Jemberpost.com-Masih banyaknya pasar yang dinilai belum layak dikatakan pasar, terus menjadi perhatian Dinas Pasar Kabupaten Jember. Dinas Pasar, yang baru berdiri sejak tahun 2009 ini, melihat selama ini pasar di Kabupaten Jember belum efisien.Karena itu perlu ditata dan diberdayakan, agar efisien. Ini sejalan dengan program efisiensi pasar yang sebentar lagi akan segera direalisasikanya. Menurut Kepala Dinas Pasar, Drs Hasi Madani, selain perlu diefisiensikan, pedagang sebagai pelaku pasar, perlu diberdayakan lewat penguatan paguyuban asosiasi pedagang. Sehingga dengan ini akan ada peningkatan pendapatan dari tarif retribusi sesuai Perda 13/2006.
Selama ini, menuru Hasi, penerimaan retribusi pasar-pasar terbilang relatif kecil hanya berkisar Rp.30 ribu hingga Rp 75 ribu per hari. Sementara petugas pasarnya mencapai 5-6 orang, ditambah masing-masing pasar ada satu mantri pasar. “Ini sangat tidak efisien,”ujarnya.
Dicontohkan, tiga pasar kecil di dalam kota, seperti Pasar Kreongan, Bungur dan Patrang, selayaknya dimerger dengan satu mantri pasar saja. Masing-masing dari pasar itu harus ada 1 juru pungut dan 2 petugas kebersihan. Efiensi ini melihat kebutuhan tenaga kerja pasar disesuaikan dengan volume dan beban kerja yang ada, sehingga secara otomatis akan terjadi keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran.
“Kajian langkah efisiensi ini telah dibahas bareng bersama mantri pasar di kabupaten Jember dan efisiensi ini akan diluncurkan setelah saya melaporkan dan dapat petunjuk dari bupati,” katanya.
Sementara terkait pemberdayaan pedagang, Hasi menjelaskan, bahwa penguatan kelembagaan yang eksis akan berfungsi untuk penguatan pedagang itu sendiri. Selama ini, kecenderungan yang terjadi, pedagang suka berjalan sendiri-sendiri, ketika negoisasi dengan supplier.
Munculnya kecenderungan seperti ini menunjukkan, pedagang masih belum mendapat harga sesuai dengan yang dikehendaki (murah). Namun jika pedagang bersatu dalam paguyuban, maka kebutuhan masing-masing pedagang bisa dibeli di paguyuban. Karena paguyuban ketika bernegoisasi dengan pengambilan jumlah besar maka akan mendapatkan harga yang pasti lebih murah.
“Itu kekuatan besar, apalagi jika paguyuban-paguyuban bersatu dalam asosiasi, maka negoisasi tak hanya dengan distributor lokal, namun bisa dengan distributor besar bahkan pabrik,”tuturnya.
Kegiatan efisiensi pasar, pemberdayan pedagang dengan penguatan kelembagaan ini pada saatnya nanti akan berpengaruh pada peningkatan pendapatan hasil tarif retribusi sesuai perda. Selain itu juga akan memberikan kontribusi positif dalam penyelenggaraan pemerintah daerah dengan kemandirian ekonomi. “Saya telah mengundang beberapa paguyuban dan mereka merespon positif ide ini,”kata Hasi.
Diharapkan dengan cara seperti ini, ke depan pasar di Jember akan lebih bergairah dan pedagang akan lebih sejahtera. Demikian juga konsumen akan merasa senang berbelanja di pasar. (sal)
Kategori
Blog Archive
Kamis, Desember 31, 2009
Pasar Diefisienkan, Pedagang Diberdayakan
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Bisnis, Ekonomi, Layanan Publik, Pemberdayaan
Rabu, Desember 30, 2009
UMK Jember Rp. 830.000, Gaji Jukir Rp. 150.000
Jemberpost.com-Upah Minimum Kabupaten (UMK) Jember telah ditetapkan. Jika dibandingkan dengan Tahun 2009, UMK Tahun 2010 mendatang mengalami kenaikan, dari 770 Ribu Rupiah naik menjadi 830 Ribu Rupiah. Tentunya ini menjadi kabar baik bagi para pekerja. Berdasarkan undang-undang ketenagakerjaan, Gubernur sudah harus menetapkan UMK paling lambat 40 hari sebelum diberlakukannya pada tanggal 1 Januari 2010.
Sementara ini, ditengarai selama ini masih banyak perusahaan di Kabupaten Jember yang tidak membayar karyawananya sesuai UMK dan paling banyak dari sektor perkebunan. Padahal, jika perusahaan belum mampu membayar sesuai UMK, bisa mengajukan penundaan kepada Disnakertrans, namun hal itu tidak dilakukan.
Menyikapi hal ini, Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Jember, sudah melakukan sosialisasi kepada seluruh Perusahaan Di Jember, terkait penerapan UMK. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Seksi Hubungan Industrial Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Jember, Budhi Utami.
Menurutnya, untuk penerapannya akan dilaksanakan sekitar bulan februari, dan sejauh ini, belum ada surat pengajuan keberatan dari perusahaan terkait besarnya UMK yang baru. Rencana dalam waktu dekat kata Budhi, pihaknya akan mengundang perusahaan, yang diperkirakan tidak mampu membayar karyawan sesuai dengan UMK. sehingga dari sini, pihaknya bisa mendapatkan alasan, mengapa perusahaan tidak mampu menerapkan UMK.
Anggota Komisi D DPRD Jember Dari Fraksi Annur, Abdul Ghafur menjelaskan, besaran UMK yang telah ditetapkan, masih belum mencukupi, pasalnya harga kebutuhan sembako dari waktu ke waktu semakin naik. “Belum lagi untuk kebutuhan lain, seperti biaya sekolah dan lain sebagainya,” ujarnya.
Ghafur berharap agar Disnaker Jember tegas dalam mengawal penerapan UMK. Jika ada perusahaan yang belum menerapkan UMK, Disnaker harus memeberikan sanksi tegas, tanpa ada kompromi.
Masih banyaknya perusahaan yang tidak menerapkan UMK dibenarkan oleh Faruk, aktvis perburuhan dari Sarbumusi. Menurutnya, di Jember masih banyak perusahaan yang belum menerapkan UMK terutama di daerah perkebunan. Sirinya menilai, Disnaker bersikap pasif terhadap perusahaan yang belum menerapkan UMK. “Padahal Disnaker menjadi tumpuan tenaga kerja, ketika ada persoalan buruh dengan perusahaan,” ujarnya.
Dari pantauan media ini, para pekerja, terutama di sektor pertokoan, banyak yang memilih mengundurkan diri, pasalnya dari beban kerja 11 jam mereka hanya diupah Rp. 250 ribu sebulan. Meski diberi fasilitas mess, namun gaji sebesar itu tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Gaji Jukir Jauh Dibawah UMK
Disaat para pejuang perburuhan merteriak-teriak terkait nasib para buruh yang menerima upah dibawah standart Upah Minimum Kabupaten (UMK), tampaknya nasib para Juru Parkir (Jukir) di Kabupaten Jember lebih menggenaskan lagi. Setidaknyanya, untuk para buruh telah ada usulan untuk UMK Jember 2010 sebesar Rp. 830 ribu rupiah.
Nasib Jukir di Kabupaten Jember yang notabene dibayar oleh Pemkab Jember, menerima gaji sangat jauh dibawah standart UMK yang usulannya telah ditetapkan oleh Pemkab Jember. padahal jika dibandingkan dengan kinerja dan resiko, gaji yang diterima jauh dari harapan.
Tidak bisa dipungkiri, Jukir merupakan ujung tombak bagi Dinas Perhubungan untuk mengeruk pendapatan asli daerah (PAD), walaupun Jukir adalah pasukan paling bawah dibawah naungan Dishub Jember.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Perhubungan Jember, Sunarsono mengatakan jika gaji juru parkir tergantung masa kerja mereka. Per bulan jukir yang berkerja antara 0-5 tahun gajinya 150 ribu, kemudian 6-10 tahun 175 ribu, lalu 11-15 tahun 200 ribu dan 15 tahun keatas 225 ribu.
