Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

Kamis, Desember 31, 2009

Pasar Diefisienkan, Pedagang Diberdayakan

Jemberpost.com-Masih banyaknya pasar yang dinilai belum layak dikatakan pasar, terus menjadi perhatian Dinas Pasar Kabupaten Jember. Dinas Pasar, yang baru berdiri sejak tahun 2009 ini, melihat selama ini pasar di Kabupaten Jember belum efisien.Karena itu perlu ditata dan diberdayakan, agar efisien. Ini sejalan dengan program efisiensi pasar yang sebentar lagi akan segera direalisasikanya. Menurut Kepala Dinas Pasar, Drs Hasi Madani, selain perlu diefisiensikan, pedagang sebagai pelaku pasar, perlu diberdayakan lewat penguatan paguyuban asosiasi pedagang. Sehingga dengan ini akan ada peningkatan pendapatan dari tarif retribusi sesuai Perda 13/2006.
Selama ini, menuru Hasi, penerimaan retribusi pasar-pasar terbilang relatif kecil hanya berkisar Rp.30 ribu hingga Rp 75 ribu per hari. Sementara petugas pasarnya mencapai 5-6 orang, ditambah masing-masing pasar ada satu mantri pasar. “Ini sangat tidak efisien,”ujarnya.
Dicontohkan, tiga pasar kecil di dalam kota, seperti Pasar Kreongan, Bungur dan Patrang, selayaknya dimerger dengan satu mantri pasar saja. Masing-masing dari pasar itu harus ada 1 juru pungut dan 2 petugas kebersihan. Efiensi ini melihat kebutuhan tenaga kerja pasar disesuaikan dengan volume dan beban kerja yang ada, sehingga secara otomatis akan terjadi keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran.
“Kajian langkah efisiensi ini telah dibahas bareng bersama mantri pasar di kabupaten Jember dan efisiensi ini akan diluncurkan setelah saya melaporkan dan dapat petunjuk dari bupati,” katanya.
Sementara terkait pemberdayaan pedagang, Hasi menjelaskan, bahwa penguatan kelembagaan yang eksis akan berfungsi untuk penguatan pedagang itu sendiri. Selama ini, kecenderungan yang terjadi, pedagang suka berjalan sendiri-sendiri, ketika negoisasi dengan supplier.
Munculnya kecenderungan seperti ini menunjukkan, pedagang masih belum mendapat harga sesuai dengan yang dikehendaki (murah). Namun jika pedagang bersatu dalam paguyuban, maka kebutuhan masing-masing pedagang bisa dibeli di paguyuban. Karena paguyuban ketika bernegoisasi dengan pengambilan jumlah besar maka akan mendapatkan harga yang pasti lebih murah.
“Itu kekuatan besar, apalagi jika paguyuban-paguyuban bersatu dalam asosiasi, maka negoisasi tak hanya dengan distributor lokal, namun bisa dengan distributor besar bahkan pabrik,”tuturnya.
Kegiatan efisiensi pasar, pemberdayan pedagang dengan penguatan kelembagaan ini pada saatnya nanti akan berpengaruh pada peningkatan pendapatan hasil tarif retribusi sesuai perda. Selain itu juga akan memberikan kontribusi positif dalam penyelenggaraan pemerintah daerah dengan kemandirian ekonomi. “Saya telah mengundang beberapa paguyuban dan mereka merespon positif ide ini,”kata Hasi.
Diharapkan dengan cara seperti ini, ke depan pasar di Jember akan lebih bergairah dan pedagang akan lebih sejahtera. Demikian juga konsumen akan merasa senang berbelanja di pasar. (sal)


Selengkapnya..

Senin, Desember 14, 2009

Segera Dikembangkan Desa Wisata

Jemberpost.com.
Perjalanan ke Eropa agaknya telah membuka cakrawala Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kabupaten Jember, untuk lebih mengoptimalkan keberadaan usaha kerajinanyang banyak terdapat di Kabupaten Jember. Tingginya minat masyarakat Eropa terhadap hasil kerajinan Indonesia, khususnya Jember, mengundang minat Disperindag untuk mengembangkan desa penghasil kerajinan, menjadi daerah tujuan wisata.
Potensi kewisataan pada daerah penghasil kerajinan di Kabupaten Jember ini, sebenarnya sangatlah besar. Begitupun dengan multyplier efect yang akan ditimbulkan dengan dijadikannya daerah penghasil kerjainan menjadi daerah tujuan wisata, tidak hanya akan lebih memperkenalkan nama Jember sebagai penghasil kerajinan di dunia internasional, tapi perajin juga dipastikan akan ikut menikmati keuntungan.
Seperti dikatakan Kepala Disperindag, Kabupaten Jember, Ir Hariyanto, bahwa dengan berbagai potensinya, Jember sudah selayaknya menjadikan beberapa desanya sebagai Desa Wisata. Gagasan Desa Wisata sebagaimana pernah disampaikan Bupati Jember, MZA Djalal ini, menurut Hariyanto, karena ada beberapa desa yang mempunyai karakteristik dan ciri khas tersendiri, berbeda dengan desa lainnya.
Seperti Rembangan misalnya, dengan banyaknya dilakukan penanaman buah naga, baik oleh Pemkab Jember sendiri, maupun masyarakat sekitar, menjadi daerah itu sangat spesifik, berbeda dengan desa lainnya. Hampit di sepanjang jalan menuju ke kawasan wisata Rembangan, hampir bisa dipastikan akan ditemui tanaman buah naga di pekarangan-pekarangan penduduk. “Ini kan spesifik, di situ bisa dikatakan sebagai desa wisata, wisatawan bisa berwisata menikmati buah naga,” kata Hariyanto.
Desa lain yang menurut Hariyanto bisa dikembangkan menjadi Desa Wisata, adalah Desa Tutul, Kecamatan Balung. Kelebihan yang dimiliki desa ini, yakni hampir setiap rumah penduduknya, ada kegiatan kerajinan membuat manik-manik, serta tasbih dari kayu.
Hasil kerajinan manik-manik dan tasbih kayu dari Desa Tutul ini, tidak hanya dijual untuk pasar lokal saja, tapi juga diekspor ke negara-negara di Timur Tengah. Menariknya lagi, pengerjaan kerajinan di desa ini dilakukan di rumah masing-masing penduduk.
“Ini bisa kita angkat menjadi desa wisata, kita kembangkan, kita poles sedemikian rupa, sehingga fasiltas-fasilitas, seperti parkir dan fasilitas lain untuk tamu yang mau berwisata bisa enak menikmati dan tidak terlalu terburu-buru,” paparnya.
Bahkan bisa saja, untuk membuat senang pada wisatawan, mereka diberikan kesempatan mencoba membuat sendiri manik-manik atau kalung. “Ini merupakan salah satu obyek wisata seperti Yogya, ada asongan khusus untuk membuat garabah dan sebagainya ini kita bisa ciptakan,”tandasnya.
Gagasan menjadikan desa yang memiliki karakteristik tersendiri, untuk dijadikan sebagai Desa Wisata ini, lanjut dia, ke depan bisa dikembangkan. Yang terpenting dalam hal ini, yakni tersedia fasilitas yang memang dibutuhkan oleh pengunjung.
“Tinggal kita kembangkan, kita buat fasilitas yang memadai untuk tujuan wisata. Kita membuat desa wisata tidak hanya sekedar menciptakan, tetapi apa yang sudah ada di situ, yang dimiliki oleh masayarakat dan sudah dikerjakan oleh masyarakat,” tambahnya.(sal)


Selengkapnya..

