakan di SLPTT Desa Curah Lele, para petani peserta SLPTT sangat antusias dengan kegiatan tersebut. Materi yang diberikan meliputi agro ekosistem, varietas dan anatomi tanaman, mengenal hama dan musuh alami, gulma, mulsa, drainase, pengairan dan pola tanam, pemupukan, agro ekosistem tanah, perkembangan tanaman, pembuatan petak ubinan panen, serta materi panen dan pasca panen. “Para petani SLPTT ini selain mendapatkan materi teori juga ada pengamatan dan praktek di lapangan, bahkan mereka juga diharuskan mengikuti pretest tentang teknologi budidaya tani, hama dan penyakit. Diakhir SLPTT para petani sebagai evaluasi melaksanakan post test atau test akhir,”jelas Amanda.
Sementara itu Ir. Hari Wijajadi Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Pemkab Jember, menyambut positif dengan keberadaan SLPTT yang merupakan program dari departemen pertanian pusat itu. Dengan SLPTT semacam ini menurut Hari para petani semakin pintar dalam memahami pertanian, selain itu para petani bisa melakukan diskusi bersama membahas permasalahan yang ada.” SLPTT ini sebagai sarana untuk meningkatkan kwalitas sumber daya manusia (SDM) para petani dan juga meningkatkan hasil pertanian, namanya juga sekolah lapang jadi tidak di dalam kelas seperti sekolah pada umumnya. Meski hanya dipinggir sawah sekalipun SLPPT ini tetap berjalan dan banyak diminati oleh petani, persoalan pertanian mereka bahas untuk didiskusikan guna dicarikan solusinya, ungkap Hari Wijajadi. (win)


Selengkapnya..

Rabu, Juni 10, 2009

Manfaatkan Lahan Kering Sebagai Lahan Produktif

Jemberpost.com,
Dalam rangka melakukan penguatan pangan di masyarakat. TP PKK Kabupaten jember melakukan pemanfaatan pekarangan yang tidak digunakan Melalui gerakan pemanfataan pekarangan yang di lakukan oleh TP PKK kabupaten jember ini diharapkan bisa merangsang masyarakat untuk melakukan hal yang sama. Disampaikan oleh Bupati Jember, MZA Djalal, saat membuka gelar kebun karang gizi, di kelurahan Sempusari, kecamatan kaliwates bahwa pemanfaatan pekarangan terpadu dengan luas 1/4 Ha merupakan langkah terpadu bagi TP PKK untuk melakukan swasembada pangan, yang beragam, bergizi, berimbang, serta aman untuk konsumsi.
`Lebih lanjut, Djalal, mengungkapkan kebun karang gizi tersebut sebagai bentuk nyata gerakan PKK Kabupaten Jember utnuk memunculkan kreatifitas , inovasi, dengan pemanfaatan pekarangan terpadu ini,diharapkan bisa menjadi contoh bagi PKK yang lain, sehingga pada waktunya nanti kesejahteraan .masyarakat akan terangkat dengan sendirinya. Disamping karang gizi ini bisa dimanfaatkan untuk tempat rekreasi keluarga yang sehat, dan aman.
Dijelaskan pula, bahwa hal tersebut merupakan implementasi dari 10 program pokok PKK ini dapat di rasakan manfaatnya oleh semua masyarakat
Sementara itu Ketua Tim penggerak PKK Kabupaten Jember, Ny. Sri wahyuni Djalal, Pada bulan April 2009 Tim penggerak PKK telah menyelesaikan pembinaan 10 program pokok PKK di 31 kecamatan dan 248 desa/kelurahan. Dari hasil pembinaan tersebut Tim penggerak PKK mencoba melaksanakan aktualisasi 10 program pokok PKK dengan kegiatan salah satunya di bidang pangan.
Pokja 3 merupakan pelaksana penggelolaan kebun percontohan karang gizi. Dengan program karang gizi ini, diharapkan mampu memikat masyarakat yang masih banyak belum memanfaatkan lahan pekarangannya, lanjut Sri wahyuni.
Usaha pemanfaatan lahan secara terpadu.merupakan pemanfaatan lahan yang digunakan untuk tanaman varietas unggul, seperti padi, ketela pohon,disamping itu ada beberapa tanaman apotek hidup, juga sebagai lahan untuk pembudidayaan Ikan Gurami, lele dumbo, peternakan ayam arab
Oleh karena itu, lanjut Bu Djalal (sapaan akrab Sri Wahyuni), langkah kretif TP PKK ini Perlu mendaptkan dukungan semua pihak, tidak hanya sekedar pencontohan akan tetapi sekaligus sebagai salah tempat atau pusat pelatihan pemanfatan pekarangan terpadu secara utuh di kabupaten jember. Disampaikan juga agar masyarakat juga ikut serta berpartisipasi membantu dan menjaga pekarangan kebun karang gizi ini dengan sebaik baiknya sebagai akses pelatihan masyarakat yang akan bercocok tanam padi disini.
Hal senada juga disampaikan, Camat Kaliwates ,Drs. Sigit Akbari, pemanfaatan lahan ini merupakan langkah awal bagi TP PKK yang diprakarsai oleh para kader-kader PKK Kaliwates, sehingga diharapkan mayarakat bisa benar-benar memanfaatkan lahan karang gizi ini sebagai tempat paltihan nantinya. (sal)


Selengkapnya..

Rabu, Juni 03, 2009

Cabe Siap Panen Dibuldoser


Jemberpost.com,
Warga masyarakat di Desa Lojejer Kecamatan Wuluhan Jember resah. Pasalnya, lahan milik kas desa sekitar 45 hektare telah dirusak sejumlah oknum warga desa setempat yang mengaku berhak atas lahan tersebut.
Dengan kejadian itu sejumlah warga yang mengaku sebagai penyewa lahan itu merasa dirugikan, sebab tanah tersebut yang ditanami cabe, kedelai, tembakau dan kacang hijau siap panen kini tampak rata dengan tanah akibat dirusak dengan menggunakan 4 handtraktor oleh sejumlah oknum tak bertangung jawab.
Sehingga warga yang sebagian besar adalah penyewa yang merasa dirugikan oleh oknum tersebut menuntut para pelaku diproses secara hukum dan mengganti rugi kepada masyarakat desa setempat atas kerusakan tanaman mereka.
Romiati (40), salah satu korban langsung Senin kemarin melaporkan perkara ini ke polsek Wuluhan sesuai dengan Surat Laporan Polisi : K/79/VI/2009/Polsek, karena merasa menderita kerugian sebesar 10 juta dan dia menyayangkan tindakan sejumlah oknum warga desa yang melakukan pengrusakan tersebut.
Hal senada diungkapkan P. Ali (4), salah seorang warga setempat. Menurut dia, siapa pun yang telah merusak tanaman tersebut harus ditindak tegas dan mengganti semua kerusakan tanaman yang ada. "Dengan rusaknya tanaman saya ini, harapan kami untuk memanen menjadi gagal, sedangkan biaya yang saya keluarkan sudah mencapi hampir 2 juta saya sangat rugi, "ujarnya.
Menurut Kepala Desa Lojejer, M. Sholeh yang ditemui dilokasi mengatakan bahwa lahan tersebut sudah puluhan tahun menjadi lahan milik desa sebagai tanah kas desa dan tidak ada yang berani merusak dengan cara meratakan tanaman dengan tanah seperti pada saat ini, tetapi kini ternyata ada sejumlah oknum warga yang merusaknya, “ujar dia.
Dia mengatakan dari luas lahan sekitar 45 hektare itu, kini yang dirusak sudah sekitar 1,5 hektare tanaman siap panen rata dengan tanah. "Dari dulu lahan ini digarap oleh Kades sebagai tanah bengkok, karena ada peraturan baru, maka lahan tersebut sekarang menjadi milik desa sebagai tanah kas desa dan penggarapannya diserahkan kepada warga yang mau menyewanya, "ujarnya.
Masih menurut Sholeh bahwa kasus pengrusakan tersebut harus dituntut tuntas oleh pihak yang berwajib dan bagi yang terbukti melakukannya harus mengganti semua biaya kerugian yang diderita oleh warganya, “Dengan adanya pengrusakan tersebut banyak warga saya yang menderita kerugian dan harus diganti rugi, “pintanya.
Mendapat laporan itu, Polres Jember dengan tim identifikasinya langsung turun lapangan (TKP) yang didampingi oleh Kades Lojejer M. Sholeh, Camat Wuluhan Pujo, Kabag Hukum Mudjoko dan Humas Pemkab Jember.
Dari hasil identifikasi di TKP telah ditemukan barang bukti berupa tanaman tembakau, cabe dan kedelai yang telah dirusak. Dan kerusakan lahan menurut Bripka Lutfi berupa ¼ hektare tanaman lombok dan 1,1/4 hektare tembakau dan kacang hijau.
Menurutnya Lutfi tahap awal pemeriksaan masih memanggil para saksi untuk dimintai keterangannya di polres Jember dan siapa pun yang melakukan perusakan akan dituntut dan ditindak secara hukum. "Pelaku perusakan lahan tersebut dikenakan pasal 170 KUHP dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara. Kalau nanti ditemukan hasil pemeriksaan dari para saksi si pelaku langsung diproses secara hukum dan ditahan, "ujarnya.
Sampai berita ini diturunkan, para saksi masih dilakukan pemeriksaan oleh Polres Jember. (sal)