“Sebelum adanya parkir berlangganan, gaji mereka 20% dari pendapatan setiap hari,” ujarnya. Menurutnya, dibandingkan dengan sebelumnya kesejahteraan jukir lebih terjamin, karena per bulan sudah mendapatkan gaji.
Anggota Komisi C DPRD Jember, Ayub Junaidi, menilai gaji yang diberikan oleh Pemkab Jember kepada Jukir sangatlah tidak manusiawi. Sebab jika dibandingkan dengan kerja dan resiko yang mereka terima, gaji tersebut sangat tidak layak untuk diberikan, apalagi jauh dari standart UMK yang diusulkan oleh Pemkab Jember sendiri.
“Biaya kebutuhan hidup saat ini sangat mahal, belum lagi mereka harus lebih membutuhkan biaya untuk pendidikan anak-anaknya, ternyata nasib mereka sangat mengkhawatirkan,” ujarnya. Dirinya menyarankan, Dishub perlu memberikan kesejahteraan yang layak terlebih kepada Jukir sebelum menuntut kinerja jukir yang lebih baik.
Ayub menilai, sangat manusiawi jika ada Jukir yang masih meminta uang parkir kepada pengendara. “Mana mungkin dengan gaji hanya Rp. 200 ribu per bulan bisa mencukupi keluarga mereka, bila merujuk di Banyuwangi, gaji Jukir yang diterima pada kisaran Rp. 400 ribu per bulan,” tandasnya.
Dari pantauan wartawan media ini, masih banyak juru parkir yang menerima uang parkir dari pengendara. Namun rata-rata para jukir tersebut tidak pernah meminta, tetapi diberi secara ikhlas oleh pengendara.(rn)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Ekonomi, Selidik Kasus, Tenaga Kerja Dan Lowongan
Minggu, Desember 27, 2009
Bulog Jember Jamin Stok Beras Aman
Jemberpost.com,
Persediaan beras di Kabupaten Jember menjelang Natal dan tahun baru 2009 dirasa cukup, bahkan kesediaan beras hingga enam bulan kedepan tersedia dalam jumlah yang banyak sehingga masyarakat diharapkan tidak perlu resah.Stok beras menjelang akhir tahun ini di gudang Bulog Subdrive XI mencapai 23.555 ton, bahkan sepanjang tahun 2009 Bulog Subdrive Jember tidak melakukan operasi pasar mengingat selama ini tidak ada gejolak harga beras yang meningkat tajam. Bahkan realisasi pengadaan beras dan gabah sampai awal Desember 2009 telah mencapai target 100%, yakni sebanyak 88.362 ton setara beras, sedang realisasi penyaluran beras raskin 2009 juga mencapai 44.520.42 ton.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bulog Subdrive XI Jember Chairul Anwar terkait dengan ketersediaan beras di Jember di penghujung tahun 2009, bahkan tidak hanya itu saja dalam tiap tahunnya disaat puasa dan lebaran Bulog Jember selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan beras. Dengan tersedianya jumlah beras yang ada di Bulog Jember sekarang ini dinilai Chairul mampu mencukupi kebutuhan beras masyarakat hingga datangnya musim panen pada pertengahan Februari 2010, bahkan Kabupaten Jember dikenal sebagai salah satu kabupaten di Jember sebagai penghasil beras dengan kwalitas yang cukup bagus hingga mampu memenuhi kebutuhan beras diluar pulau sekalipun seperti NTB.
“Ketersediaan beras di Bulog Jember cukup melimpah bahkan dari stok yang ada di bawa ke Sumatra yang tengah mengalami defisit, mengingat di Bulog sendiri mempunyai mekanisme pengaturan logistik yang aktif. Bila suatu drive jumlah stok berasnya tidak mencukupi, maka drive tersebut bisa meminta ke drive lain untuk mengirimkan berasnya. Kalau ada kenaikan harga beras itupun relatif kecil karena dipicu oleh tingkat kebutuhan masyarakat akan beras yang cukup tinggi seperti pada saat hari besar keagamaan, biasanya pada saat lebaran dan natal masyarakat membeli beras dalam jumlah banyak melebihi dari hari biasanya baik itu untuk konsumsi keluarga maupun untuk keperluan zakat fitrah,”ungkap Chairul.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh Agung Gunawan wakil kepala Bulog Sub drive XI Jember, menurutnya stok beras yang ada di masing-masing drive termasuk di Jember juga merupakan bagian dari stok nasional. Harga beras yang ada dipasaran dinilai oleh Agung kenaikannya masih cukup wajar, karena kenaikannya tidak terlampau tinggi dengan harga beras yang ditetapkan oleh Bulog per Kg-nya. Selain itu tahun 2009- 2010 Bulog Subdrive Jember akan memberi perhatian khusus terkait dengan produksi beras, mengingat musim hujan yang tidak menentu menyebabkan pergeseran musim panen sehingga mempengaruhi stok beras namun tidak sampai terjadi Bulog kekurangan beras.
“Khusus untuk program beras keluarga miskin (raskin) Bulog Subdrive XI Jember dari target 44.704.080 mencapai 100%, bahkan Bulog Jember mampu melaksanakan raskin dengan baik dan tidak mempunyai tunggakan pembayaran raskin baik tunggakan tahun berjalan maupun tahun sebelumnya.Untuk bulan Desember ini saja target raskin mencapai 3.725.340 dengan realisasi target sebanyak 1.235.385, begitu pula pada bulan sebelumnya yakni Nopember dengan target yang sama dengan bulan Desember yakni3.725.340 dengan realisasi target sebanyak 4.361.505,”tandas Agung.(hms)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Ekonomi, Nasional, Pertanian Peternakan
Jumat, Desember 25, 2009
Bensin Mulai Langka
Jemberpost.com- Sejumlah SPBU di Kabupaten Jember mulai mengalami kelangkaan stok bensin dan solar. Hal itu dipicu Suplay dari pemasok yang tidak lancar. Padahal, permintaan bahan bakar semestinya naik karena konsumen yang memiliki kebutuhan yang lebih banyak.
Pantauan Jemberpost.com walaupun belum terjadi pembelian besar-besaran namun di beberapa SPBU sering kosong. Diperoleh informasi, hambatan itu terjadi karena pihak suplayer yang berpusat di PT Tanjung Sari Banyuwangi mengalami kendala di armada yang mengangkut bahan bakar ke sejumlah POM bensin di wilayah Jember. "Tetapi sudah sepekan ini kami mengalami pengurangan suplay, salah satunya karena kendala kendaraan,"ujar salah satu petugas SPBU Jember.
Diharapkan beberapa hari kedepan hingga Tahun baru pihak terkait mewaspadai hal tersebut sehingga semua dapat berjalan normal.(sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Ekonomi, Layanan Publik
Senin, Desember 14, 2009
Segera Dikembangkan Desa Wisata
Jemberpost.com.
Perjalanan ke Eropa agaknya telah membuka cakrawala Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kabupaten Jember, untuk lebih mengoptimalkan keberadaan usaha kerajinanyang banyak terdapat di Kabupaten Jember. Tingginya minat masyarakat Eropa terhadap hasil kerajinan Indonesia, khususnya Jember, mengundang minat Disperindag untuk mengembangkan desa penghasil kerajinan, menjadi daerah tujuan wisata.
Potensi kewisataan pada daerah penghasil kerajinan di Kabupaten Jember ini, sebenarnya sangatlah besar. Begitupun dengan multyplier efect yang akan ditimbulkan dengan dijadikannya daerah penghasil kerjainan menjadi daerah tujuan wisata, tidak hanya akan lebih memperkenalkan nama Jember sebagai penghasil kerajinan di dunia internasional, tapi perajin juga dipastikan akan ikut menikmati keuntungan.
Seperti dikatakan Kepala Disperindag, Kabupaten Jember, Ir Hariyanto, bahwa dengan berbagai potensinya, Jember sudah selayaknya menjadikan beberapa desanya sebagai Desa Wisata. Gagasan Desa Wisata sebagaimana pernah disampaikan Bupati Jember, MZA Djalal ini, menurut Hariyanto, karena ada beberapa desa yang mempunyai karakteristik dan ciri khas tersendiri, berbeda dengan desa lainnya.