Rabu, Oktober 28, 2009

Kerajinan Manik-manik BalungTembus Timteng

Jemberpost.com.
Mungkin tidak banyak diketahui masyarakat, bahwa kerajinan manik-manik yang dihasilkan perajin Desa Tutul, ternyata tidak hanya sebatas dijual di pasaran lokal saja. Manik produksi tangan-tangan terampil masyarakat Desa Tutul ini, banyak juga yang dijual ke negara-negara di Timur Tengah.
Sebagaimana dikatakan Samidi, warga Desa Tutul, Kecamatan Balung. Bahwa hasil kerajinan manik-manik yang dibuat dalam bentuk tasbih, penjualannya sampai ke negara-negara penghasil minyak tanah di Timur Tengah. “ Sebenarnya yang dihasilkan masyarakat Tutul tidak hanya manik-manik dan tasbih saja, tapi juga supit,” kata Samidi, kepada Bupati Djalal, dalam acara Dialog Solutif Bedah Potensi Desa, di lapangan Desa Karang Duren, Kecamatan Balung.
Hanya saja yang menjadi persoalan dalam menjalankan usaha kerajinan manik-manik ini, perajin yang ada di desa tersebut, masih berjalan sendiri-sendiri (induvidual). Karena itu pihaknya berharap, pemerintah kabupaten dapat mengupayakan keberadaan perajin di Desa Tutul menjadi bersatu dalam sebuah organisasi.
Kelemahan dari berjalannya sendiri-sendiri diantara para perajin di Tutul, kata Samidi, tidak adanya nilai tawar yang bisa digunakan untuk menaikkan nilai produk yang dihasilkan perajin. Pedagang atau tengkulak yang memang menggeluti pejualan manik-manik akan dengan mudah mempermainkan harga dari produk yang dihasilkan perajin.
Karena itu kepada bupati, dia berharap, adanya hak patent atas produk kerajinan yang dihasilkan oleh perajin di Desa Tutul. “Meskipun barang kita cukup bagus kualitasnya, tapi karena masih berjalan sendiri, pedagang atau tengkulak dengan seenaknya mempermainkan harga,” ungkap Samidi.
Pembuatan hak paten atas produk kerajinan manik dari Desa Tutul ini, kata Samidi, bisa dilakukan seperti yang dilakukan terhadap produk tape Bondowoso. Dengan hak patent yang dimiliki, orang lain tidak akan dengan mudah mengklaim tape yang dihasilkan perajin Bondowoso.
“Kalau manik-manik Desa Tutul ini punya hak patent, maka orang lain juga tidak akan dengan mudah mengklaim bahwa itu hasil produksinya. Orang jelas akan mengenal bahwa kerajinan manik-manin merupakan produksi kerajinan desa Tutul,” tandasnya.
Mendapat pertanyaan ini, Bupati Jember, MZA Djalal menegaskan, bahwa pada intinya hak patent atau merk dalam dunia usaha, tidak terlalu dibutuhkan. Kalau boleh belajar dari cara berdagang orang-orang Tiongkok, kata bupati, mereka lebih mementingkan untung dari pada merk.
“Sampean bisa beli mesin dari China berapapu banyaknya. Mau diberi nama Jalal atau Samidi, itu terserah sampean. Mereka lebih berpikir bagaimana bisa mendapatkan untung, yang penting mereka bisa menjual mesinnya,” kata bupatil.
Namun begitu, untuk masalah hak paten yang diinginkan Samidi atas produk kerajinan manik yang dihasilkan warga Desa Tutul, Bupati Djalal masih memberikan sinyal, bahwa hal itu bisa saja dilakukan “Tapi bisa saja hak paten itu diminta, silahkan mumpung di sini ada ketua DPRD,”pungkasnya. (sal)


Selengkapnya..

Minggu, Agustus 23, 2009

Ramadhan Harga Gula Tembus Rp.9 Ribuan

Jemberpost.com – Seperti biasa saat Ramadhan tiba maka harga bahan pokok perlahan tapi pasti merangkak naik, namun Ramadhan kali ini diluar dugaan. Kenaikan yang cukup tajam dan terkesan dimanfaatkan oleh para pedagangKenaikan harga-harga di pasar induk Jember, pasar Tanjung tidak hanya dialami oleh sejumlah bahan pokok seperti beras, gula, minyak goreng dan sayur-mayur saja.

Cabe merah terjadi kenaikan signifikansebesar Rp 2.500-3.000/kg untuk cabe merah besar. Jika harga semula, Rp 5.000 kini menjadi Rp 7.500. Harga itu diperkirakan akan terus naik seiring dengan permohonan pembeli yang cukup tinggi juga pada bulan Ramadhan ini.

Selain cabe, harga tomat juga mengalami kenaikan. Tomat harga rata-rata masih dalam kisaran Rp 2.500/kg atau naik sebesar Rp 500/kg.

Sementara sayuran lain yang belum mengalami kenaikan diantaranya adalah kol. Harga kol bulat masih dikisaran Rp 2.500. Demikian juga dengan harga kentang tetap dikisaran Rp 5.500.
Sementra itu Gula justru Lebih dahulu naik, harga gula saat ini berkisar antara Rp.Rp.9000-Rp.9500/kg
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Harijanto ketika ditemui Jemberpost.com mengatakan segera melakasanakan operasi Pasar.[sal/her]


Selengkapnya..

Rabu, Agustus 05, 2009

JMF, Ajang Kompetensi Pencari Kerja


Jemberpost.com- Jember Job Marker Fair (JMF) sebagai ajang bertemunya pencari kerja dengan perusahaan akan segera digelar 12 Agustus mendatang. JMF merupakan kegiatan initi yang amat ditunggu-tunggu masyarakat kota Jember. Ribuan pengangguran akan bersaing ketat memperebutkan lebih dari 3000 (tiga ribu) job title (Pekerjaan-red).
“Jika tahun-tahun sebelumnya kami hanya mengkhususkan hanya masyarakat Jember, maka tahun ini para pencari kerja dari luar kota sudah tak terbendung dan masyarakat Jember harus siap berkompetisi dengan Pencari kerja kota lain” Ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Jember H.Thamrin.
Thamrin Menjelaskan bahwa JMF merupakan terobosan dan inovasi Pemkab Jember, JMF memberikan kemudahan dan ajang bertemunya para pencari kerja dan para pencari tenaga kerja. Event ini langka karena diadakan setahun sekali, perlu diketahui persiapannya memakan waktu enam bulan untuk hunting perusahaan peminat pencari tenaga kerja se Indonesia. Tercatat Freeport,Exxon dan Perusahaan besar serta menengah turut serta dalam event ini.
“Saat ini kesempatan kerja sangat besar, tinggal bagaimana masyarakat Jember memenuhi kebutuhan para pencari tenaga kerja tersebut, ini tantangan kompetensi masyarakat Jember saat mencari kerja.”Tegasnya.
Pemkab melalui JMF memanjakan para pencari kerja di Jember, ada banyak perusahaan, dan setiap pelamar boleh melamar 10 perusahaan sekaligus. Dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan pengangguran di Jember akan semakin kecil.(sal)


Selengkapnya..

Senin, Juni 29, 2009

Bank “Keluarga Miskin” Terguncang

Jemberpost.com – Pasca penetapan ditariknya dana pinjaman oleh Bank Jatim dari Bank Gakin atau Lembaga Keuangan Mikro Menengah (LKMM) Diskop Jember mengaku khawatir akan kondisi bank Gakin tersebut.Namun menurut Kepala Diskop Jember, Ir. Mirfano tidak semua Bank Gakin mengalami musibah tersebut. Hanya sekitar 22 Bank Gakin saja yang terancam kolaps. Pasalnya ke-22 bank Gakin tersebut sejak awal pendiriannya murni menggunakan pinjaman modal dari Bank Jatim.

Sementara lebih dari 17 bank Gakin masih bias bertahan karena mempunyai modal dua sumber. “Yang sebagian pinjaman dari Bank Jatim dan sebagian lagi dapat dana hibah dari Diskop,” ungkapnya.

Meski begitu Mirfano mengaku masih optimis akan keberlangsungan bank Gakin di Jember. Sejumlah terobosan sudah ditempuhnya, termasuk meloby BUMN atau pengusaha swasta untuk mau mengucurkan dananya kepada Bank Gakin.

Selain itu Mirfano juga masih melakukan koordinasi dengan Bank Jatim agar penarikan dana ditunda hingga bulan MAret 2010.

“Bank Gakin tidak akan kolaps meski sudah ditarik dananya, namun tidak bisa berkembang cepat karena modal yang dimilikinya hanya kecil,” ujarnya.[bj/sal]

Selengkapnya..

Senin, Juni 22, 2009

Bukannya Bantu, BI Malah Tegur Bank “Gakin”

Jemberpost.com - Musuh Tutik Aspita bertambah. Sejak menjadi pengurus Bank Gakin Wonosari di Jember, Jawa Timur, ia diincar oleh para rentenir. Kehadiran Bank Gakin telah membuat warga miskin tak lagi menjadikan para rentenir sebagai tempat meminjam uang.

Tutik mengatakan, fitnah menghampirinya. Bermacama-macam fitnah itu, dan sebagian besar menyangkut urusan duit. Namun, ia dan kawan-kawannya jalan terus.

Gagal menebar fitnah, para rentenir putar haluan, mencoba memanfaatkan Bank Gakin. Ia meminjam uang dari Bank Gakin dalam jumlah besar. "Bukan untuk modal usaha, tapi untuk dikembangkan. Kita tahu, dan kita tidak pinjami," kata Tutik.

Namun rentenir bukan satu-satunya 'lawan' Bank Gakin. Di luar dugaan, Bank Gakin justru dianggap sebagai 'lawan' bank formal. Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jember, Mirfano, mengatakan, sudah berupaya agar bank formal mau bermitra dengan Bank Gakin. Harapannya, tentu saja, bank formal mau meminjamkan uang kepada para anggota Bank Gakin agar bisa mengembangkan usaha.

Mediasi dilakukan oleh Bank Indonesia. Hasilnya? Nihil.

"Perbankan di Jember kalau mendengar kata 'Bank Gakin', kupingnya panas dan merasa alergi. Bank formal di Indonesia sampai sekarang ngomong doang. Mereka tidak pernah peduli dengan pengentasan kemiskinan," tukas Mirfano.