Selengkapnya..

Rabu, Mei 27, 2009

Wadul Bupati Soal Tanah Kas Desa

Jemberpost.com
Persoalan tanah kas desa Balet Baru sempat mencuat dalam Dialog Solutif Bupati Jember Bedah Potensi Desa yang digelar di Desa Sukowono Kecamatan Sukowono. Masalah tersebut terjadi karena belum tuntasnya sewa-menyewa yang dilakukan kades lama. Bahkan, persoalan tersebut sempat mengundang konflik di kalangan masyarakat.
Menurut salah seorang warga Desa Balet Baru, Ahmad, hingga kini tanah kas desa itu masih dikuasai individu, yakni penyewa tanah. Yang berakibat tanah itu tidak bisa dimanfaatkan oleh desa. Persoalan tersebut muncul lantaran mantan kades Desa Balet Baru telah menyewakan tanpa disertai ketegasan waktu penyerahan setelah habisnya batas waktu sewa.
“Sebenarnya, si penyewa telah mengetahui kalau batas akhir sewanya. Tapi tetap saja si penyewa tidak mau melepaskannya. Meskipun tahu batas akhir penyewaannya pada tahun 2007,” katanya pada Bupati Jember.
Karena, si penyewa tanah dari kades lama itu bersi kukuh tak mau melepaskannya. Maka terjadi konflik yang berujung pada pemukulan oleh si penyewa tanah terhadap masyarakat desa tersebut. “Walaupun terjadi pemukulan di hadapan Muspika, tapi orang tersebut tidak ditindak tegas oleh aparat,” tuturnya.
Untuk itu, dalam pertemuan langsung dengan Bupati Jember, pihaknya bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan tokoh masyarakat meminta petunjuk dan kebijakan Bupati Jember guna menyelesaian persoalan tanah yang berlarut-larut itu. “Kami memohon pada Bapak Bupati solusinya, bagaimana tanah kas desa itu bisa dikuasai kembali oleh masyarakat,” tandasnya.
Selain itu, masyarakat mengusulkan supaya tanah kas desa itu disertifikatkan sekaligus di-Perdeskan. Harapannya, kepemilikan tanah tersebut bakal memiliki kekuatan hukum yang pasti. “Kami minta tanah itu disertifikatkan supaya memiliki kejelasan hukum yang pasti,” terangnya.
Menanggapi hal tersebut Bupati Jember, MZA Djalal menyerahkan masalah tersebut pada Asisten II supaya segera dicarikan jalan keluarnya. Dengan harapan, masyarakat tidak lagi saling bertengkar. Ia mengatakan, setiap persoalan harus diselesaikan dengan musyawarah.
Sementara itu, Asisten II Pemkab Jember, Hasi Madani, mengatakan, sangat prihatin atas persoalan tanah kas desa yang berujung pada konflik itu. “Tolong masyarakat menghormati para penegak hukum, dan jangan main hakim sendiri. Kalau itu memang tanah kas desa, tolong jangan dimiliki dan hendaknya diselesaikan berdasar pada ketentuan yang ada,” tukasnya.
Dalam proses penyelesaiannya, Hasi telah berkoordinasi dengan kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Jember, kepala desa dan BPD. “Kades bersama BPD akan segera mengusulkan penyelesaiannya. Selain itu, kami sudah berkoordinasi dengan BPN untuk memprosesnya sesuai dengan prosedur yang ada,” tegasnya.(sal)


Selengkapnya..

Senin, Mei 25, 2009

Pameran Bonsai Nasional Digelar

Jemberpost.com
Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia bekerjasama dengan Dinas PU Cipta Karya Jember mengadakan Pameran Nasional Bonsai dan Suiseki pada tanggal 24 s/d 31 Mei 2009 bertempat di Halaman Gedung Serba Guna Kaliwates Jember. Pameran tersebut dibuka oleh Bupati Jember MZA Djalal dan dihadiri oleh unsur Muspida, para Kepala SKPD, Camat, para Pengurus Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI). PPSI, HPPA dan PPTI serta para pecinta bonsai, tanaman hias dan suiseki Indonesia.
Bupati Djalal dalam sambutannya mengatakan pameran yang diselenggarakan mengawali pelaksanaan Bulan Berkunjung Ke Jember tahun ini akan memacu gerak perekonomian masyarakat utamanya para penggemar bunga bonsai, suiseki dan tanaman hias. “Semoga dari kontes dan pameran kali ini akan muncul juara-juara yang dapat bersaing secara nasional maupun internasional, “harapnya.
Dan kepada Pengurus Perkumpulan Bonsai Indonesia (PPBI), Djalal minta untuk selalu mengadakan pembinaan yang lebih intensif kepada para anggotanya, agar kualitas tanaman bonsai yang ada lebih bagus dan mampu bersaing secara baik. “Karena untuk merawat tanaman bonsai dan sejenisnya diperlukan keahlian dan ketrampilan tersendiri agar tanaman tersebut baik dan terawat, “jelasnya.
Menurut Jongky B Sulistio (Sekretaris PPBI), pameran kali ini selain dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT ke-64 RI juga untuk menunjang program pemerintah dibidang pariwisata,seni, budaya, lingkungan hidup dan penghijauan serta ekonomi, khususnya para pedagang, petani bonsai dan tanaman hias. “semoga Pameran seperti ini dijadikan tradisi untuk tahun-tahun berikutnya dan untuk meningkatkan kualitas tanaman bonsai, suiseki dan tanaman hias lainnya, “harap Sekjen PPBI.
Lebih jauh dikatakan bahwa bonsai dan suiseki merupakan salah satu aspek kreatif yang dikelompokkan dalam Pasar Seni dan barang Antik, dimana Indonesia dalam karya kreativitas seni bonsai dan suiseki masuk peringkat tiga besar setelah Jepang dan Taiwan. “Kelompok industri bonsai merupakan salah satu cara untuk mengkampanyekan penghijauan dalam menahan laju global warning, “ungkapnya.
Sementara itu Kepala DPU Cipta Karya Jember, Ir. Merwin pada jemberpost.com mengatakan bahwa peserta 33 Kabupaten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura dan Bali. Dan jenis Bonsai sebanyak 311 pot, Suiseki sebanyak 93 pot, Adenium 87 pot dan tanaman hias sebanyak 120 pot yang akan menempati 36 stand pameran.
Sedangkan hadiah berupa uang pembinaan untuk 10 besar bonsai, 10 besar Suiseki dan juara I, II dan III untuk 8 kelas Adenium. Dan masih juga disediakan grand prize berupa 1 (satu) unit sepeda motor Yamaha, 4 buah televisi, 15 kipas angin dan 12 jam dinding.
Dalam pameran yang akan berakhir tanggal 31 Mei mendatang ini, tanaman hias berupa puring yang dulu merupakan tanaman penghias kuburan dan emper jalan mulai unjuk gigi. Sebab menurut Thoyib peserta dari Ambulu ini bahwa tanaman puring tahan banting dengan segala cuaca, tanaman daun ini juga memiliki citra bangsa sebagai tanaman asli Indonesia.
Dikatakan bahwa peminat Puring mulai banyak. Terlebih dengan seringnya diadakan kontes-kontes Puring di beberapa daerah. “Saya rasa Puring akan menjadi salah satu tanaman hias yang bakal punya gengsi nantinya, “yakinnya.
“Puring itu tanaman asli Indonesia. Dulu memang kurang memiliki nama karena masih sebatas tanaman biasa. Tapi sekarang banyak sekali muncul varian-varian baru yang ditemukan oleh para pecinta Puring,” lanjut pecinta tanaman ini.
Banyak pecinta Puring yang berhasil menemukan varian baru dengan teknik penyilangan yang menghasilkan warna daun yang lebih menarik dan cantik, tambah Thoyib. (sal)