Seperti Rembangan misalnya, dengan banyaknya dilakukan penanaman buah naga, baik oleh Pemkab Jember sendiri, maupun masyarakat sekitar, menjadi daerah itu sangat spesifik, berbeda dengan desa lainnya. Hampit di sepanjang jalan menuju ke kawasan wisata Rembangan, hampir bisa dipastikan akan ditemui tanaman buah naga di pekarangan-pekarangan penduduk. “Ini kan spesifik, di situ bisa dikatakan sebagai desa wisata, wisatawan bisa berwisata menikmati buah naga,” kata Hariyanto.
Desa lain yang menurut Hariyanto bisa dikembangkan menjadi Desa Wisata, adalah Desa Tutul, Kecamatan Balung. Kelebihan yang dimiliki desa ini, yakni hampir setiap rumah penduduknya, ada kegiatan kerajinan membuat manik-manik, serta tasbih dari kayu.
Hasil kerajinan manik-manik dan tasbih kayu dari Desa Tutul ini, tidak hanya dijual untuk pasar lokal saja, tapi juga diekspor ke negara-negara di Timur Tengah. Menariknya lagi, pengerjaan kerajinan di desa ini dilakukan di rumah masing-masing penduduk.
“Ini bisa kita angkat menjadi desa wisata, kita kembangkan, kita poles sedemikian rupa, sehingga fasiltas-fasilitas, seperti parkir dan fasilitas lain untuk tamu yang mau berwisata bisa enak menikmati dan tidak terlalu terburu-buru,” paparnya.
Bahkan bisa saja, untuk membuat senang pada wisatawan, mereka diberikan kesempatan mencoba membuat sendiri manik-manik atau kalung. “Ini merupakan salah satu obyek wisata seperti Yogya, ada asongan khusus untuk membuat garabah dan sebagainya ini kita bisa ciptakan,”tandasnya.
Gagasan menjadikan desa yang memiliki karakteristik tersendiri, untuk dijadikan sebagai Desa Wisata ini, lanjut dia, ke depan bisa dikembangkan. Yang terpenting dalam hal ini, yakni tersedia fasilitas yang memang dibutuhkan oleh pengunjung.
“Tinggal kita kembangkan, kita buat fasilitas yang memadai untuk tujuan wisata. Kita membuat desa wisata tidak hanya sekedar menciptakan, tetapi apa yang sudah ada di situ, yang dimiliki oleh masayarakat dan sudah dikerjakan oleh masyarakat,” tambahnya.(sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Bisnis, Ekonomi, Pemberdayaan, Wisata
Minggu, November 22, 2009
Bupati Ajak Pejabat Jual Jember Di Eropa
Jemberpost.com,
Keinginan kuat Bupati Jember, untuk menjadikan daerah yang dipimpinnya, lebih baik dari sebelumnya, ternyata tidak hanya sebatas tataran wacana. Ini dibuktikan, berbagai upaya dilakukan demi terwujudnya obsesi besar menjadikan Jember dan masyarakatnya lebih baik.
Salah satu kiat yang dilakukan dalam rangka itu, adalah membuat satu gelaran yang bisa menyedot perhatian orang banyak, tidak hanya lokal, tapi juga nasional bahkan mancanegara. Contoh yang masih hangat di benak masyarakat Jember, adalah gelaran Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ).
Meski BBJ tahun 2009 sudah berlalu hingga akhir Agustus lalu, namun gairahnya masih terasa sampai sekarang. Dari perhelatan akbar yang digelar tahunan di Jember ini, diperoleh satu terobosan, yakni menindaklanjuti upaya sosialisasi beragam potensi yang dimiliki Kabupaten Jember.
Dalam kaitan ini, Bupati Djalal, berusaha menjual kekayaan yang dimiliki Kabupaten Jember, pada para pemilik modal di daratan Eropa. “Ijin untuk Pak Bupati sudah turun dari Depdagri,” ujar Saptono Yusuf, Ketua DPRD Jember, dalam sebuah kesempatan.
Ada lima negara yang menjadi tujuan dari acara tandang selama sepekan oleh Bupati Jember itu. Di antara negara Eropa yang didatangi Bupati Djalal dan romobongan itu, adalah Jerman, Italia dan Belanda.
Adapun tujuan dari kepergian ke Eropa, yakni Bupati Djalal bermaksud menjalin kemitraan dengan negara-negara di kawasan itu. “Tujuannya untuk menjalin kemitraan dan membuka pasar yang lebih menjanjikan untuk perdagangan tembakau,” tandas Ketua DPRD Jember dari Partai Demokrat itu.
Upaya Bupati Djalal untuk membuka pasar lebih pasar bagi komoditi unggulan Kabupaten Jember ini, merupakan tindak lanjut dari pertemuan yang dilakukan bersama pengusaha perkebunan beberapa waktu sebelumnya di Pendopo Wahya Wibawagraha, Pemkab Jember. Dalam pertemuan itu Bupati Djalal, berjanji akan membantu mensosialisasikan potensi perkebunan agar dapat mengembangkan peluang pasarnya.
Karena itu untuk menindaklanjuti janji yang pernah disampaikan kepada para pengusaha perkebunan itu, Bupati Djalal, berusaha mencari terobosan pasar di negara-negara daratan Eropa. Diharapkan dari upaya ini, akan ada tindak lanjut yang menguntungkan kedua belah pihak, baik pengusaha perkebunan dan industri atau perdagangan sebagai produsen maupun importir negara-negara Eropa sebagai buyers.
Harapan lain dari terjalinnya kemitraan antara Kabupaten Jember dengan pelaku usaha di Eropa, yakni potensi besar lain yang dimiliki Jember bisa lebih dikenal dan dijual. Potensi itu tidak hanya pada sektor pertanian dan perkebunan saja, tapi juga potensi-potensi lain yang cukup melimpah Jember. (sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Ekonomi, Wisata
Rabu, November 04, 2009
Waspada, Sudah ada Retakan Di Silo
Jemberpost.com
Tingkat kewaspadaan masyarakat Jember pada akhir tahun ini perlu ditingkatkan, Menurut Kepala Bakesbangpol Limas Jember Curak Wungkal- Silo retakan sedikit melebar untuk diwaspadai.“Di Curah Wungkal Retakan telah mencapai kurang lebih 70 cm,”ungkap Drs Edy B Silo, MSi saat rapat bersama SKPD dan camat di Aula Pemkab Jember kemarin.
Kewaspadaan retakan yang semakin melebar dan ancaman kepada masyarakat sekitar perlu ditingkatkan. “Karena dibawah bukit itu masik banyak warga, ada sekitar 75 kepala keluarga yang harus ditingkatkan kewaspadaannya,”jelas Edy.
Hal yang sama juga perlu diwaspadai juga bagi masyarakat sekitar Kecamatan Panti, dari hasil pengamatan JICA (Japan Indonesia Cooperation Agency) menurut Edy daerah perkebunan Kali Jompo patut diwaspadai rawan bencana. “Tim JICA mengkawatirkan Perkebunan di Kali Jompo,”ujarnya.
Sehingga kecamatan dan desa lewat Satlak Kecamatan dan Satlak Desa Edy minta untuk meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan waspada 24 jam. “Untuk mengaktifkan kembali posko 24 jam baik di Kecamatan maupun di masing-masing desa,”pintanya.
Lebih lanjut menurut mantan Asisten II, meminta agar hal-hal sekecil apapun yang terjadi agar segera dilaporkan ke posko induk kabupaten yakni Satlak PBP Kabupaten Jember yang di Ketuai oleh Bupati Jember. “Apabila terjadi bencana laporkan segera ke Posko dengan via Telpon ke 0331-337853 atau 08123454958 ke Asisten II,”jelasnya.
Di Kabupaten Jember dijelaskan oleh Mantan Kepala Dinas Infokom Jember ada 17 kecamatan yang perlu mendapat perhatian dan diwaspadai terjadinya bencana alam. “Namun ada 12 kecamatan yang menjadi langganan bencana yang sekarang perlu peningkatan kewaspadaan di musim penghujan ini,”tuturnya.