Mirfano semakin kecewa, setelah menerima surat peringatan dari Bank Indonesia Jember, awal tahun ini. BI Jember meminta kepada Dinas Koperasi tidak mencantumkan kata 'bank' pada Bank Gakin. "Kalau bank sudah diatur dengan undang-undang, syarat-syarat bank apa saja. Kewajiban bank juga banyak. Sementara yang disebut Bank Gakin kan bukan bank, tapi lembaga keuangan mikro," kata juru bicara Bank Indonesia Jember Sukiman.

BI Jember mengkhawatirkan kesalahan persepsi masyarakat yang ditimbulkan akibat pencantuman kata 'bank'. "Misalkan ada lembaga Bank Gakin yang kolaps, kan LKM bersangkutan harus memberi ganti rugi. Larinya kan ke BI juga. Kita berkepentingan jangka panjang," kata Sukiman.

Namun, bagi Mirfano, surat peringatan dari Bank Indonesia salah tempat. "Saya tidak pernah memakai nama Bank Gakin. Itu yang mempopulerkan pengurus dan anggota Bank Gakin sendiri. Dari awal itu adalah lembaga keuangan mikro masyarakat. BI bukannya membantu, malah kasih peringatan yang tidak substansial," tukasnya.�

Tutik Aspita, pengurus Bank Gakin Wonosari di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, membenarkan. "Orang-orang sendiri yang ngasih nama itu. Saya tanya kenapa, mereka menjawab, 'Iya, Bu, ini kan bank-nya orang miskin. Selama ini bank mana ada yang mau mendekati orang miskin'," katanya.

Tanpa tedeng aling-aling, Mirfano menyebut kehadiran Bank Gakin sebagai antitesis terhadap bank formal. "Bank formal tidak pernah mau peduli dengan ekonomi keluarga miskin," katanya.

Sukiman menyatakan, BI tidak bisa memaksa para bankir untuk meminjamkan duit ke pengusaha yang menjadi anggota Bank Gakin. Melalui mediasi BI, sudah dilakukan dua kali presentasi.

Namun para bankir masih enggan, karena menerapkan kriteria manajemen risiko. "Kan Bank Gakin tidak perlu agunan. Perlu ada terobosan. Kalau ada penjaminnya, tentu kita bisa bantu. Pemerintah daerah perlu meyakinkan dunia perbankan," kata Sukiman.

Perilaku dunia perbankan yang tak ramah terhadap pengusaha kecil ini pernah dikecam oleh Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Perbankan mematok bunga kredit lebih tinggi bagi sektor UKM, sampai 24 persen per tahun (flat). Sementara, untuk perusahaan besar, perbankan hanya mematok bunga sekitar 12 persen per tahun.

"Perlakuan kita di republik ini semua terbalik. Usaha besar dapat perlakuan yang lebih mudah, bunga lebih rendah. UKM bunga lebih tinggi. Itu perbuatan yang tidak pantas kita lakukan," kata Kalla.

Dalam buku 'Hanya dengan Kerja Keras: Catatan Seorang Wakil Presiden', Kalla memandang, perbankan harus turun tangan membantu sektor riil. "Apa yang saya tuntut dari para bankir, adalah agar mereka tidak menjadikan faktor risiko sebagai sesuatu yang mutlak untuk tidak menjadi kreatif," tulisnya.
"Buat apa kita memiliki sektor perbankan yang kaya raya bila ternyata tak bermanfaat bagi pembangunan. Bagi saya, sektor perbankan harus turun tangan membantu sektor riil agar bergerak maju, dan bisa diandalkan untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat," tulis JK.
Suherman Rosyidi, ekonom Universitas Airlangga Surabaya, mengatakan, watak perbankan konvensional memang tidak terlalu ramah kepada sektor riil. Sistem perbankan konvensional memiliki pendekatan moneter. "Bagaimana caranya agar duit bertambah. Ini berbeda dengan perbankan ekonomi syariah, yang ditunjukkan dalam bank syariah melakukan pendekatan, bagaimana menggerakkan pasar," katanya.

Suherman membandingkan loan to deposit rasio (LDR) atau rasio antara pinjaman terhadap dana pihak ketiga antara bank konvensional dengan bank syariah. Loan to deposit ration (LDR) bank syariah 96 persen, dan perbankan nasional 54 persen.

LDR merupakan rasio antara pinjaman terhadap dana pihak ketiga. Dalam perspektif intermediasi, perbankan syariah lebih bagus. "Ini berarti uang yang disalurkan ke masyarakat, ke sektor riil lebih tinggi di bank syariah daripada di bank konvensional," kata Suherman.

Bank syariah juga lebih mudah ditembus, karena bermodalkan kepercayaan. Pola kepercayaan ini mirip dengan Bank Gakin. "Kredit macet di bank konvensional 10-20 persen. Namun di perbankan syariah, non performing finance (NPF) hanya 5 persen," kata Suherman.

Namun Mirfano mengatakan, tak mudah juga menembus bank syariah. "Sama seperti bank pada umumnya, mereka menerapkan prinsip 5 C, salah satunya collateral atau jaminan. Bank Gakin dan para anggotanya tentu tidak punya itu," jelasnya.

Bank Gakin sebenarnya sudah berupaya mengatasi persoalan jaminan itu dengan bersatu mendirikan Koperasi Keluarga Indonesia (Kopgakin). Kopgakin didirikan oleh 31 Bank Gakin, dan siap memberikan kolateral berupa sertifikat tanah senilai Rp 200 juta. Ada harapan agar perbankan mau bermitra dengan Kopgakin, dan kredit dari perbankan digunakan untuk membiayai kegiatan ekonomi para anggota Bank Gakin. Namun, harapan itu bertepuk sebelah tangan.

Kopgakin tak cukup menarik hati perbankan. Akhirnya, Kopgakin dan Bank Gakin berjalan sendiri. Bank Gakin menyetorkan simpanan wajib dan pokok, dan dari situ uang diputar untuk memberikan pembiayaan kepada Bank Gakin yang membutuhkan.

Mirfano dan para pelaku Bank Gakin belajar dari Muhammad Yunus, Bapak Grameen Bank yang modelnya diadaptasi Bank Keluarga Miskin (Bank Gakin) dengan sejumlah inovasi. Yunus juga menemui pesimisme serupa saat berhadapan dengan pejabat bank. Ia ingin agar pejabat bank itu meminjamkan barang satu sen dua sen untuk orang miskin agar bisa mengurus diri mereka sendiri.

"Anda gila ya? Mereka tidak dapat memberi jaminan, dan jumlah sekecil itu juga tidak layak diberikan sebagai pinjaman," kata sang pejabat kepada Yunus, sebagaimana dimuat di Majalah Basis.

Mirfano, Yunus, dan orang-orang kecil itu akhirnya tahu siapa yang benar. Kegilaan tak selamanya sebuah kesalahan, ternyata. [bj/wir]


Selengkapnya..