Selengkapnya..

Lahan Semangka Dikembangkan

Jemberpost.com
Setelah melihat keberhasilan panen semangka di lahan kering (tegalan) seluas 6 hektar. Petani semangka Desa Jambearum bakal menambah luasan lahan semangka mencapai 50 hektar. Langkah yang cukup berani itu ditempuh, lantaran para tengkulak siap menadah hasil panen di daerah tersebut.
Petani semangka Desa Jambearum Kecamatan Sumberjambe, Amiruddin, mengatakan, hasil panen perdana semangka yang ditanam di tegalan ditaksir mencapai tingkat pendapatan sebesar Rp 200 juta. Oleh karenanya, ia optimis pengembangan semangka di kawasan Sumberjambe tidak akan kalah dengan produksi semangka di daerah Jember Selatan.
Sebelum pengembangan semangka ditanam di lahan kering, ia telah menekuni penanaman buah tersebut di lahan basah (sawah). Dikarenakan hasil panen yang tidak sebanding dengan modal produksi, karena sewa lahan yang terlalu mahal, akhirnya alternatif menanam semangka di ladang atau tegalan pun ditempunya.
“Budidaya semangka di lahan basah selama 10 tahun sudah saya tekuni. Tapi karena sewa tanahnya meningkat setiap tahunnya, akhirnya saya mencoba untuk menanam semangka di tanah ladang dengan biaya sewa cukup rendah per tahunnya. Dan, tahun ini saya merasakan menanam semangka di lahan kering cukup signifikan keuntungannya,” tuturnya pada jemberpost.com.
Setidaknya, awal tahun 2009, penanaman semangka di ladang telah dimulainya. Ternyata hasilnya sangat menguntungkan. Berangkat dari pengalaman itu, ketua Kelompok Tani (Poktan) Tani Setia ini berharap tahun depan akan bisa menanam semangka pada luas lahan sekitar 50 hektar.
“Saya akan berusaha mengajak kelompok tani lainnya untuk mengembangkan buah semangka di Sumberjambe. Rencananya akan dikembangkan sekitar 50 hektar di lahan kering,” ujarnya. Karena buah tersebut ditanam di ladang yang sulit pengairannya, maka ia memulai menanam semangka pada Musim Hujan (MH) II, yakni sekitar akhir Februari. “Kita memulai tanam semangka pada akhir musim penghujan sampai mendekati musim kemarau,” ujarnya.
Wakil Ketua KTNA Kecamatan Sumberjambe ini, mengungkapkan, masalah pemasaran hasil produksi pihaknya tidak merasa khawatir. Soalnya, sudah ada tengkulak yang bersedia membeli hasil panennya. “Tengkulak ini siap membeli semangka para petani dengan kapasitas 30 ton per harinya,” katanya, dalam kegiatan panen semangka perdana di lahan kering di Dusun Pace Desa Jambearum Kecamatan Sumberjambe, beberapa waktu lalu.
Amiruddin menyatakan, sharing selama penanaman juga dilakukan dengan pedagang. Sharing itu berupa bantuan plastik dan benih semangka. “Untuk modal kita sharing dengan tengkulak dalam bentuk bantuan benih dan plastik. Dengan konsekuensi setelah panen semangka harus dijual pada tengkulak tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Ketahanan Pangan (Disperta) Kabupaten Jember, Hari Widjajadi, mengatakan, bila selama ini komoditas semangka lebih banyak dikembangkan di kawasan Jember Selatan seperti Kecamatan Puger, Wuluhan, Ambulu, Jenggawa dan Kencong. Maka, ke depan semangka bakal dikembangkan pula di kawasan Jember Utara. “Sekarang Desa Jambearum sudah memulai untuk mengembangkan semangka di lahan kering, ini adalah awalan yang cukup bagus,” utaranya.
Hanya saja, perbedaan kedua kawasan itu berada pada sistem pengairan. Jika di daerah selatan sistem irigasi cukup mudah karena disuplai lewat sungai, maka di daerah Jember Utara pengairan penanaman semangka di lahan kering sangat bergantung pada turunnya hujan. “Di Jember Utara penanaman semangka dilakukan di sawah tadah hujan, karena ditanam di tegalan,” tandasnya.
Oleh karenanya, untuk mempermudah para petani guna mengembangkan budidaya semangka di kawasan tersebut, Disperta bersama para petani dalam waktu dekat akan menyusun Standar Prosedur Operasional (SPO) budidaya semangka. “Dengan demikian keunggulan dan kualitas hasil panen semangka Jember Utara bisa disamakan,” jelasnya.
Selain itu, Hari menerangkan, perlunya kerjasama antara para petani dengan pedagang. Karena produksi pertanian tidak terlepas dari pemasaran hasil-hasil pertanian. “Petani itu harus menguasai pasar. Oleh karena itu, peranan pedagang tidak bisa kita lepas, dan harus ada ikatan yang baik antara pedagang dan petani,” tegasnya.(sal)


Selengkapnya..

Kamis, Mei 14, 2009

Petani Protes Sengonisasi

Jemberpost.com – Sejumlah kelompok tani di kecamatan Patrang memprotes keras kepada pemilik lahan persawahan yang disewakan kepada pihak ketiga untuk ditanami sengon.
"Kami minta kepada Dinas Pertanian untuk melindungi petani, jangan sampai dibiarkan sawah-sawah itu ditanami sengon, Karena sangat merugikan tetangganya,” ujar salah satu ketua kelompok tani dari kelurahan Slawu, Hendayani, pada dialog temu lapang di kelurahan Slawu, siang ini.