Agar terbiasa dalam mengantisipasi bencana, diminta oleh Kepala Bakesbangpol Linmas Jember perlu kiranya latihan penanganan bencana di wilayahnya. “Kita buat simulasi di wilayah masing-masing agar nantinya tidak gagap saat terjadi bencana di wilayah kita,”ujar Edy.
Namun jelas Edy dalam mengantisipasi bencana di Kabupaten Jember ketersediaan akan kantong mayat di Dinas Kesehatan masih tersisa 10 kantong. “Diharapkan dengan kondisi demikian dinas terkait untuk melaporkan dan meminta tambahan kepada propensi atau pemerintahan pusat,”pungkasnya.
Wakil Bupati Jember Kusen Andalas minta jangan sampai laporan kejadian bencana di wilayahnya didahului oleh pihak lain.
Lebih lanjut ditegaskan Kusen kesiapan sangat diperlukan sehingga diperlukan kesiapan yang tentunya diawali dengan kesiapan Satlak paling bawah sampai atas. “Untuk itu sangat perlu konsolidasi dengan desa di masing-masing wilayah saudara pimpin,”tuturnya.
Saat memeimpin rapat koordinasinya Kusen minta kepada pimpinan wilayah mengantisipasinya dengan membuat simulasi dengan menggunakan tanda bahaya yang sederhana. “Dengan alat sederhana seperti kentongan atau pengeras suara yang ada di masjid agar dimanfaatkan untuk membertitahukan kepada penduduk setempat,”tegasnya.
Menurut Kusen semakin bagus kegiatan di wilayah dalam rangka mengantisipasi bencana baik itu lewat simulasi atau konsulidasi dengan jajaran dibawahnya tidak semuanya harus berakhir dengan menggunakan biaya APBD. (sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Ekonomi, Layanan Publik, Selidik Kasus
Rabu, Oktober 28, 2009
Kerajinan Manik-manik BalungTembus Timteng
Jemberpost.com.
Mungkin tidak banyak diketahui masyarakat, bahwa kerajinan manik-manik yang dihasilkan perajin Desa Tutul, ternyata tidak hanya sebatas dijual di pasaran lokal saja. Manik produksi tangan-tangan terampil masyarakat Desa Tutul ini, banyak juga yang dijual ke negara-negara di Timur Tengah.
Sebagaimana dikatakan Samidi, warga Desa Tutul, Kecamatan Balung. Bahwa hasil kerajinan manik-manik yang dibuat dalam bentuk tasbih, penjualannya sampai ke negara-negara penghasil minyak tanah di Timur Tengah. “ Sebenarnya yang dihasilkan masyarakat Tutul tidak hanya manik-manik dan tasbih saja, tapi juga supit,” kata Samidi, kepada Bupati Djalal, dalam acara Dialog Solutif Bedah Potensi Desa, di lapangan Desa Karang Duren, Kecamatan Balung.
Hanya saja yang menjadi persoalan dalam menjalankan usaha kerajinan manik-manik ini, perajin yang ada di desa tersebut, masih berjalan sendiri-sendiri (induvidual). Karena itu pihaknya berharap, pemerintah kabupaten dapat mengupayakan keberadaan perajin di Desa Tutul menjadi bersatu dalam sebuah organisasi.
Kelemahan dari berjalannya sendiri-sendiri diantara para perajin di Tutul, kata Samidi, tidak adanya nilai tawar yang bisa digunakan untuk menaikkan nilai produk yang dihasilkan perajin. Pedagang atau tengkulak yang memang menggeluti pejualan manik-manik akan dengan mudah mempermainkan harga dari produk yang dihasilkan perajin.
Karena itu kepada bupati, dia berharap, adanya hak patent atas produk kerajinan yang dihasilkan oleh perajin di Desa Tutul. “Meskipun barang kita cukup bagus kualitasnya, tapi karena masih berjalan sendiri, pedagang atau tengkulak dengan seenaknya mempermainkan harga,” ungkap Samidi.
Pembuatan hak paten atas produk kerajinan manik dari Desa Tutul ini, kata Samidi, bisa dilakukan seperti yang dilakukan terhadap produk tape Bondowoso. Dengan hak patent yang dimiliki, orang lain tidak akan dengan mudah mengklaim tape yang dihasilkan perajin Bondowoso.
“Kalau manik-manik Desa Tutul ini punya hak patent, maka orang lain juga tidak akan dengan mudah mengklaim bahwa itu hasil produksinya. Orang jelas akan mengenal bahwa kerajinan manik-manin merupakan produksi kerajinan desa Tutul,” tandasnya.
Mendapat pertanyaan ini, Bupati Jember, MZA Djalal menegaskan, bahwa pada intinya hak patent atau merk dalam dunia usaha, tidak terlalu dibutuhkan. Kalau boleh belajar dari cara berdagang orang-orang Tiongkok, kata bupati, mereka lebih mementingkan untung dari pada merk.
“Sampean bisa beli mesin dari China berapapu banyaknya. Mau diberi nama Jalal atau Samidi, itu terserah sampean. Mereka lebih berpikir bagaimana bisa mendapatkan untung, yang penting mereka bisa menjual mesinnya,” kata bupatil.
Namun begitu, untuk masalah hak paten yang diinginkan Samidi atas produk kerajinan manik yang dihasilkan warga Desa Tutul, Bupati Djalal masih memberikan sinyal, bahwa hal itu bisa saja dilakukan “Tapi bisa saja hak paten itu diminta, silahkan mumpung di sini ada ketua DPRD,”pungkasnya. (sal)
Diposting oleh Team Redaksi 1 komentar
Label: Berita Umum, Bisnis, Ekonomi, Pemberdayaan, Tenaga Kerja Dan Lowongan
Kamis, September 03, 2009
Stok Daging Aman, Tapi Tetap Waspada Formalin
Jemberpost.com-Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan memastikan bahwa persediaan daging sapi, daging ayam dan domba untuk ramadhan tahun ini aman-aman saja. Hal tersebut ditegaskan Ir.Dalhar Kadisnakkan ketika ditemui jemberpost.com diruang kerjanya sore tadi. Meningkatnya konsumsi daging ayam, ikan dan daging sapi pada saat Ramadhan dan Lebaran ini mencapai 40 persen atau jika dikaitkan dengan persediaan maka ada sekitar 37 ribu sapi siap potong.
Jika per ekor sapi menghasilkan daging 200 kg maka untuk sapi saja persediaan mencapai 22 ton, jika ditotal persediaan daging dan ikan ada sekitar 50 ton lebih.
Namun H-10 Lebaran nanti pihaknya dengan jajaran samping terkait akan melakukan sidak langsung ke pasar dalam rangka pemantauan.
Dalhar juga meminta masyarakat tetap wapada dengan daging atau ikan berformalin menurutnya cara paling mudah mengenalinya dengan melihat tingkat kekenyalannya. “Jika dipijit daging itu mental maka kemungkinan besar daging tersebut berformalin. Pun jika dipasar tak ada lalat yang hinggap didaging terbuka tersebut, maka kemungkinan besar daging telah bercampur formalin” Ujarnya.(sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Ekonomi
Jumat, Agustus 28, 2009
Gula Pasir Dan Beras Ludes Diserbu Pembeli
Jemberpost.com.
Jemberpost.com-Digelarnya pasar murah yang digelar oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (disperindag) Pemkab Jember diberbagai kecamatan seperti Rambipuji, Panti, Ajung, Sukorambi, Mayang, Tempurejo, Arjasa, JelbukSilo, dan Umbulsari sangat diminati oleh masyarakat setempat. Pasar murah dengan menjual berbagai kebutuhan pokok seperti beras, gula dan minyak goreng dengan harga dibawah pasar sejak pagi sudah diserbu masyarakat yang sengaja ingin berbelanja. Bahkan gula dari pantauan dilapangan diberbagai kecamatan adalah salah satu jenis kebutuhan pokok yang banyak dibeli oleh masyarakat, meski lebaran masih jauh namun sepertinya masyarakat tidak ingin melewatkan begitu saja hadirnya pasar murah tersebut.