Jumat, Juni 19, 2009

Pembangunan Pabrik Semen Puger Dimulai


Jemberpost.com
Kabupaten Jember terus bangkit, kini menyusul sektor industri yang juga mulai menggeliat dengan ditandai peletakan batu pertama pembangunan pabrik semen yang berlokasi di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember. “Semoga niat yang baik ini akan membawa kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Jember pada umumnya”, demikian tegas Bupati Jember MZA Djalal ketika melakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik semen Puger Jaya Raya Sentosa di Kecamatan Puger.
Menurut Djalal meski pembangunan pabrik semen ini kerjasama antara Pemkab Jember dengan Pemerintah China, namun dengan tidak meninggalkan rasa patriotisme dan kecintaan kepada bangsa ini, kita juga mempunyai ikatan emosional yang kuat dengan masyarakat china. Namun demikian Bupati Djalal minta agar semua uang mereka juga di simpan di wilayah ini. “Agar supaya pertumbuhan ekonomi kita semakin meningkat, sehingga akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat, “pintanya.
Nantinya setelah pabrik semen ini mulai beroperasi dan berproduksi, sebaiknya seluruh pembangunan di Kabupaten Jember ini memakai semen produksi dari Puger ini. “Sebab kalau semua bangunan pakai semen ini akan memberikan nilai tambah dan produksi semen puger ini akan meningkat tajam”, katanya.
Diakhir sambutannya Djalal minta kepada masyarakat Puger khususnya untuk ikut menjaga keamanan, ketentraman dan ketertiban. “Kalau ada sesuatu yang tidak cocok, mari kita musyawarahkan bersama dan jangan senang melakukan demonstrasi”, ajaknya.
Kedua, agar warga masyarakat Jember yang mempunyai keluarga di luar Jember, untuk melakukan investasinya di wilayah ini, sebab Bupati Djalal menjamin akan memberikan banyak kemudahan, utamanya mengenai pengurusan perijinan akan dipermudah. “Karena bagi saya, bagi pengusaha yang serius untuk menanamkan modalnya di Jember akan dibantu sepenuhnya, asalkan investasinya yang sesuai”, janjinya.
Sementara itu owner pabrik Semen Puger Jaya Raya Sentosa, Hengky Sugiharto Gunawan mengatakan bahwa keinginannya untuk mendirikan pabrik semen ini merupakan hasil kunjungannya di China yang melihat di negara tersebut banyak pabrik kecil yang dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat di China. Atas kenyataan ini, Hengky langsung menghadap Bupati, yang langsung direspon positif oleh beliau dengan menyetujui pembangunan pabrik semen diwilayah ini . “Kami langsung mengurus perijinan yang dibantu langsung oleh Bapak Bupati Djalal dengan menggerahkan stafnya dibagian perijinan”, kisahnya.
Acara selain dihadiri unsur muspida Jember, para pengusaha, SKPD Pemkab Jember juga dihadiri oleh konjen China di Surabaya ini untuk menyaksikan peletakan batu pertama pembangunan pabrik ini, dan merupakan tanda dimulainya pembangunan pabrik semen, yang juga adalah salah satu dambaan masyarakat Jember secara keseluruhan. “Pembangunan pabrik semen itu merupakan upaya guna mencukupi kebutuhan bahan bangunan murah bagi warga setempat”, ujarnya.
Karena pembangunan itu guna membantu masyarakat dalam memperoleh bahan bangunan murah, maka semen yang diproduksi harga jualnya relatif murah, jauh lebih murah dibandingkan harga semen yang kini beredaran di pasaran. “Kandungan potensi bahan baku semen di Kabupaten Jember sangat potensial, diperkirakan mencapai ratusan juta ton dengan kualitas sangat cocok untuk bahan semen dan mampu memasok industri berkapasitas dua juta ton per tahun”, katanya.
Lebih jauh, menurut Hengky pembangunan pabrik akan diselesaikan secara bertahap dan akan rampung selama 8 bulan serta direncanakan beroperasi dengan produksi seribu ton per hari dan akan dilanjutkan dengan tahap pembangunan berikutnya, sehingga produksi akan lebih meningkat menjadi 3000 ton per hari. “Sehingga pabrik ini bisa benar-benar menjadi pabrik mini yang mampu mencukupi kebutuhan akan semen diwilayah ini”, jelasnya.
Mengenai jumlah tenaga kerja yang akan terserap dalam beroperasinya pabrik ini yang mencapai antara 300 hingga 500 orang, sehingga dengan berdirinya pabrik semen ini akan lebih mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki wilayah Jember, baik SDA maupun SDM. “Dengan demikian pabrik semen ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar puger dan Jember pada umumnya” pungkasnya. (sal)

Selengkapnya..

Rabu, Juni 17, 2009

JFC Pantik Perhatian Designer Dunia


Jemberpost.com
Gelar Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ) yang pada tahun dibidik designer, mereka berminat untuk menyaksikan pagelaran BBJ, khususnya Jember Fashion Carnival (JFC). “JFC cukup mendapat respon dari designer. Mereka bahkan berniat akan datang ke sini (Jember), untuk menyaksikan pagelaran JFC,” terang Agus Sutrisno, Pejabat dari Bank Tabungan Negara (BTN), Jember.
Keinginan designer untuk menyaksikan pagelaran JFC pada BBJ tahun 2009 ini, sudah barang tentu cukup melegakan masyarakat Jember. Betapa tidak. Karena kehadiran mereka ke kota Jember dalam rangka menikmati BBJ ini, juga akan diikuti designer-designer lain dari beberapa negara.
“Kehadiran mereka ke Jember nantinya, mungkin masih sebagai penonton. Tapi untuk tahun depan, rencananya mereka akan ambil bagian dalam parade JFC di BBJ,” tandasnya.
Kepastian akan hadirnya designer dunia untuk hadir pada pagelaran BBJ itu, menurut Agus, setelah Maria Ima, pemilik Kapal Laut Galery, Sanur, Bali, membeberkan niatnya untuk datang ke Jember. Maria sendiri, kata Agus, adalah seorang designer, yang link nya cukup luas, meliputi Perancis, Singapura, Belanda dan beberapa negara lain.
“Rencananya, Maria akan menggkoordinir teman-temannya sesama designer untuk hadir ke Jember, dalam rangka menyaksikan JFC. Karena itu di sini perlu kesiapan tempat istirahatnya (hotel),”katanya.
Menurut Agus, ketertarikan Maria untuk mengajak teman-temannya sesama designer datang ke Jember, karena dari dua kali gebyar BBJ yang dilaksanakan, penampilan yang disajikan JFC cukup memukau. Informasi soal BBJ dan JFC ini, menurut Agus, kian menguatkan designer untuk datang ke Jember, setelah pada pagelaran ke tiga BBJ, pihak Humas semakin meningkatkan publikasinya hingga menyapu seluruh pelosok tanah air.
Informasi soal BBJ ini bahkan mencapai negara lain lewat pengiriman Tabloid Jember Terbina ke 50 kantor kedutaan dan perwakilan negara asing. Selain juga publikasi lewat majalah Garuda yang diterbitkan Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia Airways.
“Designer itu mendapatkan informasi dari publikasi yang dilakukan Humas. Baik internet, maupun lewat penayangan di layar televisi, media cetak dan penyebaran pamflet serta baliho di beberapa daerah, termasuk ibukota,” katanya
Dari niatan Mari ini, Agus mengaku, semakin antusias untuk turut mensosialisasikan BBJ ke seluruh teman-temannya, baik yang ada di dalam negeri, maupun mancanegara. “Teman-teman saya di luar negeri juga banyak yang saya baru tahu soal BBJ dan JFC yang menjadi mascotnya,”jelasnya.(sal)


Selengkapnya..

Selasa, Juni 16, 2009

Dilatih Jadi Teknisi Siap Pakai


Jemberpost.com
Kendati memiliki keterbatasan fisik, sebanyak 20 penyandang cacat tubuh (tuna daksa) bisa berkompetisi dengan manusia normal. Bahkan, kini telah mampu bersaing di dunia kerja. Setelah mendapatkan pelatihan intensif teknik servis komputer dan hand phone (HP) di Lingkungan Pondok Sosial (Liposos), selama 25 hari.
Keterbatasan seolah tidak lagi menjadi penghalang bagi 20 peserta pelatihan dan pendidikan servis komputer dan HP, yang terdiri atas penyandang tuna daksa. Setidaknya, kemampuannya telah teruji dalam pelatihan yang digelar oleh Dinas Sosial Kabupaten Jember selama hampir sebulan itu.
Dengan begitu, bekal kemampuan dalam mereparasi perangkat keras teknologi computer dan HP yang kini menjadi alat operasi Teknologi Informasi (TI) itu, akan sangat membantu penyandang cacat untuk hidup mandiri, dan tidak lagi bergantung pada orang lain.
“Ini akan menepis pandangan miring masyarakat, yang selama ini mengatakan bahwa penyandang cacat hidupnya bergantung pada orang lain. Karena ke depannya mereka mampu bekerja dengan keahlian yang telah didapatkannya,” kata Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jember, Suhanan, dalam acara Penutupan Pelatihan dan Pendidikan Kewirausahaan Penyandang Cacat yang dilaksanakan mulai 13 Mei-4 Juni.
Ia mengatakan, pelatihan teknik servis HP dan computer merupakan upaya Dinas Sosial guna melakukan rehabilitasi dan melatih penyandang cacat (penca) supaya mampu bersaing di dunia kerja, sebagaimana orang normal pada umumnya.
Lantaran, sebagai bagian dari masyarakat mereka perlu memberikan sumbangsih pada pembangungan daerah. Melalui komitmen tidak lagi bergantung pada orang lain. Tapi, justru akan berupaya untuk hidup berdikari berbekal kemauan dan kemampuan yang dimiliki.
“Sekarang anda tidak perlu merasa rendah diri, karena walaupun anda memiliki keterbatasan dari sisi fisik. Tapi, secara kemampuan otak dan keahlian tingkatan anda sama dengan manusia normal pada umumnya,” ungkapnya, ketika memberikan motivasi pada para penca.
Suhanan mengatakan, setelah pelatihan pada 2 kelompok usaha belajar (kube) yang tiap kube terdiri atas 10 orang itu berakhir. Rencananya, Dinsos akan memberikan bantuan peralatan lengkap servis HP dan computer pada kedua kube penca itu.
Untuk menunjang proses kemandirian 2 kube penca yang telah lulus pelatihan ini, dalam waktu dekat Dinsos akan memberikan bantuan seperangkat alat servis HP dan computer. Dengan bantuan alat tersebut diharapkan penca bisa bekerja dalam bentuk kelompok usaha bersama. “Peralatan yang diberikan oleh Dinsos nanti harus digunakan untuk bekerja secara kelompok, kalau tidak nanti akan saya ambil lagi,” kelakarnya guna menyegarkan suasana.
Bahkan, Dinsos akan memberikan fasilitas ruang perbengkelaan di Liposos untuk sementara waktu, jika tidak ada tempat untuk membuka usaha. “Bila ke depan 2 kube ini tidak memiliki tempat untuk membuka usaha sampaikan saja ke Dinsos. Nanti saya akan memberikan fasilitas tempat bengkel untuk sementara waktu,” ujarnya pada para penca yang hadir.
Lebih jauh pihaknya menyatakan, penca yang sudah dilatih oleh Dinsos itu siap terjun ke dunia kerja. Setiap 2 minggu sekali, penca itu akan mengikuti kegiatan rutinitas yang dihadiri oleh para teknisi HP di Jember. Guna membahas teknologi terbaru dan tukar-menukar informasi seputar teknik servis HP.
Dengan demikian, kemampuan dan keberadaannya telah diakui oleh para teknisi HP di Jember. “Harapan kami, nantinya mereka mampu bersaing di dunia kerja, dan hasil karyanya bisa dihargai sebagai nilai plus oleh masyarakat secara luas,” tandasnya.(sal)


Selengkapnya..