Menurut Hendayani, akibat penanaman sengon dilahan persawahan maka, hasil produksi tanaman padi disekitar areal sengon menjadi jelek. Hal senada juga dilontarkan, H. Hasbullah, petani Jumerto.

Menurutnya, sinar matahri tidak bias masuk kea real persawahan yang ditanami padi karena terhalang oleh sengon. Dan kondisi seperti itu berjalan bertahun-tahun hingga sengon ditebang.

"Petani sekitar harus menanggung kerugian selama bertahun-tahun,” ujarnya. Menurutnya dan sejumlah kelompok tani lain, petani tidak bakal keberatan jika tanaman sengon dilakukan diladang atau lahan kritis lain.

Ditambahkannya jika lahan kritis atau diladang tidak ada masalah dan mempersilahkannya saja, tetapi kalu dipersawahan kami sangat kecewa dan dirugikan.

Menanggapi berbagai protes tersebut, Kepala DInas Pertanian Tanaman Pangan Jember, Ir. Harry Widjayadi, yang sengaja hadir dalam acara tersebut langsung merespon dengan cepat.

Harry meredam emosi petani dengan memintanya untuk lebih bersabar. Selain itu Harry juga minta pada pihak kecamatan untuk menagtur soal penanaman tersebut sehingga tidak mengurangi keuntungan petani.

"Alhamdulillah tadi pak Sekcam Patrang sudah menyerap semua aspirasi tersebut, dan rencananya bakal disampaikan ke Camat untuk ditindaklanjuti," ujarnya.

Sementara Sekcam Patrang, A. Rachman, belum bisa memberikan keterangan pasti. Pihaknya masih melakukan pendataan dimana saja tanaman sengon yang dimaksudkan warga tersebut. Baru setelah itu bakal mengambil kebijakan yang tidak merugikan salah satu pihak. [sal/bj]

Selengkapnya..

Kamis, Mei 07, 2009

Semangka Sumberjambe Hasilkan Rp 200 Juta


Jemberpost.com
Kendatipun ditanam di dataran tinggi, ternyata budidaya semangka cukup menjanjikan, bahkan mampu menghasilkan kualitas cukup memuaskan. Hal tersebut dibuktikanoleh Kelompok Tani (Poktan) Tani Setia. Hanya dengan memanfaatkan ladang kering seluas 6 hektar, kini Poktan tersebut bisa mendapatkan hasil produksi buah semangka sekitar Rp 200 juta dalam satu kali musim tanam.
Poktan yang menjadi binaan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Ketahanan Pangan (Disperta) ini, setidaknya sudah menekuni budidaya buah semangka sekitar 10 tahun. Tak heran, buah dari ketekunan itu telah menghantarkan petani semangka pada tingkat kemakmuran yang cukup berarti.
Kepala Disperta Kabupaten Jember, Hari Widjajadi, mengatakan, ide budidaya buah semangka di lahan kering baru saja dimulai di Dusun Pace Desa Jambearum Kecamatan Sumberjambe, ternyata memiliki prospek pertanian yang menguntungkan bagi petani. Kendati selama ini Sumberjambe lebih dikenal dengan budidaya duriannya.
“Ide pengembangan semangka di lahan kering ini murni dari petani Sumberjambe,” katanya. Ia mengatakan, secara konvensional lahan kering (ladang) di Dusun Pace ditanami para petani dengan tanaman palawija, semisal ketela pohon dan jagung, ataupun tanaman keras seperti buah durian dan sengon.
“Tapi sekarang hortikultura ternyata bisa dikembangkan di tanah tegalan,” ungkapnya. Yang tentunya memiliki nilai ekonimis yang cukup tinggi bagi petani Sumberjambe, dibandingkan budidaya palawija yang sejauh ini banyak ditekuni oleh petani di daerah tersebut.
Pihaknya mengatakan, buah semangka di Jember umumnya dikembangkan di kawasan Jember Selatan. Sebaran budidayanya berada di Kecamatan Puger, Wuluhan, Ambulu, Jenggawah dan beberapa wilayah lainnya. “Pengembangan semangka di Sumberjambe satu-satunya baru dilakukan di Dusun Pace,” ujarnya.
Dengan begitu, fenomena tersebut telah membuktikan mulai terjadinya perubahan cara berpikir petani terhadap pemanfaatan tanah ladang. Masyarakat mulai melihat, bahwa tanaman semangka bisa juga dikembangka walau hanya mengandalkan pengairan dengan sistem sawah tadah hujan.
Dalam kesempatan itu, Hari juga meresmikan panen perdana semangka yang dikembangkan di ladang. Yang dihadiri oleh anggota Poktan Tani Setia dan Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Sumberjambe. Dalam kesempatan itu, digelar pula sekolah lapang bagi para petani yang membahas seluk-beluk budidaya buah semangka.
Sementara itu, menurut ketua Poktan Tani Setia, Amiruddin, budidaya buah semangka di lahan kering atau daerah tegalan baru dilakukan pada tahun ini. Sebelumnya, penanaman buah itu dibudidayakan di lahan basah atau areal persawahan. “Penanaman buah semangka di lahan kering baru kita mulai tahun ini, sebelumnya kita menanam semangka di lahan persawahan,” jelasnya.
Ia menerangkan, lantaran harga sewa lahan persawahan cukup mahal, akhirnya ide untuk menanam buah tersebut di lahan kering pun muncul. “Kami menilai penanaman semangka di lahan basah harga sewanya sangat mahal, sehingga perhitungan biaya produksi sangat besar dan prosentase keuntungannya sangat kecil,” imuhnya.
“Karena pemilik sawah melihat bahwa hasil produksi semangka ini cukup besar, mereka pun menaikkan sewa tanahnya. Hal itu mengurangi keuntungan petani semangka. Makanya, tahun ini kita mencoba menanamnya di tegalan. Ternyata selain sewa tanahnya murah, keuntungannya juga cukup menggembirakan,” tengaranya.
Amir membandingkan, biaya sewa sawah Rp 5-6 juta per hektarnya. Sedangkan sewa lahan kering setahunnya Rp 1-2 juta per hektarnya. “Banyak ekseperimen yang sudah kita kaji bersama, ternyata menanam semangka di ladang lebih banyak keunggulannya dibandingkan di lahan basah/sawah. Lebih-lebih di Desa Jambearum lebih banyak sebaran tanah tegalannya,” tambahnya.(sal)


Selengkapnya..

Minggu, Mei 03, 2009

APTRI Segera Wujudkan Swasembada Gula

Jemberpost.com – Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) ingin mewujudkan swasembada gula nasional. Hal ini ditegaskan oleh Ketua APTRI, H Arum Sabil, disela-sela petik tebu di Tanggul, Jember bersama Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka PAngestu.

Menurutnya swasembada gula bisa diwujudkan, karena petani tebu selama ini terus berupaya meningkatkan produksinya. Berbagai upaya ditempuhnya, termasuk berusaha menciptakan atau mengembangkan bibit-bibit unggul.

"Dengan bibit unggul, nantinya produksi tebu bias maksimal dan produksi gula meningkat," ujarnya.

Jika kebutuhan gula nasional bias dipenuhi maka dapat dipastikan swasembada gula bias terwujud. Untuk saat ini menurut Mendag, Mari E Pangestu, produksi gula nasional masih berkisar 2,7 juta ton pertahunnya.

"Tahun lalu, kemungkinan besar tahun 2009 ini tak jauh beda, jadi masih jauh dari kebutuhan nasional," terangnya.