Di Kecamatan Arjasa misalnya pasar murah digelar selama 2 hari 26-27 Agustus 2009, pasar murah yang ditempatkan di pendopo kecamatan tersebut juga diikuti oleh minni market terkemuka di Jember seperti Indomaret dan Alfa Mart yang telah ditunjuk oleh disperindag.Sejak dibukanya pasar murah diserbu para calon pembeli yang berasal dari desa yang ada di Kecamatan Arjasa seperti Desa Arjasa, Kemuning Lor, Kamal, Darsono, Candi Jati dan Biting, bahkan ada salah seorang pembeli berasal dari Desa Kemuning Lor sengaja datang sejak jam 0.6.00 pagi di pendopo Kecamatan Arjasa tempat berlangsungnya pasar murah tersebut.”saya sengaja habis sahur tidak tidur lagi, karena tidak mau kehabisan gula dan beras,”ujar Bu Ika warga Desa Kemuning Lor.
Menurut Camat Arjasa Drs. Parmin, MSi pasar murah tersebut sengaja diadakan di pendopo kecamatan bukan dilapangan, hal ini selain masyarakat saat berbelanja merasa nyaman dan tidak kepanasan, juga untuk memudahkan pemantauan terhadap pembeli yang akan main aksi borong sembako dengan memanfaatkan jasa orang lain. Selain itu pihak Kecamatan Arjasa juga memberlakukan sistim pembelian sembako yakni gula pasir dan beras dengan menggunakan kupon, hal ini untuk menertibkan masyarakat yang hendak membeli sembako terhindar dari antrian panjang. “Pihak kecamatan kan hanya memfasilitasi tempat karena yang punya kegiatan disperindag, beras dan gula adalah yang paling banyak dicari oleh masyarakat,”terang Parmin.
Dalam waktu sekitar 1 jam sejak pasar murah dibuka gula pasir dengan harga Rp. 6000/per Kg dan beras Rp. 5000/per Kg itu sudah ludes diserbu, dalam pembelian sembako di pasar murah tersebut khusus gula pasir dan beras tiap orang hanya diperbolehkan membeli maksimal sebanyak 2 Kg. Harga beras yang ada dipasaran saat ini per Kg bisa mencapai Rp.5500 dan gula pasir Rp.9800, berbeda dengan harga yang ditawarkan saat berlangsungnya pasar murah karena sudah diberi subsidi terlebih dahulu oleh pemerintah. “Dalam satu hari pelaksanaan pasar murah beras sebanyak 1/2 ton beras dan gula 1 ton habis dalam bebarapa jam saja, bahkan saya sempat datang ke disperindag untuk minta tambahan stok gula dari PG. Semboro,”pungkas Parmin.(win)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Ekonomi, Layanan Publik
Kamis, Agustus 27, 2009
Inflasi Jember Paling Rendah
Jemberpost.com- Dalam menghadapi bulan suci Ramadhan dan Lebaran, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Jember merapatkan barisan dengan menggelar sejumlah rapat koordinasi.Hal ini diungkapkan Asisten Ekonomi Pembangunan Pemkab Jember, H Edy Budi Susilo. Menurutnya rapat dihadiri dinas dan instansi terkait di Jember. "TPID Kabupaten membahas langkah kesiapan terkait dengan penyediaan bahan makanan, transportasi, bahan bakar dan peredaran jumlah uang di Jember dan sekitarnya termasuk 3 kabupaten yang masuk wilayah eks Karisedenan Besuki," jelasnya usai berkoordinasi dengan Kepala BI Jember di kantornya.
Kesiapan persediaan sembako dan transportasi pada Bulan Ramadhan sampai dengan Hari Idul Fitri mendatang, menurut Edy, terus dipantau. Pihaknya berharap kesiapan yang cukup menjelang Lebaran maupun saat bulan Ramadhan ini agar nantinya tidak terjadi gejolak yang tidak diharapkan.
"Misalnya kenaikan harga yang berlebihan, kekurangan stok pangan saat merayakan Lebaran dan lainnya," imbuhnya.
Drs Edy B.Susilo Msi. Pada Jemberpost.com mengungkapkan Bahwa hasil rapat koordinasi dalam rangka kita mengevaluasi inflasi yang berkembang di kabupaten Jember sampai dengan periode sekarang.”Inflasi di Jember masih tertahan pada kisaran angka 1,44,”tandasnya.
Artinya inflasi yang terjadi di Jember menurut Edy, jauh di bawah inflasi tang terjadi Jawa Timur maupun Nasional. “Hal ini menggembirakan karena dari hasil pamantauan TPID yang telah bekerja sesuai pada jalur yang ditentukan, masing-masing anggotanya telah memberikan kontribusi menahan laju inflasi,”kilahnya.
Dengan hasil itu aspresiasi tingkat inflasi di Jember tentunya harus kita pertahankan dengan kerja keras sampai akhir pada periode tahun 2009. “Pengendalian inflasi kita upayakan terus dibawah inflasi Nasional maupun Propinsi,”pintanya.[sal]
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Ekonomi
Senin, Agustus 24, 2009
Pasar Murah Legakan Masyarakat
Jemberpost.com
Pasar Murah yang digelar di 10 kecamatan di Jember melegakan harapan masyarakat miskin mendapatkan sembako murah, harga yang melambung tinggi seminggu terkahir ini cukup membuat panik masyarakat.Hariyanto, Kepala Disperindag Jember mengungkapkan pada jemberpost.com bahwa kenaikan harga selalu muncul pada saat ramadhan tiba. Pihaknya saat ini memantau perkembangan harga dari hari ke hari Namun Ia berharap masyarakat tidak perlu panik karena kepanikan justru menimbulkan gejolak harga.
Disperidag Jember saat ini telah memulai Pasar murah untuk sepuluh kecamatan yang dikategorikan miskin. Kecamatan tersebut adalah Rambipuji, Panti, Ajung,sukorambi Mayang Tempurejo,Arjasa,Jelbuk,Silo,Umbulsari.
Seperti tahun kemarin, tahun ini pun Disperindag bekerjasama dengan produsen-produsen seperti Pabrik Gula Semboro, Produsen Beras seperti Cobra, Produsen minyak dan lain-lain bahkan Toko kain Centrum dan toko kebutuhan bahan pokok banyak yang ikut.
Hariyanto berharap tidak ada pihak-pihak yang memanfaatkan moment ini untuk kepentingan pribadi. “Kadang mereka sengaja mendatangi pasar murah, kemudian membeli dalam jumlah besar dan menjual kembali dengan harga pasar, Namun kami tetap mengantisipasi ha tersebut dengan membatasi jumlah pembelian barang, Kami menggelar pasar murah agar warga miskin dapat membeli kebutuhannya dengan harga murah”Tegas Hariyanto.(sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Ekonomi
Minggu, Agustus 23, 2009
Ramadhan Harga Gula Tembus Rp.9 Ribuan
Jemberpost.com – Seperti biasa saat Ramadhan tiba maka harga bahan pokok perlahan tapi pasti merangkak naik, namun Ramadhan kali ini diluar dugaan. Kenaikan yang cukup tajam dan terkesan dimanfaatkan oleh para pedagangKenaikan harga-harga di pasar induk Jember, pasar Tanjung tidak hanya dialami oleh sejumlah bahan pokok seperti beras, gula, minyak goreng dan sayur-mayur saja.
Cabe merah terjadi kenaikan signifikansebesar Rp 2.500-3.000/kg untuk cabe merah besar. Jika harga semula, Rp 5.000 kini menjadi Rp 7.500. Harga itu diperkirakan akan terus naik seiring dengan permohonan pembeli yang cukup tinggi juga pada bulan Ramadhan ini.
Selain cabe, harga tomat juga mengalami kenaikan. Tomat harga rata-rata masih dalam kisaran Rp 2.500/kg atau naik sebesar Rp 500/kg.
Sementara sayuran lain yang belum mengalami kenaikan diantaranya adalah kol. Harga kol bulat masih dikisaran Rp 2.500. Demikian juga dengan harga kentang tetap dikisaran Rp 5.500.