Senin, Juni 15, 2009

Pembagian Hasil Cukai Rokok Perlu Dibahas Ulang


Jemberpost.com,
Kabupaten Jember sebagai pusat tembakau Jawa Timur, memang tak bisa kita pungkiri. Bahkan sudah terkenal ke mancanegara, tembakau Jember telah menjadi konsumsi dunia. Cukai rokok yang menjadi pemasok utama devisanegara ini memang hendaknya juga dibahas mengenai pembagian hasilnya antara pusat dan daerah. Itulah tema yang diangkat dalam Seminar sehari Strategi dan kebijakan peningkatan cukai rokok yang digelar di Pendopo Wahyawibawa graha, (15/6).
Seminar yang dihadiri oleh para Bupati Jember, pengusaha rokok kecil dan menengah, pakar tembakau Jember, Ka. Biro Perekonomian Jatim, Perwakilan Kantor Bea & Cukai Jawa Timur.
Menurut Kabiro Perekonomian Jatim, Dr. Ir. Rb. Fattah Yasin, Msi, bahwa melihat dari potensi yang ada di propinsi Jawa Timur sangatlah membanggakan dalam menyumbang devisa untuk negara. Disamping Jawa Timur sebagai lumbung pangan, pusat perkebunan tebu, dsb. Semua itu, banyak disumbangkan oleh Kabupaten-Kabupaten yang sangat produktif, diantaranya Kabupaten Jember. “Meski diakuinya, bahwa kontribusi dari dampak tersebut tak sepadan dari apa yang diberikan oleh daerah ke pusat, “katanya.
Oleh karena itu, memang sudah sepantasnya bahwa dengan otonomi daerah seharusnya pembagian tersebut haruslah seimbang, mengingat kebutuhan kabupaten dalam membangun infrastruktur yang baik untuk mempermudah para petani dalam meningkatkan hasil produksinya.
Pada dasarnya, daerah atau Kabupaten hanya menerima dari hasil cukai rokok tersebut sebesar 2 % dari hasil penjualan cukai yang ada, itupun dana hasil pembagian cukai diserahkan oleh pusat melalui pemerintah propinsi dalam bentuk pembangunan-pembangunan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan fasiliatas umum, “tegas Fattah.
Bupati Jember, MZA Djalal, juga mengungkapkan bahwa melihat dari kontribusi yang sangat besar tersebut. Memang, tak selayaknya daerah khususnya Kabupaten hanya menikmati 2 % dari penjualan cukai tersebut.
Bayangkan, Jawa Timur mempunyai 3 Kabupaten penghasil tembakau terbaik nasional, maupun mancanegara, misalnya Bojonegoro, Pamekasan, dan Jember sendiri. Didukung kabupaten-kabupaten penghasil tembakau lainnya.
Disamping itu juga, tegas Djalal, pabrik rokok terbanyak adalah di wilayah Jawa Timur. Bayangkan, jika dalam 1 tahun saja Kabupaten Jember lewat satu pengusaha kecil rokok memberikan kontribusi sebesar 150 ribu/bulan, jika dikalikan 1 tahun sudah berapa?, “tandas Djalal.
Oleh karena itu, jika hanya mendapat 2 %, dan itupun diterima oleh Pemprop dalam bentuk pembanguan fasilitas-fasilaitas yang ada. Belum lagi, lanjut Djalal, bahwa konsumsi rokok di Jember tergolong sangat tinggi. Dalam per-hari, produsen rokok bisa menjual hampir ± 2 ribu-3 ribu batang.
Oleh karena itu, Djalal, meminta agar Pemprop sebagai pemegang wilayah agar mampu mengakomodir yang ada di Kabupaten sebagai bahan rujukan untuk kembali membahas pembagian hasil cukai antara pusat dan daerah. Mengingat kebutuhan kabupaten juga sangat tinggi, khususnya dalam kebutuhan Kabupaten terhadap peningkatan kualitas SDM yang ada, “pungkas Djalal. (sal)


Selengkapnya..

Kamis, Juni 04, 2009

Anggota Bank Gakin Tumbuh 80 Persen Setahun

Jemberpost.com - Perkembangan Lembaga Keuangan Mikro Masyarakat (LKMM) atau biasa disebut Bank Gakin, banknya keluarga miskin, patut diacungi jempol. Sampai dengan Desember 2008 lalu, tercatat jumlah bank Gakin sudah mencapai 37 unit.Ke-37 unit LKMM tersebut tersebar di 37 dusun, 26 desa/kelurahan dan 14 kecamatan dengan jumlah anggota sebanyak 4.834 orang pengusaha mikro perempuan. Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, yakni sekitar 3 tahun, bank Gakin mulai menunjukkan perkembangan yang sangat positif.

Jumlah anggota mengalami peningkatan rata-rata 80 persen per tahun. Nilai omset atau pemberian pinjaman meningkat rata-rata 238 persen per tahun dan nilai asset meningkat rata-rata 81 persen per tahun.

Dan secara tidak langsung keuntungan usaha meningkat cukup siginfikan. "Berdasarkan laporan seluruh LKMM yang kami terima setiap bulan, nilai omset atau pemberian pinjaman untuk anggota selama tahun 2008 lalu nilainya mencapai Rp 8,3 milyar," jelas Kepala Dinas Koperasi (Kadiskop) Jember, Mirfano selaku Pembina dan penggagas berdirinya LKMM.

Untuk menciptakan sifat tidak bergantung pada pemerintah, maka Mirfano terus mendorong partisipasi masyarakat. Dan hal ini telah dirintis melalui pembentukan LKMM swadaya yang sumber permodalannya bukan dari APBD melainkan berasal dari infaq/shodaqoh tokoh masyarakat dan institusi kemasyarakatan yang memiliki kepedulian terhadap pengusaha mikro keluarga miskin.

"Hingga saat ini telah terbentuk 3 unit LKMM swadaya yang tersebar di 3 dusun dengan performance yang cukup baik," imbuhnya.

Keberadaan bank Gakin selama 3 tahun terakhir ternyata telah mampu menumbuhkan sumber-sumber keuntungan (profit center) yang baru di wilayah dusun. Perputaran modal, meski kecil, ternyata cukup signifikan menggerakkan roda perekonomian.

Tumbuhnya wirausaha baru seperti penjual cilok, penjual bakso, penjual bensin, penjual kerupuk, penjual sayur, penjual gorengan, mindring serta berbagai jenis usaha mikro lainnya menjadi indicator nyata.

Bahwa peran mereka telah menumbuhkan harapan baru ditengah himpitan dan kesulitan ekonomi yang dihadapi keluarga miskin selama ini. Para ibu rumah tangga yang tadinya hanya bergantung pada penghasilan suami, kini telah memiliki sumber pendapatan sendiri yang merupakan tambahan penghasilan bagi keluarganya (income generating).� [bj]


Selengkapnya..

Kamis, Mei 21, 2009

Hebaat… Omzet Koperasi Jember Rp 263,5 Miliar

Jemberpost - Omzet koperasi di Jember mencapai Rp 263,5 miliar. Nilai tersebut setara dengan 2,67 persen dari Produk Domestik Regional Bruto semester kedua tahun 2008.Persentase sumbangan sektor koperasi lebih baik daripada sektor pertambangan dan penggalian yang sekitar 1,40 persen. Namun omzet sebesar itu masih belum maksimal.

"Itu omzet dari 283 unit koperasi yang telah melaksanakan rapat anggota tahunan (RAT) tahun lalu, dan melaporkannya kepada kami. Masih ada yang melaksanakan RAT namun tidak melaporkan, atau belum melaksanakan RAT," kata Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Jember, Mirfano.

Dari sisi penyerapan tenaga kerja, ratusan koperasi yang telah melaksanakan RAT tahun 2008 itu cukup bagus. Tercatat, koperasi-koperasi ini mempekerjakan 3.924 orang karyawan.