Menurutnya, kebutuhan nasional sekitar hamper 4 juta ton per tahunnya. Itupun kalau tidak ada peningkatan kebutuhan. Angka sebanyak itu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan industri makanan serta minuman.

Untuk itu pihaknya berharap petani tebu bias meningkatkan produksinya, agar kebutuhan gulan nasional bias terpenuhi dan tidak perlu lagi impor gula seperti yang terjadi selama ini. [bj]


Selengkapnya..

Rabu, April 08, 2009

Kandungan Residu Tembakau Jember Turun

Jemberpost.com
Tingkat kejenuhan kandungan residu tembakau Jember mulai menurun, lantaran petani tidak lagi menggunakan jenis pestisida yang dilarang dalam menangani hama penyakit tanaman tembakau. Dengan demikian mempengaruhi nilai positif tembakau asal Jember di pasar lelang tembakau dunia.Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Jember, Dwijo S, mengatakan, kualitas pertembakauan Jember dipengaruhi oleh proses proses tanam di kebun (on farm) dan pengolahan paska panen (off farm). “Kualitas tembakau sangat dipengaruhi oleh proses on farm dan off farm,” ungkapnya.
Pada saat on farm, katanya, petani perlu memperhatikan 4 perlakukan tanaman tembakau. Yakni, pemilihan kualitas bibit, pengolahan lahan, pemupukan dan paska panen. “Keempat hal ini perlu terus dipantai ketika petani mulai saat menanam hingga pemanenan tembakaunya,” terangnya.
Bibit unggul yang dipilih oleh petani, tentunya bakal mempengaruhi kualitas tanaman yang dipetik oleh petani. Demikian juga selama proses pemupukan. Kadar pupuk harus mengikuti standar yang sudah ditetapkan, bila terlalu banyak akan berpengaruh buruk terhadap kualitas tembakaunya. Makanya, petani harus secermat mungkin dalam menentukan jumlah pupuk yang digunakan.
Ia mengatakan, dalam penanganan hama penyakit tembakau, petani tidak disarankan menggunakan jenis pestisida tertentu yang dilarang karena akan mempengaruhi kadar residu yang menempel pada daun tembakau. Oleh sebab itu, takaran pestisida selain sesuai dengan dosis juga harus menggunakan pestisida yang telah direkomendasi dan aman digunakan.
“Meningkatnya kadar residu pada daun tembakau disebabkan oleh banyaknya jumlah pestisida yang menempel pada daun tembakau. Sebenarnya ada beberapa pestisida yang dilarang digunakan dalam menangani hama penyakit tembakau, tapi tetap saja digunakan petani. Inilah salah satu penyebab meningkatnya jumlah residu pada tembakau,” ungkapnya.
Lebih jauh, dikatakannya, tingginya kandungan residu bisa disebabkan oleh 2 hal. Pertama, hasil kiriman pestisida yang terbawa oleh angina dari tanaman yang ditanam berdekatan dengan kebun tembakau. “Kandungan pestisida yang menempel pada daun akan meningkat salah satunya, jika angina mengirim butiran-butiran pestisida pada lahan yang berdekatan dengan kebun tembakau. Meskipun petani tidak menyemprot tembakaunya dengan pestisida tapi kiriman residu bisa saja diterima dari lahan tetangga,” ujarnya.
Kedua, memang dengan sengaja petani melakukan penyemprotan lahan tembakau dengan zat pembunuh hama pengakit. Jika bahan yang digunakan beresiko terhadap daun tembakau sudah barang tentu kadar residunya akan meningkat.
Kendati begitu, lanjutnya, kadar residu pada tembakau Jember saat ini sudah mulai berkurang. “Tingkat residu tembakau Jember saat ini sudah mulai menurun dan cukup bagus. Sehingga ekspor tembakau kita telah mendapatkan nilai positif karena kadar penggunaan pestisida sudah mulai dikurangi oleh para petani,” terangnya.
Penurunannya, katanya, walau belum berada di bawah ambang batas, tapi sudah pada rata-rata terendah. Petani masih menggunakan pestisida karena ada tanaman tertentu yang masih ditakutkan oleh para petani akan mengancam tumbuh kembang tanamannya. “Penyakit yang ditakutkan oleh petani Jember salah satunya adalah kutu daun dan busuk akar pada awal tanam,” jelasnya.
Sementara itu, Dwijo menengarai, proses off farm yang berpengaruh pada kualitas tembakau, umumnya terdapat pada proses pengopenan. “Jika pengopenan atau pemanasan kurang optimal tentu saja akan berpengaruh pada kualitas tembakau. Dan jika dibiarkan selama 3 bulan baunya menjadi apek,” tuturnya.(sal)


Selengkapnya..

Senin, April 06, 2009

Petani Usulkan Mesin Pembuat Pupuk Organik


Jemberpost.com
Tiga tahun belakangan masyarakat menilai produktivitas pertanian meningkat cukup pesat. Semenjak pupuk organik digunakan oleh para petani sebagai pendamping pupuk kimia, yang kerap kali langkadi pasaran. Tak heran, bila kelompok tani (poktan) Desa Paleran yang tergabung dalam Prima Tani mengusulkan bantuan mesin pembuat pupuk tersebut. Dikarenakan kebutuhan dan permintaan pupuk alami itu mulai meninggi.
Petani Desa Paleran Kecamatan Umbulsari, Mahfud, mengatakan, selama 3 tahun terakhir pada produktivitas pertanian di Desa Paleran sudah banyak perubahan. Peningkatan itu, katanya, dibuktikan dengan naiknya angka panen dibandingkan 4-5 tahun lalu. “Saat ini produktivitas pertanian di Desa Paleran sudah mulai membaik,” katanya.
Selisih kenaikan hasil panen padi mulai cenderung lebih besar. Sekarang ini, rata-rata hasil panen padi di Paleran mencapai 8,5 ton per hektar. Angka itu berselisih 3 ton lebih banyak dibandingkan dengan hasil panen 4 tahun sebelumnya. “Kami merasa terjadi peningkatan yang cukup besar dari hasil usaha tani yang kami lakukan,” ungkapnya.
Bukan hanya padi yang mengalami kenaikan hasil. Tanaman kedelai pun mengalami hal serupa. Pada awalnya secara maksimal, hasil produksi kedelai hanya bertengger pada kisaran 1,1 ton per hektarnya. Setelah petani menggunakan pupuk organik, hasil panennya meningkat tajam hingga 2,3 ton per hektar. “Kami mengalami peningkatan yang sama pada tanaman kedelai,” tuturnya.
Makanya, guna mengoptimalkan penggunaan pupuk organik dalam upaya peningkatan produktivitas pertanian di Desa Paleran, katanya, petani membutuhkan bantuan mesin pembuat pupuk organik. Alat itu menurutnya, penting dalam mengoptimalkan produktivitas petani disamping untuk menekan biaya produksi di sektor pupuk. Karena dengan mesin itu petani bisa secara swadaya memproduksi pupuk sendiri tanpa harus membeli.
“Kami mengajukan mesin pembuat pupuk organik secara grandun karena saat ini petani di Paleran dan Umbulsari sudah merasa pakewuh untuk menggunakan pupuk buatan. Karena disamping sering langka di pasaran juga akan menyebabkan unsur hara tanah semakin berkurang,” ungkapnya, dalam Pelaksanaan Dialog Solutif Bupati Jember Bedah Potensi Desa di lapangan Desa Gunungsari Kecamatan Umbulsari.
Mahfud mengatakan, masyarakat Desa Umbulsari mulai memanfaatkan urin sapi sebagai pupuk, yang bisa dimanfaatkan guna penambah unsur hara tanah. Teknologi pengolah urin jadi pupuk itu merupakan hasil dari bantuan yang diberikan pada Desa Paleran oleh .
Ia mengatakan, mesin pengolah urin sapi menjadi pupuk sebagai sarana dan prasarana yang diglontor oleh Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) saat ini telah menghasilkan bio urin yang dimanfaatkan petani. Selain itu, bantuan 2 mesin pembuat konsentrat sebagai pakan sapi dari Disnakkan, ujarnya, juga telah cukup membantu para peternak. Sebab dengan mesin konsentrat untuk membuat pakan sapi, para peternak tidak perlu lagi merumput.
Bahkan, selain menghasilkan kotoran yang bisa diolah jadi pupuk organik. Konsentrat yang sudah menjadi kotoran itu bisa menghasilkan bio gas. “Gas yang dikeluarkan bisa dimanfaatkan untuk memasak, seperti saat ini masyarakat sudah mulai beralih gas elpiji,” tukasnya.
Dari hasil pengolahan urin dan kotoran sapi itulah, ungkapnya, poktan di Desa Umbulsari berusaha untuk memenuhi pupuk organik. Namun produksi pupuk itu beloh dikatakan tidak begitu tinggi. Oleh karenanya, petani setempat menginginkan adanya bantuan mesin pembuat pupuk organik secara grandun.(sal)