Sementra itu Gula justru Lebih dahulu naik, harga gula saat ini berkisar antara Rp.Rp.9000-Rp.9500/kg
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Harijanto ketika ditemui Jemberpost.com mengatakan segera melakasanakan operasi Pasar.[sal/her]
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Bisnis, Ekonomi
Selasa, Agustus 18, 2009
Bursa Kerja FKKSW Bukan Pesaing JMF
Jemberpost.com-Langkah yang dilakukan oleh Forum Komunikasi dan Konsultasi Sadar Wisata (FKKSW) Akademi Pariwisata (Akpar) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember dengan menggelar bursa kerja 2009 Selasa (18/8) tadi siang
di Aula Ahmad Zaenuri patut ditiru oleh lembaga akademisi yang lain, kegiatan yang berlangsung satu hari penuh dan baru pertama diadakan oleh FKKSW Akpar Unmuh Jember itu diikuti oleh 17 perusahaan swasta terkemuka dengan menawarkan 200 lowongan kerja dan dibanjiri ratusan orang pencari kerja.Bursa lowongan kerja ini sedikit berbeda dengan Job Market Fair (JMF) yang diadakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinakertrans) Pemkab Jember, pasalnya dengan membayar Rp.3000 para pencari kerja mendapatkan salinan fotokopi daftar perusahaan peserta bursa kerja dan amplop untuk memasukan berkas lamaran kerja bagi pencari kerja.
Selain itu pihak panitia penyelenggara juga menyediakan jasa pengetikan surat lamaran kerja dengan memakai komputer yang hanya dikenai biaya Rp.500 per lembar. Para pencari kerja yang datang di bursa kerja tersebut ternyata tidak hanya dari dari Kabupaten Jember saja, tidak sedikit mereka yang datang dari Kabupaten lain seperti Bondowoso, Banyuwangi, Situbondo dan Lumajang. Begitu mendengar FKKSW akan mengadakan bursa lowongan kerja para pencari kerja dari beragam latar pendidikan yang dimiliki mulai lulusan SMA, D-3, maupun S-l sengaja datang ke Unmuh Jember tempat diselenggarakannya kegiatan tersebut, paling tidak para pencari kerja banyak yang menggantungkan nasibnya pada bursa lowongan kerja semacam ini dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan yang diinginkan.
Menurut Arif Setyo Raharjo,SST.Par selaku ketua panitia penyelenggara bursa lowongan kerja sekaligus wakil direktur Akademi Pariwisata Unmuh Jember menjelaskan, permasalahan pengangguran ada di semua negara termasuk negara maju sekalipun. Mengatasi permasalahan pengangguran menurut Arif bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga menjadi tanggung jawab siapa saja yang memilki kepedulian terhadap tingginya angka penganguran.
“Dengan diselenggarakannya bursa kerja yang diselenggarakan oleh FKKSW ini berarti ikut membantu pemerintah daerah dalam mengatasi pengangguran sebagai perwujudan dari Tri Dharma perguruan tinggi salah satunya adalah pengabdian masyarakat, selain itu dengan diselenggarakannya bursa kerja semacam ini mampu menampung para pencari kerja yang pada JMF kemarin belum mendapatkan pekerjaan dan bursa kerja ini bukan pesaing JMF,”ungkap Arif.
Meski bursa kerja tersebut diselenggarakan di Unmuh Jember, bukan berarti hanya diperuntukan bagi alumni perguruan tinggi swasta tersebut. Bahkan bursa kerja yang rencananya akan dijadikan kegiatan tahunan oleh pihak panitia penyelenggara, banyak juga diikuti oleh alumni berbagai perguruan tinggi negeri sekalipun. “Tidak benar jika mereka diterima kerja melalui bursa kerja FKKSW hanya alumni Unmuh Jember, siapapun boleh ikut di bursa kerja ini dan perekrutan tenaga kerja adalah hak dari masing-masing perusahaan.
FKKSW hanya sekedar memfasilitasi tempat bagaimana bursa kerja ini bisa berlangsung sesuai dengan yang direncanakan, tahun depan FKKSW akan menggelar bursa kerja dengan tampilan sedikit berbeda dibanding tahun ini agar lebih menarik dan diminati oleh penyedia lapangan kerja dan pencari kerja, “ujar Arif.(win)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Ekonomi, Pemberdayaan
Rabu, Juli 22, 2009
Rest Area, Solusi Penataan PKL Jember
Jemberpost.com,
Terus merebaknya jumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jember, membuat Pemerintah kembali akan melakukan penataan PKL yang ada. Sampai-sampai untuk menanganinyajajaran Satpol PP harus berkoodinasi dengan Dinas/instansi terkait diantaranya Dispenda, Dinas Pasar, Dishub, Polres dan Humas Pemkab Jember. Rabu (22/7) tadi siang bertempat di Kantor Satpol PP Jember diadakan rapat bersama dengan harapan ada rumusan yang pas untuk menangani persoalan PKL ini.
Seperti diketahui ratusan PKL terus mulai bermunculan, padahal mereka (PKL) yang membandel terus membuka dagangannya diluar waktu yang telah ditentukan dan disepakati bersama ditindak tegas. “Mereka kebanyakan menjual dagangannya dibahu jalan yang memang benar-benar harus bebas dari PKL, sehingga sangat mengganggu kelancaran pengendara yang melewati jalan tersebut, “tekad Nyoto panggilan akrabnya.
Selain akan melakukan penertiban di jam-jam yang memang kawasan itu harus bebas dari PKL, petugas juga diwajibkan untuk mensosialisasikan kepada para PKL, terutama mereka yang masih membandel. “Kalau terpaksa dan masih tetap berjualan diluar waktu yang telah disepakati, petugas kami akan melakukan tindakan tegas, “ujarnya.
Sementara itu menurut Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Jember, Suprapto pihaknya tidak menampik, karena keberadaan PKL sangat kuat terhadap goncangan krisis ekonomi. Sehingga, keberadaan PKL tidak mungkin dihilangkan begitu saja, tanpa membuat sebuah solusi. Tetapi, jika tidak segera diatasi, maka jumlahnya bisa bertambah banyak. “Mungkin salah satu solusinya mereka (PKL) tetap boleh berjualan, namun ditentukan waktu untuk berjualan, “tegasnya.
Dan khususnya untuk dijalan Kartini, PKL diperbolehkan hanya pada hari Minggu mulai jam 05.00 s/d 09.00 WIB, ini bertujuan agar masyarakat setelah berolahraga pagi dan jalan-jalan di alun-alun dapat menikmati dagangan mereka sambil berekreasi. “Diluar hari itu (Minggu.red) kawasan jalan Kartini harus bebas dari Pedagang Kaki Lima (PKL), “lanjutnya.
Ditemui secara terpisah, Kabag. Humas Pemkab Jember Agoes Slameto mengatakan memang ada peraturan PKL tidak boleh berjualan di rood of way (daerah milik jalan). “Karena itu, pihaknya ingin agar antara Pedagang Kaki Lima (PKL) dan petugas dilapangan saling memahami, sehingga tercipta suasana yang tertib, bersih, indah dan aman (Terbina) diwilayah ini, “harapnya.
Dan sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2008 untuk kawasan segitiga emas harus bebas dari keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL), namun untuk kawasan diluar itu PKL akan ditata kembali dengan memberlakukan waktu berjualan secara umum. “Jadi secara bertahap mereka (PKL.red) akan ditertibkan kembali, sehingga nuansa peringatan HUT RI ke-64 dan pelaksanaan BBJ akan nampak meriah di Kabupaten Jember ini, “pungkas Agoes. (sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Ekonomi, Layanan Publik, Pemberdayaan
Sabtu, Juli 18, 2009
Pengurus RT-RW Bakal Diberi Insentif
Jemberpost.com– desakan yang disampaikan masyarakat kepada Bupati Jember agar perangkat dibawah kelurahan yakni RT, RW diberi insentif guna memberikan tambahan penghasilan (kesejahteraan), langsung direspon Bupati Jember, MZA Djalal dengan cepat.
Menurut salah satu perwakilan warga dari Kelurahan Tegal Besar, Subekti, perangkat RT-RW yang ada, dengan begitu pelaksanaan administrasi dan kelancaran dalam memberikan pelayanan masyarakat tersebut juga tidak tersendat-sendat.