Dibandingkan tahun 2007, angka omzet dan daya serap tenaga kerja kurang lebih 10 persen lebih bagus. "Ini menunjukkan krisis global tidak terlalu signifikan mempengaruhi performa koperasi," kata Mirfano.

Dengan daya serap tenaga kerja, sektor koperasi boleh dibilang 'mengalahkan' program Jember Job Market Fair tahun 2008. Tahun lalu JMF menyerap 2.750 orang pencari kerja.

Namun, Dinkop Jember masih patut prihatin. Kendati omzet koperasi mencapai ratusan miliar rupiah, namun jumlah koperasi yang 'tidur' ternyata lebih besar, yakni 511 unit. Mereka tidak bisa dibubarkan, karena Dinkop kesulitan menemukan pengurus maupun anggota organisasi koperasi itu.[bj/sal]


Selengkapnya..

Selasa, April 21, 2009

Usaha Mikro Diberi Kredit Tanpa Agunan


Jemberpost.com
Program kredit tanpa agunan segera diluncurkan oleh Bank Indonesia (BI) pada usaha mikro masyarakat. Hal tersebut merupakan bentuk pelayanan sekaligus kepedulian BI guna meningkatkan taraf hidup masyarakat Jemberyang memiliki nilai ekonomi prospektif dalam usaha di bidang ekonomi informal.
Menurut Kepala BI Jember, A Rasyid Madjid, kredit tanpa agunan hendak diberikan pada usaha kecil atau mikro yang telah mempunyai nilai ekonomi prospektif. “Kita semua tahu, bahwa sebenarnya bank itu tidak mempunyai uang. Karena 90 persen uang yang ada di bank adalah uang dari masyarakat. Sehingga bank harus hati-hati dalam memberikan kredit. Kalau usahanya prospektif insya Allah akan dibiayai,” tuturnya.
Nilai kredit tanpa agunan yang hendak diberikan pada masyarakat itu berentang jumlah pinjaman antara Rp 1-50 juta. “Masyarakat bisa meminjam uang di bank untuk usahanya, dengan rentang pinjaman minimal Rp 1 juta dan maksimal Rp 50 juta,” ungkapnya.
Keberanian BI memberikan kredit tanpa agunan itu bukannya tanpa alasan. Namun sebelumnya, BI telah melakukan riset terhadap penghasilan rata-rata dan jumlah tabungan masyarakat Jember di bank. “Kami meluncurkan kebijakan ini didasari pada penelitian pendapatan rata-rata masyarakat. Kesimpulannya, saat ini rakyat di Kabupaten Jember sudah meningkat pendapatannya,” terangnya.
Ia mengatakan, rata-rata masyarakat Jember memiliki tabungan di bank senilai Rp 1 juta. Sedangkan dari skala penghasilan, lanjutnya, masyarakat tiap bulannya memiliki uang Rp 700 ribu. Lantaran, nilai Upah Minimum Kabupaten (UMK) Jember saat ini telah mencapai Rp 770 ribu.
“Mudah-mudahan ke depannya semakin banyak orang yang menyimpan uangnya di bank, sehingga akan banyak pula kredit yang akan dikucurkan pada masyarakat. Yang nantinya akan memberikan kemakmuran pada masyarakat. Dan percayalah, jika usaha masyarakat prospektif bank dengan sendirinya akan memberikan kredit tanpa agunan,” tengaranya.
Untuk itu, imbuhnya, guna kelancaran proses pinjam-meminjam tersebut. Pihaknya akan menjalin kerjasama dengan instansi pemerintah. “Ke depan kita akan bekerjasama dengan instansi terkait, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten untuk membantu kredit yang skalanya kecil dengan tanpa agunan,” jelasnya.
Kerjasama itu, sambungnya, dimaksudkan untuk mengimplementasikan kredit yang skalanya kecil. Dengan begitu, masyarakat bisa mulai menggulirkan usahanya dengan modal yang cukup. Imbas yang diharapkan, tentunya akan terangkatnya perekonomian masyarakat. Itu berarti, hal ini peluang bagi masyarakat yang sejauh ini memiliki kemauan dan memampuan, tapi lemah dari sisi permodalan.
Rasyid memastikan, program kredit tanpa agunan yang digelontor pada masyarakat Jember itu, setidaknya baru akan operasi tahun 2010. Pasalnya, untuk implementasi program tersebut BI perlu menyiapkan rencana dan mekanisme yang efektif.
“Karena uang itu adalah uang rakyat. Maka setelah program ini bergulir, masyarakat harus mengembalikan uang yang dipinjamnya. Dengan demikian, hasil uang yang digulirkan akan dikembalikan lagi pada masyarakat,” paparnya.(sal)

Selengkapnya..

Rabu, April 08, 2009

Kandungan Residu Tembakau Jember Turun

Jemberpost.com
Tingkat kejenuhan kandungan residu tembakau Jember mulai menurun, lantaran petani tidak lagi menggunakan jenis pestisida yang dilarang dalam menangani hama penyakit tanaman tembakau. Dengan demikian mempengaruhi nilai positif tembakau asal Jember di pasar lelang tembakau dunia.Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Jember, Dwijo S, mengatakan, kualitas pertembakauan Jember dipengaruhi oleh proses proses tanam di kebun (on farm) dan pengolahan paska panen (off farm). “Kualitas tembakau sangat dipengaruhi oleh proses on farm dan off farm,” ungkapnya.
Pada saat on farm, katanya, petani perlu memperhatikan 4 perlakukan tanaman tembakau. Yakni, pemilihan kualitas bibit, pengolahan lahan, pemupukan dan paska panen. “Keempat hal ini perlu terus dipantai ketika petani mulai saat menanam hingga pemanenan tembakaunya,” terangnya.
Bibit unggul yang dipilih oleh petani, tentunya bakal mempengaruhi kualitas tanaman yang dipetik oleh petani. Demikian juga selama proses pemupukan. Kadar pupuk harus mengikuti standar yang sudah ditetapkan, bila terlalu banyak akan berpengaruh buruk terhadap kualitas tembakaunya. Makanya, petani harus secermat mungkin dalam menentukan jumlah pupuk yang digunakan.
Ia mengatakan, dalam penanganan hama penyakit tembakau, petani tidak disarankan menggunakan jenis pestisida tertentu yang dilarang karena akan mempengaruhi kadar residu yang menempel pada daun tembakau. Oleh sebab itu, takaran pestisida selain sesuai dengan dosis juga harus menggunakan pestisida yang telah direkomendasi dan aman digunakan.
“Meningkatnya kadar residu pada daun tembakau disebabkan oleh banyaknya jumlah pestisida yang menempel pada daun tembakau. Sebenarnya ada beberapa pestisida yang dilarang digunakan dalam menangani hama penyakit tembakau, tapi tetap saja digunakan petani. Inilah salah satu penyebab meningkatnya jumlah residu pada tembakau,” ungkapnya.
Lebih jauh, dikatakannya, tingginya kandungan residu bisa disebabkan oleh 2 hal. Pertama, hasil kiriman pestisida yang terbawa oleh angina dari tanaman yang ditanam berdekatan dengan kebun tembakau. “Kandungan pestisida yang menempel pada daun akan meningkat salah satunya, jika angina mengirim butiran-butiran pestisida pada lahan yang berdekatan dengan kebun tembakau. Meskipun petani tidak menyemprot tembakaunya dengan pestisida tapi kiriman residu bisa saja diterima dari lahan tetangga,” ujarnya.
Kedua, memang dengan sengaja petani melakukan penyemprotan lahan tembakau dengan zat pembunuh hama pengakit. Jika bahan yang digunakan beresiko terhadap daun tembakau sudah barang tentu kadar residunya akan meningkat.
Kendati begitu, lanjutnya, kadar residu pada tembakau Jember saat ini sudah mulai berkurang. “Tingkat residu tembakau Jember saat ini sudah mulai menurun dan cukup bagus. Sehingga ekspor tembakau kita telah mendapatkan nilai positif karena kadar penggunaan pestisida sudah mulai dikurangi oleh para petani,” terangnya.
Penurunannya, katanya, walau belum berada di bawah ambang batas, tapi sudah pada rata-rata terendah. Petani masih menggunakan pestisida karena ada tanaman tertentu yang masih ditakutkan oleh para petani akan mengancam tumbuh kembang tanamannya. “Penyakit yang ditakutkan oleh petani Jember salah satunya adalah kutu daun dan busuk akar pada awal tanam,” jelasnya.
Sementara itu, Dwijo menengarai, proses off farm yang berpengaruh pada kualitas tembakau, umumnya terdapat pada proses pengopenan. “Jika pengopenan atau pemanasan kurang optimal tentu saja akan berpengaruh pada kualitas tembakau. Dan jika dibiarkan selama 3 bulan baunya menjadi apek,” tuturnya.(sal)


Selengkapnya..