Selengkapnya..

Kamis, April 02, 2009

Ir. Hari Widjayadi : Panen Setahun Sekali, Masyarakat Bisa Kaya

Jemberpost.com,
Meski Kabupaten Jember merupakan kabupaten yang memiliki potensi perkebunan yang baik, akan tetapi pertaniannya juga tak kalah dengan kabupaten lainnya di Jawa TimurMenurut data Dinas Pertanian dan Tanaman pangan bahwa luas lahan pertanian di Kabupaten Jember ± 400 ribu Ha dengan hasil pertanian pada tahun 2008 mencapai ± 8.010 ton. Ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan di Kabupaten Jember memenuhi target untuk memenuhi kebutuhan beras masyarakat Jember.
Bupati Jember MZA Djalal beberapa hari yang lalu melakukan panen raya di Desa Tanjungrejo, Kec. Wuluhan. Dalam panen raya tersebut, Djalal juga menyempatkan diri untuk berdialog dengan kelompok tani rukun makmur Desa Tanjungrejo. Dalam acara tersebut juga dihadiri oleh jajaran Muspida. Djalal menyampaikan agar masyarakat Tanjungrejo, khususnya Kelompok Tani Rukun Makmur selalu berusaha meningkatkan produksi padinya.
Djalal juga memberikan apresiasinya kepada kelompok tani yang telah mempunyai lumbung padi sebagai sarana penyimpanan untuk memenuhi kebutuhan pangan anggota dan masyarakat Tanjungrejo.
Lebih lanjut Djalal juga menyatakan meski sawah di Desa Tanjungrejo sebagian ada yang panen setahun sekali, tapi masyarakat desa terutama anggota kelompok tani Rukun Makmur tidak akan kekurangan beras, ini dikarenakan adanya lumbung penyimpanan padi untuk anggota di waktu paceklik. “Dan, ini merupakan tanggung jawab Dinas terkait untuk memberikan pelatihan agar sawah yang setahun sekali panen, bisa panen dua kali dalam setahun, “tegas Djalal.
Ditempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jember, Ir. Hari Widjayadi, minta agar petani yang tergabung dalam kelompok tani tersebut selalu berkomunikasi dengan Dinas Pertanian melalui PPL-PPL yang ada di lapangan, sehingga kesulitan-kesulitan yang dihadapai oleh petani bisa teratasi.
Dikatakan pula oleh Hari, petani jangan hanya menggantungkan diri pada pupuk anorganik untuk meningkatkan hasil padinya. Memang, lanjut Hari, pupuk anorganik bisa mengoptimalkan hasil panen, akan tetapi dengan pupuk organik petani juga bisa mengoptimalkan hasil panen dengan baik, meski pupuk urea sedang langka.
Oleh karena itu, selain petani itu menjalankan aktivitasnya untuk menanam padi, diharapkan petani juga memelihara sapi sebagai penghasil kotoran dan urine sapi yang bisa digunakan sebagai bahan pupuk organik/pupuk kandang. ”Bayangkan mas, ternak sapi per-hari bisa menghasilkan 20 liter urine, jika satu bulan urine sapi bisa digunakan untuk penyempot hama padi, berapa Hektar sawah yang bisa optimalkan hasilnya mas, ”tegas Hari.
Saat dialogpun Bupati Jember, MZA Djalal juga memberikan santunan pada anak-anak yatim yang ada di sekitar desa Tanjungrejo sebanyak 24 anak. Ini merupakan bentuk kepedulian Pemkab Jember untuk anak yatim tersebut. (sal)


Selengkapnya..