Menurutnya, kendala terbesar dalam pengurusan-pengurusan surat untuk masyarakat memang banyak terjadi di lingkup RT-RW, karena hal ini dirasakan bahwa RT-RW tidak ada income yang masuk ke RT-RW. Oleh karena itu, hendaknya insentif bagi RT-RW agar benar-benar dperhatikan demi kelancaran dalam pengurusan surat-surat yang diperlukan masyarakat.
Bupati Djalal menjawab perrmintaan masyarakat tersebut dengan mengembalikan ke kelurahan. "Untuk pemberian insentif RT-RW tersebut diserahkan kepada kelurahan masing-masing yang bisa diambil dari anggaran yang telah ada," terangnya.
Semua itu, lanjut Djalal, bisa dilakukan dengan melihat kemampuan anggaran kelurahan setempat dan yang paling penting dilakukan sesuai dengan aturan yang ada. Hal ini pun juga pernah disampaikan saat Bedah Potensi di Kecamatan Sumberjambe dan Kaliwates beberapa waktu lalu. [bj]
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Ekonomi, Layanan Publik
Senin, Juni 29, 2009
Bank “Keluarga Miskin” Terguncang
Jemberpost.com – Pasca penetapan ditariknya dana pinjaman oleh Bank Jatim dari Bank Gakin atau Lembaga Keuangan Mikro Menengah (LKMM) Diskop Jember mengaku khawatir akan kondisi bank Gakin tersebut.Namun menurut Kepala Diskop Jember, Ir. Mirfano tidak semua Bank Gakin mengalami musibah tersebut. Hanya sekitar 22 Bank Gakin saja yang terancam kolaps. Pasalnya ke-22 bank Gakin tersebut sejak awal pendiriannya murni menggunakan pinjaman modal dari Bank Jatim.
Sementara lebih dari 17 bank Gakin masih bias bertahan karena mempunyai modal dua sumber. “Yang sebagian pinjaman dari Bank Jatim dan sebagian lagi dapat dana hibah dari Diskop,” ungkapnya.
Meski begitu Mirfano mengaku masih optimis akan keberlangsungan bank Gakin di Jember. Sejumlah terobosan sudah ditempuhnya, termasuk meloby BUMN atau pengusaha swasta untuk mau mengucurkan dananya kepada Bank Gakin.
Selain itu Mirfano juga masih melakukan koordinasi dengan Bank Jatim agar penarikan dana ditunda hingga bulan MAret 2010.
“Bank Gakin tidak akan kolaps meski sudah ditarik dananya, namun tidak bisa berkembang cepat karena modal yang dimilikinya hanya kecil,” ujarnya.[bj/sal]
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Bisnis, Ekonomi, Pemberdayaan
Senin, Juni 22, 2009
Bukannya Bantu, BI Malah Tegur Bank “Gakin”
Jemberpost.com - Musuh Tutik Aspita bertambah. Sejak menjadi pengurus Bank Gakin Wonosari di Jember, Jawa Timur, ia diincar oleh para rentenir. Kehadiran Bank Gakin telah membuat warga miskin tak lagi menjadikan para rentenir sebagai tempat meminjam uang.
Tutik mengatakan, fitnah menghampirinya. Bermacama-macam fitnah itu, dan sebagian besar menyangkut urusan duit. Namun, ia dan kawan-kawannya jalan terus.
Gagal menebar fitnah, para rentenir putar haluan, mencoba memanfaatkan Bank Gakin. Ia meminjam uang dari Bank Gakin dalam jumlah besar. "Bukan untuk modal usaha, tapi untuk dikembangkan. Kita tahu, dan kita tidak pinjami," kata Tutik.
Namun rentenir bukan satu-satunya 'lawan' Bank Gakin. Di luar dugaan, Bank Gakin justru dianggap sebagai 'lawan' bank formal. Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jember, Mirfano, mengatakan, sudah berupaya agar bank formal mau bermitra dengan Bank Gakin. Harapannya, tentu saja, bank formal mau meminjamkan uang kepada para anggota Bank Gakin agar bisa mengembangkan usaha.
Mediasi dilakukan oleh Bank Indonesia. Hasilnya? Nihil.
"Perbankan di Jember kalau mendengar kata 'Bank Gakin', kupingnya panas dan merasa alergi. Bank formal di Indonesia sampai sekarang ngomong doang. Mereka tidak pernah peduli dengan pengentasan kemiskinan," tukas Mirfano.
Mirfano semakin kecewa, setelah menerima surat peringatan dari Bank Indonesia Jember, awal tahun ini. BI Jember meminta kepada Dinas Koperasi tidak mencantumkan kata 'bank' pada Bank Gakin. "Kalau bank sudah diatur dengan undang-undang, syarat-syarat bank apa saja. Kewajiban bank juga banyak. Sementara yang disebut Bank Gakin kan bukan bank, tapi lembaga keuangan mikro," kata juru bicara Bank Indonesia Jember Sukiman.
BI Jember mengkhawatirkan kesalahan persepsi masyarakat yang ditimbulkan akibat pencantuman kata 'bank'. "Misalkan ada lembaga Bank Gakin yang kolaps, kan LKM bersangkutan harus memberi ganti rugi. Larinya kan ke BI juga. Kita berkepentingan jangka panjang," kata Sukiman.
Namun, bagi Mirfano, surat peringatan dari Bank Indonesia salah tempat. "Saya tidak pernah memakai nama Bank Gakin. Itu yang mempopulerkan pengurus dan anggota Bank Gakin sendiri. Dari awal itu adalah lembaga keuangan mikro masyarakat. BI bukannya membantu, malah kasih peringatan yang tidak substansial," tukasnya.�
Tutik Aspita, pengurus Bank Gakin Wonosari di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, membenarkan. "Orang-orang sendiri yang ngasih nama itu. Saya tanya kenapa, mereka menjawab, 'Iya, Bu, ini kan bank-nya orang miskin. Selama ini bank mana ada yang mau mendekati orang miskin'," katanya.
Tanpa tedeng aling-aling, Mirfano menyebut kehadiran Bank Gakin sebagai antitesis terhadap bank formal. "Bank formal tidak pernah mau peduli dengan ekonomi keluarga miskin," katanya.
Sukiman menyatakan, BI tidak bisa memaksa para bankir untuk meminjamkan duit ke pengusaha yang menjadi anggota Bank Gakin. Melalui mediasi BI, sudah dilakukan dua kali presentasi.
Namun para bankir masih enggan, karena menerapkan kriteria manajemen risiko. "Kan Bank Gakin tidak perlu agunan. Perlu ada terobosan. Kalau ada penjaminnya, tentu kita bisa bantu. Pemerintah daerah perlu meyakinkan dunia perbankan," kata Sukiman.
Perilaku dunia perbankan yang tak ramah terhadap pengusaha kecil ini pernah dikecam oleh Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Perbankan mematok bunga kredit lebih tinggi bagi sektor UKM, sampai 24 persen per tahun (flat). Sementara, untuk perusahaan besar, perbankan hanya mematok bunga sekitar 12 persen per tahun.
"Perlakuan kita di republik ini semua terbalik. Usaha besar dapat perlakuan yang lebih mudah, bunga lebih rendah. UKM bunga lebih tinggi. Itu perbuatan yang tidak pantas kita lakukan," kata Kalla.
Dalam buku 'Hanya dengan Kerja Keras: Catatan Seorang Wakil Presiden', Kalla memandang, perbankan harus turun tangan membantu sektor riil. "Apa yang saya tuntut dari para bankir, adalah agar mereka tidak menjadikan faktor risiko sebagai sesuatu yang mutlak untuk tidak menjadi kreatif," tulisnya.
"Buat apa kita memiliki sektor perbankan yang kaya raya bila ternyata tak bermanfaat bagi pembangunan. Bagi saya, sektor perbankan harus turun tangan membantu sektor riil agar bergerak maju, dan bisa diandalkan untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat," tulis JK.