Senin, April 06, 2009

Masyarakat Umbulsari Tekuni Usaha Keripik Singkong

Jemberpost.com,
Selain terkenal dengan buah Jeruk dan Salaknya, ternyata Kecamatan Umbulsari juga menyimpan potensi yang lain, yaitu produk makanan keripik singkongProduk keripik singkong ini tampaknya kian hari kian mampu menggairahkan tingkat perekonomian masyarakat setempat. Hal itu dibuktikkan dengan semakin seriusnya masyarakat di kecamatan tersebut untuk terus menghasilkan Keripik singkong yang berkualitas.
Menurut Camat Umbulsari, Purwoadi, makanan ringan (camilan, red) dengan bahan baku singkong itu kini semakin diminati masyarakat Umbulsari untuk meningkatkan kehidupan perekonomiannya. “Masyarakat Umbulsari semakin serius menekuni usaha pembuatan keripik singkong ini, menurut saya itu adalah hal yang sangat bagus guna meningkatkan taraf ekonomi masyarakat”, jelasnya.
Sebagai aparat kecamatan, Purwoadi akan berupaya untuk memberikan fasilitas berkembangnya usaha ini. “Kami akan bekerjasama dengan Disperindag untuk mempermudah pemasaran usaha keripik singkong ini dan untuk masalah permodalannya, kami akan bekerjasama juga dengan instansi pemerintah yang terkait”, tegasnya.
Terpisah, Nur Kholik, salah seorang pengusaha Keripik Singkong Manis mengatakan, pada awal usahanya dirinya membuat keripik singkong dalam jumlah terbatas, yakni sekitar 20 Kg saja, sedang bahan bakunya diambil dari Kecamatan Sumberbaru. Namun, kini ia sudah bisa memproduksi keripik singkong hingga 130 Kg/hari. “Alhamdulillah, saat ini kami sudah bisa memproduksi keripik singkong hingga 130 Kg/hari”, tukasnya.
Ditanya mengapa dirinya membeli bahan baku singkong dari Sumberbaru, ia mengatakan hal ini karena jenis singkong yang berasal Umbulsari kurang berkualitas jika dibuat keripik. “Saya tidak mengambil bahan baku singkong dari Umbulsari, tapi membelinya di Sumberbaru, sebab singkong dari Sumberbaru jika dibuat keripik rasanya lebih renyah”, kilahnya.
Sedang untuk pemasaran keripiknya, Nur Kholik menjual keripik buatannya ke tiga kecamatan sekitarnya, yaitu Semboro, Gumuk Mas dan Kencong.
Nur Kholik dan juga pengusaha keripik singkong lainnya di Umbulsari berharap, Pemkab dapat memberikan stimulus untuk usaha ini agar menjadi lebih berkembang, sehingga dapat menyerap tenaga kerja di daerahnya sebagai upaya pengentasan pengangguran. “Saya mewakili semua pengusaha Keripik singkong di Umbulsari berharap agar Pemkab dapat memberikan bantuan modal ataupun jaringan pemasaran terhadap usaha ini”, jelasnya lagi.
Sementara itu, Kades Gunungsari, Sulardi Anwar mengatakan, produk keripik singkong yang dikelola masyarakatnya itu merupakan jenis home industry. Dengan home industry tersebut, kata dia, mereka kini sudah mampu memberikan kesempatan kerja pada masyarakat sekitarnya. “Artinya. dengan adanya home industry tersebut, kini kesempatan kerja bagi penduduk Umbulsari semakin besar, selain itu juga mampu memberikan peningkatan kesejahteraan ekonomi”, tandasnya.
Sulardi menambahkan, saat ini pemasaran keripik singkong buatan masyarakat Umbulsari makin laris. “Bayangkan saja, sekitar 200 Kg keripik singkong bisa habis dalam waktu dua jam saja”, cetusnya.
Ke depan, terang Sulardi, pemasaran Keripik singkong ini juga akan merambah pasar supermarket dan department store di wilayah Jember dan sekitarnya. (sal)


Selengkapnya..

Sabtu, Februari 28, 2009

Hari Ini Pameran Durian

Jemberpost.com,
Rencananya hari ini di Outlet Produk Unggulan Jubung tepatnya di lahan perhutani diadakan pameran Durian. Besarnya potensi pertanian, khsususnya buah di Kabupaten Jember, akan bisa dinikmati masyarakat Jember dan sekitarnyaKarena itu dibutuhkan upaya untuk memperkenalkan komoditas buah durian Jember ke masyarakat lain daerah. Dengan cara seperti ini, setidaknya buah-buahan hasil pertanian Jember akan semakin dikenal oleh masyarakat luar, dan pada akhirnya, pendapatan petani melalui buah-buahan yang dihasilkan juga akan semakin membaik. Promo ini merupakan Warming Up (Pemanasan) bagi petani serta Pemkab melalui Kecamatan yang melukakan kolaborasi usaha dengan pihak Koperasi Samarot untuk mengenalkan potensi pertanian kabupaten Jember di kancah nasional, bahkan internasional. Adapun jenis durian yang akan dijajakan sekaligus dipemerkan antara lain Durian pelor, Polai, Ronjengan, Kasur, Si Belanda, Fatima. Durian ini menurut pihak penyelenggara merupakan buah durian unggulan petani kecamatan sumberjambe.
Menurut Camat Sumber Jambe, Abdul Kadir, harapan dari digelarnya pameran di Jember Outlet ini bisa meningkatkan pendapatan para petani buah durian, selain membantu mempermudah pemasarannya. “Dengan pasar raya durian ini kita berusaha menarik perhatian para maniak buah durian supaya datang ke Sumber Jambe,” tegasnya.
Kadir juga mengatakan, durian Sumber Jambe memiliki varietas yang khas dan banyak diminati oleh masyarakat Jember, bahkan sangat diminati oleh penggemar durian tingkat regional. “Kita mengajak masyarakat Jember dan di luar jember, supaya berkunjung ke Sumber Jambe, karena di sini banyak buah durian yang memiliki rasa yang khas terutama durian-durian varietas unggul yang pohonnya berumur antara 100 sampai 200 tahun,” ungkapnya
Amir, anggota koperasi Samarot mengemukakan, promo ini bertujuan mendongkrak perekonomian masyarakat petani durian di kab. Jember, khususnya masyarakat petani durian kec. Sumberjambe. Format promo tersebut, lanjut Amir, berbeda dengan kontes durian. Jika dalam kontes durian masyarakat datang untuk ikut lomba.
Sementara, pada kegiatan promo ini, masyarakat datang untuk berbelanja dan menikmati kelezatan buah durian yang dijual oleh para petani durian. ”penggemar di outlet ini, akan sangat dimanjakan oleh aneka macam durian” terangnya. Disamping harga yang tidak jauh berbeda dengan harga di pasar tradisional, lanjut Amir. Pihaknya menengarai, Jember Outlet ini diprediksi akan ramai. Mengingat ketenaran durian Sumber Jambe tidak hanya dikenal oleh pribumi Jember saja. Bahkan, wisatawan sekaligus konsumen durian Sumber Jambe juga berasal dari Surabaya, Bondowoso, Probolinggo, dan Lumajang. Penyedia buah durian dalam promo tersebut berasal dari desa-desa penghasil durian.
Selain daripada itu, di Jember Outlet juga menyediakan jajanan atau dodol yang berbahan asli dari durian, produk ini adalah kreasi dan kerjasama antara petani dan tim penggerak PKK kecamatan sumberjambe. Maka dengan event ini, para petani durian khususnya anggota Koperasi Samarot sangat berharap agar event-event pameran semacam ini dapat terus dilaksanakan, serta difasilitasi oleh Pemkab, sehingga bisa mendongkrak ekonomi petani, sekaligus mempromosikan Kabupaten Jember di kalangan masyarakat pencinta Durian.
Selama ini petani selalu menggantungkan diri pada tengkulak dengan sistim ijon atau tebas. Lebih lanjut Amir juga mengatakan dalam ajang promo ini akan tersedia ± 1.500 buah yang telah teruji baik secara kualitas maupun rasa.” Jadi jangan kuatir mas, pokoknya rasa duriannya Mak nyuuusss,,,”sembari tertawa.(sal)


Selengkapnya..