Selasa, Maret 31, 2009

Dishutbun Fokus Pada Rehabilitasi Lahan


Jemberpost.com
Usaha rehabilitasi lahan dan konservasi tanah menjadi program prioritas Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Dishutbun) Kabupaten Jember. Agenda itu diarahkan pada hutan-hutan desayang beberapa waktu ini mulai terancam keberadaannya, dan tak terkecuali lahan kosong di kawasan perkotaan. Guna mengoptimalkannya, pemberdayaan pada masyarakat dilakukan secara stimulan dalam menumbuhkan kepedulian dan partisipasi masyarakat.
Kepala Dishutbun Kabupaten Jember, Dwijo S, mengatakan, saat ini program utama yang menjadi proyeknya adalah rehabiltasi lahan dan konservasi tanah, baik di kawasan perkotaan maupun pedesaan. Pasalnya, lingkungan alam merupakan aset milik bersama yang harus selalu dipelihara dan dilestarikan. Mengingat, semakin meningkatnya modernisasi suatu masyarakat bakal berimbas secara langsung pada kerusakan lingkungan.
Makanya, tengaranya, ketahanan lingkungan alam tempat manusia hidup dan beraktivitas perlu mendapat perhatian dan perlindungan serius melalui sharing kegiatan yang berbasis pemberdayaan masyarakat. “Pembinaan Dishutbun masih terfokus pada bidang kehutanan dan pemberdayaan,” katanya.
Rehabilitasi lahan, ungkapnya, menitikberatkan pada titik-titik rawan yang kerap terancam erosi di kala hujan turun. Utamanya, kawasan desa yang memiliki kemiringan lahan cukup curang. Umumnya, desa-desa sasaran program tersebut berada di kawasan dataran tinggi. “Kegiatan ini dilakukan tiap tahun untuk mengantisipasi kerusakan alam yang ada,” tambahnya.
Ia mengatakan, rehabilitasi lahan dan konsenservasi tanah yang mudah tergerus erosi itu bukan hanya menjadi tugas dari unsur pemerintahan dan Perhutani saja. Tapi masyarakat hendaknya terlibat aktif dalam menjaga lingkungan hidupnya dari kerusakan. “Tugas ini menjadi tanggung jawab kita bersama, termasuk masyarakat secara luas,” tengaranya.
Oleh karenanya, sasaran pemeliharaan lingkungan hutan melalui usaha rehabilitasi dan konservasi lahan itu dilakukan secara intensif. Melalui pembinaan rutin pada masyarakat. “Sasaran pembinaan ini adalah masyarakat dalam arti luas. Karena lingkungan Jember ini luas dan kerusakan lahan bisa terjadi di manapun,” tuturnya.
Sistem pembinaan pada masyarakat yang telah dilakukan selama ini, tambahnya, lebih berorientasi pada penyuluhan rutin. Bertujuan meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat. Selain itu, pembinaan diwujudkan secara fisik dalam bentuk bantuan bibit yang ditanam pada lingkungan di sekitar tempat tinggal masyarakat.
Pihaknya menandaskan, sasaran yang lebih ditekankan berada di lahan yang memiliki kemiringan cukup tajam. Pada lahan-lahan seperti ini, Dishutbun membantu dalam bentuk bibit guna ditanamkan pada lahan tersebut. Dengan demikian, erosi bisa dicegah sejak dini, yang pada gilirannya tidak membahayakan masyarakat.
Bantuan juga diberikan pada masyarakat yang mengusulkan bibit pohon pada Dishutbun untuk melindungi lahan di lingkungannya dari ancaman erosi lahan. “Kami juga akan memberikan bantuan bibit pada masyarakat yang memiliki program konservasi tanah dan rehabilitasi tanah di wilayahnya masing-masing. Program seperti ini masuk dalam kategori pemberdayaan masyarakat,” terangnya.
Kawasan-kawasan yang menjadi sasarannya, ujarnya, meliputi daerah hulu yang memiliki kemiringan lahan cukup curang. Mulai dari Arjasa, Panti, Sumberbaru, Silo, Tempurejo, Tanggul, Sukorambi, Mayang, Ledokombo, dan Sukowono. “Daerah-daerah hulu itulah yang menjadi titik-titik perhatian kami,” jelasnya.
Sementara di kawasan perkotaan, lanjutnya, perhatian Dishutbun lebih menitikberatkan pada usaha mengantisipasi lahan-lahan kosong. Dengan begitu, lahan-lahan tersebut akan menjadi hijau dan nampak indah. “Di perkotaan tidak ada istilah tanah miring, makanya pemberdayaan kepada masyarakat kita arahkan pada penanaman lahan kosong sehingga akan nampak indah dan sejuk,” katanya pada jemberpost.com.
Upaya pembinaan tersebut, kata Dwijo, digulirkan secara terus-menerus. Pasalnya, membangun kesadaran masyarakat butuh waktu dan proses yang berkelanjutan, baik dilakukan oleh dinas maupun bekerjasama dengan pihak-pihak lain yang bergerak dalam bidang rehabilitasi lahan dan konservasi tanah.
“Rehabilitasi dan konservasi lahan ini dilakukan secara terus-menerus baik dilaksanakan oleh Dishutbun sendiri, juga bergandengan dengan instansi yang bergerak di bidang rehabilitasi dan konservasi lahan maupun dengan para stake holder dalam hal ini TNI dan masyarakat,” paparnya.(sal)


Selengkapnya..

Produksi Padi Jember Naik Signifikan


Jemberpost.com
Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Jember bekerjasama dengan Gapoktan menggelar acara panen raya padi sawah dengan berbagai varietas dan pemupukan pada lahan uji coba teknologi pertanian di areal seluas 534 hektare (ha) di Desa Tanjungrejo Kecamatan Wuluhan..
Soal pertanian Bupati Jember MZA Djalal sangat yakin bahwa para petani khususnya di Desa Tanjungrejo lebih pintar. Hal itu karena selama 4 tahun ini produksi pertanian Kabupaten Jember mengalami kenaikan yang sangat signifikan yaitu dari 700 ribu ton/tahun menjadi 814 ribu ton/tahun. “Semua ini atas kerja keras para petani yang ada di daerah ini, “katanya pada jemberpost.com.
Untuk itu tekad Djalal untuk lebih mensejahterakan para petani di Desa ini sangat besar, dengan upaya merubah pola tanam yang selama ini hanya setahun sekali menjadi minimal 2 kali dalam setahun dengan memperbaiki dan menambah saluran irigasi. “Karena saluran ini menjadi tanggung jawab pemerintah dalam mencukupi akan kebutuhan pengairan sawahnya, “tegasnya.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Jember, Ir. Hari Widjayadi mengatakan adanya peningkatan produksi padi di berbagai daerah itu, setelah petugas terus melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap pertumbuhan padi tersebut. Dikatakan, varietas padi yang ditanam pada lahan uji coba teknologi pertanian itu, di antaranya IR-64, ciherang, widas, situ bagendit, sintanur, dan hibrida. “Sejauh ini uji coba teknologi pertanian bisa menghasilkan sebuah produksi padi yang cukup bagus, “tegasnya.
Masih menurut Hari, bahwa setelah ada percepatan pola tanam pertanian di lokasi tersebut, akhirnya para petani bisa memanen hasil pertaniannya dengan keuntungan produksi yang cukup melonjak hingga rata-rata 30% dari sebelumnya. “Pada panen tahun ini, produktivitas padi yang dihasilkan Kelompok Tani “Rukun Makmur” dan Gapoktan “Margi Makmur” mengalami peningkatan dibanding hasil panen tahun lalu, “jelasnya.
Bibit padi yang dikembangkan oleh Kelompok Tani “Rukun Makmur” dan Gapoktan “Margi Makmur” adalah varietas hibrida yang dianggap mempunyai produktivitas tinggi dibanding varietas lain yang ada. “Dari hasil panen tahun ini diharapakan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Tanjungrejo yang secara perlahan namun pasti area persawahannya akan diupayakan bisa panen 2 kali dalam setahun, “ujarnya.
Sementara itu Kepala Desa Tanjungrejo, Sugeng mengatakan bahwa selain acara panen raya, masyarakat sangat ingin bertemu dan berdialoq dengan para petani, khususnya dalam meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani. “Sudah lama masyarakat ingin sekali menyampaikan uneg-unegnya soal pertanian kepada Bupati Jember, “jelasnya.
Ternyata desa Tanjungrejo, selain bertanam padi masyarakatnya juga berusaha dibidang persemaian bibit diantaranya cabe, terong dan holtikultura lainnya, bahkan pemasarannya sampai ke Kabupaten Lumajang dan sekitarnya. “Ada 80 KK yang sudah berusaha dibidang ini, dan ini tentunya ini sangat signifikan mempengaruhi upaya ppeningkatan ekonomi masing-masing keluarga, “tegasnya.
Dijelaskan oleh Sugeng bahwa dari luasan 534 ha areal sawah dibagi menjadi 8 Kelompok Tani (Poktan) yang 5 kelompok diantaranya sudah madya dan 3 kategori lanjut. “Dan ini menjadi tugas kita bersama mulai dari petani, perangkat dan dinas terkait untuk membimbingnya, “terangnya.
Pengembangan usaha lain tekad Sugeng bekerjasama dengan Gapoktan “Margi Makmur” untuk mengembangkan pertanian terintegrasi dengan peternak sapi yang selama ini masih dikelola secara tradisional dan dimiliki oleh masing-masing peternak. “Sehingga nantinya petani tidak akan kekurangan pupuk pabrikan, dan sebagai pengantinya adalah pupuk an organik, “ungkapnya (sal)


Selengkapnya..