Rabu, Februari 25, 2009

Sumberjambe Bakal Gelar Pasar Raya Durian

Jemberpost.com
Guna menarik masyarakat ke Kecamatan Sumber Jambe yang menjadi sentra hortikultura buah durian. Rencananya, pasar raya durian digelar minggu ketiga bulan Maret mendatangDurian yang ditawarkan pada masyarakat didrop dari 4 desa kecamatan tersebut. Harapannya, imbas pasar raya itu bisa meningkatkan pendapatan para budidayawan buah berduri itu.
Menurut Camat Sumber Jambe, Abdul Kadir, setidaknya pasar raya durian Sumber Jembe bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat disamping membantu mempermudah pemasarannya. “Dengan pasar raya durian ini kita berusaha menarik perhatian para maniak buah durian supaya datang ke Sumber Jambe,” katanya.
Ia mengatakan, durian Sumber Jambe memiliki varietas yang khas dan banyak diminati oleh masyarakat Jember maupun luar Jember. “Kita mengajak masyarakat Jember supaya berkunjung ke Sumber Jambe, karena di sini banyak buah durian yang memiliki rasa yang khas terutama durian-durian varietas unggul yang pohonnya berumur antara 100 sampai 200 tahun,” ungkapnya.
Format pasar raya tersebut, lanjutnya, berbeda dengan kontes durian. Jika dalam kontes durian masyarakat datang untuk ikut lomba. Sementara, pada kegiatan tersebut masyarakat datang untuk berbelanja dan menikmati kelezatan buah durian yang dijual oleh para petani durian. “Formatnya bukan lomba-lomba, tapi mayarakat membeli langsung buah durian pada para petani durian,” terangnya.
Pihaknya menengarai, pasar raya ini diprediksi akan ramai. Mengingat ketenaran durian Sumber Jambe tidak hanya dikenal oleh pribumi Jember saja. Bahkan, wisatawan sekaligus konsumen durian Sumber Jambe juga berasal dari Surabaya , Bondowoso, Probolinggo, dan Lumajang. “Mereka suka pada cita rasa khas durian kita,” tuturnya.
Penyedia buah durian dalam pasar tersebut berasal dari desa-desa yang sedang mengalami musim panen durian. Pasalnya, panen raya buah durian ini berbeda di tiap-tiap dearah. “Stok buah duriannya diambilkan dari desa-desa tertentu di lingkungan Kecamatan Sumber Jambe, karena tiap daerah tidak sama masa panen rayanya,” tengaranya.
Pada bulan Maret, lanjutnya, penyetok buah durian untuk pasar raya berjumlah 4 desa, yakni Desa Plerean, Jambe Arum, Pringgodani, dan Rowosari. “Keempat desa itulah pada bulan Maret nanti memasuki panen secara bersamaan, dan bisa dikatakan panen rayanya akan terjadi di keempat desa itu,” jelasnya.
Kadir mengatakan, masyarakat sekitar cukup antusias menyambut pelaksanaan pasar raya durian. Mengingat di beberapa tempat, pohon durian sedang memasuki masa panen. Apalagi harga buah durian saat ini mulai mengalami tanjakan, semenjak dilaksanakannya kontes durian pada tahun lalu. “Jika sebelum kontes satu pohon durian siap panen menghasilkan pendapatan sebesar Rp 500 ribu-1 juta, tapi setelah kontes satu pohon mampu mendatangkan rezeki bagi petani durian hingga Rp 5 juta,” tegasnya.Untuk masalah tempat, sambungnya, masih sedang dicari yang paling representatif. Paling tidak, ada 3 tempat yang menjadi pertimbangannya, antara lain Lapangan Kecamatan Sumber Jambe, Desa Sumber Jambe dan Desa Gunung Malang.(sal)


Selengkapnya..

Senin, Februari 23, 2009

Krisis Buka Peluang Investasi di Pasar Modal


Jemberpost.com,
Awal tahun 2010 mendatang sudah dapat dipastikan pasar modal akan semakin signifikan dalam berinvestasi. Karena disisi lain banyak keuntungan yang diperoleh apabila berkecimpung dalam dunia pasar modal, tetapi sebaliknya resiko yang didapatkan juga akan sangat besar dan tinggal bagaimana kita menangkap peluang dan tantangan di dunia pasar modal. Demikian disampaikan Agustina Dewi, Koordinator Devisi Sentra Informasi PT. BEI Surabaya di Hotel Bintang Mulia saat menjadi narasumber tunggal kegiatan Karya Latihan Wartawan yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Jember bekerjasama dengan PT. Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) Jember.
Banyak pertanyaan muncul dari kalangan pemodal yang berkantong tebal, salah satunya kemanakah akan menginvestasikan dananya yang aman dan menguntungkan ? Pertanyaan semacam itu selalu menggelayuti benak banyak orang terutama para investor dan perusahaan yang sudah go publik.
Wajar sekali jika setiap orang menghendaki uangnya disimpan di tempat yang aman dan bisa tumbuh pesat. Kalau disimak ada dua kata kunci yang harus diperhatikan di sini, yakni aman dan tumbuh. “Aman berarti dana yang dimiliki tidak berkurang, apalagi hilang. Tumbuh berarti, dana yang dimiliki bisa berkembang nilainya. Kalau bisa jumlahnya berkembang menjadi berlipat-lipat, “katanya.
Namun menurut Agustina Dewi, sang wanita karier yang sudah belasan tahun menggeluti dunia pasar modal bahwa harus diingat tingkat keamanan dan besarnya pertumbuhan atau keuntungan yang diperoleh seringkali tampil dalam dua dimensi yang tarik-menarik, mana yang mendapat skala prioritas ? Tingkat keamanan atau tingkat pertumbuhan ? Jika tingkat keamanan yang Anda tekankan, jangan harap Anda bisa mendapatkan keuntungan besar. Umumnya, investasi yang menekankan faktor keamanan akan menghasilkan return yang setara dengan tingkat bunga deposito. “Sebaliknya, jika pertumbuhan yang dikejar, jangan berpikir bahwa dana bisa disimpan di tempat yang aman dan bebas risiko. High risk high return (hasil tinggi, risiko tinggi), begitulah persiapan bila ingin bergabung dalam dunia investasi dipasar modal, ”lanjutnya.
Pertanyaan lebih lanjut, mungkinkah investasi dengan faktor risiko diperkecil, tetapi tetap bisa menghasilkan return yang besar ? Jawabnya sangat mungkin. Dewasa ini, ilmu investasi dan keuangan telah mengajarkan banyak teori, banyak trik dan strategi mengelola risiko dengan baik, tetapi tetap menghasilkan keuntungan berlimpah. Semua itu bisa dilakukan melalui investasi di pasar modal dengan berbagai instrumen investasi yang ada, mulai dari ekuitas atau saham, waran, opsi hingga macam-macam surat utang. “Hanya melalui pasar modal, investasi Anda bisa tumbuh jauh di atas bunga deposito, “katanya optimis.
Banyaknya saham yang harganya turun sebagian besar sangat disebabkan oleh rentannya terhadap isu yang terjadi termasuk isu teror bom, isu politik dan semacamnya. Tetapi justru inilah peluang dan kesempatan emas untuk meraih untung besar. “Saat pasar dilanda krisis, sebaiknya investor tidak menjauh, justru ancang-ancang untuk memulai investasi yang sebenarnya di pasar modal, “terangnya.
Jika Anda masih ragu dan takut rugi investasi di pasar modal di saat krisis, luangkan waktu untuk datang ke PT. Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM). “Anda akan mendapat wawasan lengkap dan strategi investasi lebih pas, “ujar Agustina Dewi seraya berpromosi.
Sementara itu Ketua PWI Perwakilan Jember, Samsul Hadi Irsyad mengatakan kegiatan KLW ini sangat tepat dilaksanakan karena dinilai akan memberikan wawasan yang luas terhadap pemahaman para wartawan mengenai dunia pasar modal.. ”Apalagi PT. PIPM Jember baru setahun yang lalu di buka di Kabupaten ini, sehingga perlu pemahaman kepada masyarakat luas, khususnya para pemodal dan perusahaan besar yang sudah go publik, “ujarnya.
Dengan pemahaman dan edukasi mengenai pasar modal ini, Samsul berharap para kuli tinta akan belajar dan belajar lebih banyak memahami dan pentingnya mendalami dunia pasar modal terutama menghadapi persaingan bisnis global, sehingga kedepan akan lebih banyak pengusaha yang berkecimpung dan menaruh modalnya di pasar modal. “Acara ini dilaksanakan sekaligus bertepatan dengan Hari Pers Nasional dan HUT PWI ke-63 di Kabupaten Jember, “pungkasnya. (sal)


Selengkapnya..

Minggu, Februari 22, 2009

Kontes Durian Sepekan di Jember

Jemberpost.com – Akhir bulan ini Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Jember. menggelar kontes durian akan dimulai tanggal 28 Februari 2009. Dengan digelarnya kontes tersebut, harga durian di tingkat petani terdongkrak. Dulu durian dibeli di pohon oleh tengkulak dengan harga murah, kini sudah dihargai dengan harga layak.

"Dampak positifnya, ya harga tidak murah lagi, petani durian jadi lebih untung, bukan hanya pedagangnya saja yang untung," ujar Kepala Dinkop Jember Mirfano.

Dengan demikian keuntungan juga dirasakan oleh petani, bukan hanya pedagang saja. Padahal biasanya pedagang membeli dengan harga sangat murah dan menjual dengan mahal.

"Kontes kali ini sesuai rencana bakal digelar di halaman TPK Perhutani di Jubung, yang sudah direhab menjadi pusat oleh-oleh Jember," katanya. [BJ]


Selengkapnya..
Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template custom by Adiguna