Minggu, Maret 01, 2009

Delapan Ribu Durian Dipamerkan


Jemberpost.com,
Besarnya potensi pertanian, khsususnya buah di Kabupaten Jember, akan sangat disayangkan kalau hanya dikenal dan dinikmati masyarakat lokal saja. Itu dikarenakan, buah hasil produksi petani di kawasan Jember ini, tidak akan bisa terjual kesemuanya, seandainya bisapun mungkin harganya tidak seperti yang diharapkan.
Bertempat di out let Jubung berlangsung promo durian Sumberjambe. Kegiatan itu bertujuan sekaligus untuk memperkenalkan komoditas buah durian Jember ke masyarakat lain daerah dan tempat out let itu sendiri. “Dengan cara seperti ini, setidaknya buah-buahan hasil pertanian Jember akan semakin dikenal oleh masyarakat luar, dan pada akhirnya, pendapatan petani melalui buah-buahan yang dihasilkan juga akan semakin membaik,”ungkap Agoes Slameto, Kabag Humas Jember.
Promo ini merupakan Warming Up (Pemanasan) bagi petani serta Pemkab melalui Kecamatan yang melakukan kolaborasi dengan pihak Kadin, Koperasi Samarot dan otomotif agar untuk mengenalkan potensi pertanian kabupaten Jember di kancah nasional, bahkan internasional.”Ini merupakan upaya dari pemerintah untuk meningkatkan derajad hidup dari masyarakat Jember,”tambah Agoes.
Adapun jenis durian yang akan dijajakan selama 8 hari (28 Februari-7 Maret 2009) mempamerkan Durian si pelor, Pelai, Ronjengan, si Kasur, Si Belanda, si Fatima. Durian ini menurut pihak penyelenggara merupakan buah durian unggulan petani kecamatan sumberjambe.
Selain daripada itu, di Jember Outlet juga menyediakan jajanan atau dodol yang berbahan asli dari durian, produk ini adalah kreasi dan kerjasama antara petani dan tim penggerak PKK kecamatan sumberjambe. Maka dengan event ini, para petani durian khususnya anggota Koperasi Samarot sangat berharap agar event-event pameran semacam ini dapat terus dilaksanakan, serta difasilitasi oleh Pemkab, sehingga bisa mendongkrak ekonomi petani, sekaligus mempromosikan Kabupaten Jember di kalangan masyarakat pencinta Durian. Menurut Endah dari Kadin Jember kegiatan ini amat penting demi menarik wisatawan dan menumbuhkan perekonomian di Jember. (sal)


Selengkapnya..

Sabtu, Februari 28, 2009

Prima Tani Jember Membangun Berbasis Pedesaan


Jemberpost.com,
Bupati Jember MZA Djalal bersama rombongan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember, melakukan panen raya padi sawah, ikan lele dan gurami serta melihat dari dekat kawin suntik sapi milik masyarakat di Desa Paleran yang merupakan binaan dan bimbingan dari Prima Tani Jember.
Djalal berharap kepada Prima Tani Jember sebelum pilot project percontohan ini diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Jember dapat memikirkan program pemberdayaan masyarakat yang secara langsung dapat menjadi daya ungkit dan meningkatkan perekonomian masyarakat. “Seperti masyarakat dapat memanfaatkan sejengkal lahan milik mereka untuk usaha, baik tanaman maupun perternakan, “harap Djalal.
Tidak itu saja, Bupati Djalal juga minta agar pengetahuan dan pengalaman yang selama ini diberikan kepada masyarakat Desa Paleran dapat diteruskan kepada desa-desa yang ada di wilayah Kabupaten Jember. “Proaktif dari masyarakat dalam memajukan desanya masing-masing agar tumbuh dan berkembang untuk meningkatkan pendapatannya dengan berbagai program unggulannya, “pintanya.
Karena Djalal menilai semua program pemberdayaan masyarakat sangat perlu dilaksanakan seiring dengan semakin banyaknya gelontoran program pemerintah yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin. “Tapi semua itu harus tepat sasaran, terutama dalam membantu masyarakat miskin agar kondisi kemiskinan tidak sampai berlarut-larut menimpa warga Jember, “terangnya.
Sementara itu Manager Prima Tani Jember, Dr. Ir. Q Dadang Ernawanto menjelaskan bahwa semua program yang dijalankan oleh prima tani pada dasarnya merupakan komponen pembangunan pertanian terpadu berbasis pedesaan. “Prima Tani dijalankan dengan menggunakan pendekatan agribisnis, agroekosistem, pendekatan wilayah, pendekatan kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat, “jelasnya disela-sela memdampingi rombongan melihat Klinik Agribisnis Prima Tani di Balai Desa Paleran.
Selanjutnya agar program ini dapat mencapai sasaran, maka Dadang mempunyai strategi yang sangat mudah diantaranya penerapan teknologi tepat guna, membangun model percontohan agribisnis progresif berbasis teknomogi inovatif, mendorong proses difusi dan replikasi model percontohan teknologi inovatif dan dengan menggunakan pendekatan partisipatif. “Untuk itu program ini harus berawal dari desa, sehingga mampu mengatasi permasalahan dan mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumber daya desa, “katanya.
Selama kurun waktu dua tahun lebih, tahun 2007 awal dilaksanakan Prima Tani kontribusinya dalam pembangunan pertanian wilayah desa Paleran cukup besar. “Karena selain mengenalkan rekomendasi paket-paket inovasi teknologi spesifik lokasi, memberdayakan kelembagaan petani, juga telah berperan dalam memberikan pertimbangan perencanaan pembangunan pertanian di wilayah, “jelasnya.
Sedangkan berbagai keberhasilan telah diraih prima tani Jember dalam meningkatkan perekonomian masyarakat desa Paleran dengan telah mampu meningkatkan produktifitas padi dari rataan produksi sebelumnya 6 ton/ha saat ini menjadi 8,5 ton/ha melalui penerapan inovasi teknologi diantaranya pemakaian varietas padi hibrida, sistem tanam jajar legowo, dan penanaman 1-2 tanaman perlubang. “Sehingga sangat mengefisienkan pemakaian benih yang semula kebutuhan benih 40 kg/ha menjadi hanya 15 kg/ha dan ini sangat membantu para petani yang ingin meningkatkan produksi padinya, “ungkapnya.
Disamping mengenalkan inovasi teknologi pertanian, hal yang terpenting menurut Dadang adalah menyangkut sumberdaya manusia. Dan prima tani juga melakukan pendampingan terhadap kelembagaan kelompok tani ke arah terwujudnya kelompok tani yang mandiri. “Keberhasilan itu merupakan kontribusi nyata prima tani dalam mendukung pembangunan ekonomi wilayah desa Paleran yang berbasis agribisnis dan sumberdaya lokal, “terangnya.
Hal yang tidak kalah pentingnya prima tani juga jejaring kerjasama melalui kemitraan antara Gapoktan Eka Jaya yang terdiri dari 16 kelompok tani (yang tersebar di 4 dusun, dan 1 dusun 4 kelompok tani) dengan pihak swasta PT Triusaha Sari Tani yang menyediakan benih padi sesuai dengan kebutuhan petani dengan sistem pembayaran “Yarnen” (bayar setelah panen). “sedangkan hasil produksi padi petani dibeli oleh PT Triusaha Sari Tani dengan harga pasar yang berlaku saat ini, “cetusnya.
Keberpihakan prima tani tidak sampai disitu saja, karena untuk menghasilkan produksi padi yang berkualitas, petani juga membutuhkan saprodi dan obat-obatan agar tanaman padinya tumbuh dengan subur. “Upaya yang dilakukannya yaitu memfasilitasi kemitraan Gapoktan Eka Jaya yang saat ini telah mandiri dengan Bank INA Cabang Lumajang dengan sistem kredit untuk kebutuhan petani dengan bunga 18 %/tahun tanpa agunan karena yang menjadi agunannya berupa kelompok tersebut dan pengembalian pinjaman tersebut juga dengan pola Yarnen (bayar panen), “pungkasnya. (sal).


Selengkapnya..
Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template custom by Adiguna