Suherman Rosyidi, ekonom Universitas Airlangga Surabaya, mengatakan, watak perbankan konvensional memang tidak terlalu ramah kepada sektor riil. Sistem perbankan konvensional memiliki pendekatan moneter. "Bagaimana caranya agar duit bertambah. Ini berbeda dengan perbankan ekonomi syariah, yang ditunjukkan dalam bank syariah melakukan pendekatan, bagaimana menggerakkan pasar," katanya.
Suherman membandingkan loan to deposit rasio (LDR) atau rasio antara pinjaman terhadap dana pihak ketiga antara bank konvensional dengan bank syariah. Loan to deposit ration (LDR) bank syariah 96 persen, dan perbankan nasional 54 persen.
LDR merupakan rasio antara pinjaman terhadap dana pihak ketiga. Dalam perspektif intermediasi, perbankan syariah lebih bagus. "Ini berarti uang yang disalurkan ke masyarakat, ke sektor riil lebih tinggi di bank syariah daripada di bank konvensional," kata Suherman.
Bank syariah juga lebih mudah ditembus, karena bermodalkan kepercayaan. Pola kepercayaan ini mirip dengan Bank Gakin. "Kredit macet di bank konvensional 10-20 persen. Namun di perbankan syariah, non performing finance (NPF) hanya 5 persen," kata Suherman.
Namun Mirfano mengatakan, tak mudah juga menembus bank syariah. "Sama seperti bank pada umumnya, mereka menerapkan prinsip 5 C, salah satunya collateral atau jaminan. Bank Gakin dan para anggotanya tentu tidak punya itu," jelasnya.
Bank Gakin sebenarnya sudah berupaya mengatasi persoalan jaminan itu dengan bersatu mendirikan Koperasi Keluarga Indonesia (Kopgakin). Kopgakin didirikan oleh 31 Bank Gakin, dan siap memberikan kolateral berupa sertifikat tanah senilai Rp 200 juta. Ada harapan agar perbankan mau bermitra dengan Kopgakin, dan kredit dari perbankan digunakan untuk membiayai kegiatan ekonomi para anggota Bank Gakin. Namun, harapan itu bertepuk sebelah tangan.
Kopgakin tak cukup menarik hati perbankan. Akhirnya, Kopgakin dan Bank Gakin berjalan sendiri. Bank Gakin menyetorkan simpanan wajib dan pokok, dan dari situ uang diputar untuk memberikan pembiayaan kepada Bank Gakin yang membutuhkan.
Mirfano dan para pelaku Bank Gakin belajar dari Muhammad Yunus, Bapak Grameen Bank yang modelnya diadaptasi Bank Keluarga Miskin (Bank Gakin) dengan sejumlah inovasi. Yunus juga menemui pesimisme serupa saat berhadapan dengan pejabat bank. Ia ingin agar pejabat bank itu meminjamkan barang satu sen dua sen untuk orang miskin agar bisa mengurus diri mereka sendiri.
"Anda gila ya? Mereka tidak dapat memberi jaminan, dan jumlah sekecil itu juga tidak layak diberikan sebagai pinjaman," kata sang pejabat kepada Yunus, sebagaimana dimuat di Majalah Basis.
Mirfano, Yunus, dan orang-orang kecil itu akhirnya tahu siapa yang benar. Kegilaan tak selamanya sebuah kesalahan, ternyata. [bj/wir]
Diposting oleh Team Redaksi 1 komentar
Label: Berita Umum, Bisnis, Ekonomi, Pembangunan Desa, Pemberdayaan
Jumat, Juni 19, 2009
Pembangunan Pabrik Semen Puger Dimulai
Jemberpost.com
Kabupaten Jember terus bangkit, kini menyusul sektor industri yang juga mulai menggeliat dengan ditandai peletakan batu pertama pembangunan pabrik semen yang berlokasi di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember. “Semoga niat yang baik ini akan membawa kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Jember pada umumnya”, demikian tegas Bupati Jember MZA Djalal ketika melakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik semen Puger Jaya Raya Sentosa di Kecamatan Puger.
Menurut Djalal meski pembangunan pabrik semen ini kerjasama antara Pemkab Jember dengan Pemerintah China, namun dengan tidak meninggalkan rasa patriotisme dan kecintaan kepada bangsa ini, kita juga mempunyai ikatan emosional yang kuat dengan masyarakat china. Namun demikian Bupati Djalal minta agar semua uang mereka juga di simpan di wilayah ini. “Agar supaya pertumbuhan ekonomi kita semakin meningkat, sehingga akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat, “pintanya.
Nantinya setelah pabrik semen ini mulai beroperasi dan berproduksi, sebaiknya seluruh pembangunan di Kabupaten Jember ini memakai semen produksi dari Puger ini. “Sebab kalau semua bangunan pakai semen ini akan memberikan nilai tambah dan produksi semen puger ini akan meningkat tajam”, katanya.
Diakhir sambutannya Djalal minta kepada masyarakat Puger khususnya untuk ikut menjaga keamanan, ketentraman dan ketertiban. “Kalau ada sesuatu yang tidak cocok, mari kita musyawarahkan bersama dan jangan senang melakukan demonstrasi”, ajaknya.
Kedua, agar warga masyarakat Jember yang mempunyai keluarga di luar Jember, untuk melakukan investasinya di wilayah ini, sebab Bupati Djalal menjamin akan memberikan banyak kemudahan, utamanya mengenai pengurusan perijinan akan dipermudah. “Karena bagi saya, bagi pengusaha yang serius untuk menanamkan modalnya di Jember akan dibantu sepenuhnya, asalkan investasinya yang sesuai”, janjinya.
Sementara itu owner pabrik Semen Puger Jaya Raya Sentosa, Hengky Sugiharto Gunawan mengatakan bahwa keinginannya untuk mendirikan pabrik semen ini merupakan hasil kunjungannya di China yang melihat di negara tersebut banyak pabrik kecil yang dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat di China. Atas kenyataan ini, Hengky langsung menghadap Bupati, yang langsung direspon positif oleh beliau dengan menyetujui pembangunan pabrik semen diwilayah ini . “Kami langsung mengurus perijinan yang dibantu langsung oleh Bapak Bupati Djalal dengan menggerahkan stafnya dibagian perijinan”, kisahnya.
Acara selain dihadiri unsur muspida Jember, para pengusaha, SKPD Pemkab Jember juga dihadiri oleh konjen China di Surabaya ini untuk menyaksikan peletakan batu pertama pembangunan pabrik ini, dan merupakan tanda dimulainya pembangunan pabrik semen, yang juga adalah salah satu dambaan masyarakat Jember secara keseluruhan. “Pembangunan pabrik semen itu merupakan upaya guna mencukupi kebutuhan bahan bangunan murah bagi warga setempat”, ujarnya.
Karena pembangunan itu guna membantu masyarakat dalam memperoleh bahan bangunan murah, maka semen yang diproduksi harga jualnya relatif murah, jauh lebih murah dibandingkan harga semen yang kini beredaran di pasaran. “Kandungan potensi bahan baku semen di Kabupaten Jember sangat potensial, diperkirakan mencapai ratusan juta ton dengan kualitas sangat cocok untuk bahan semen dan mampu memasok industri berkapasitas dua juta ton per tahun”, katanya.
Lebih jauh, menurut Hengky pembangunan pabrik akan diselesaikan secara bertahap dan akan rampung selama 8 bulan serta direncanakan beroperasi dengan produksi seribu ton per hari dan akan dilanjutkan dengan tahap pembangunan berikutnya, sehingga produksi akan lebih meningkat menjadi 3000 ton per hari. “Sehingga pabrik ini bisa benar-benar menjadi pabrik mini yang mampu mencukupi kebutuhan akan semen diwilayah ini”, jelasnya.
Mengenai jumlah tenaga kerja yang akan terserap dalam beroperasinya pabrik ini yang mencapai antara 300 hingga 500 orang, sehingga dengan berdirinya pabrik semen ini akan lebih mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki wilayah Jember, baik SDA maupun SDM. “Dengan demikian pabrik semen ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar puger dan Jember pada umumnya” pungkasnya. (sal)
Diposting oleh Team Redaksi 2 komentar
Label: Berita Umum, Bisnis, Ekonomi, Pemberdayaan
Senin, Juni 15, 2009
Pembagian Hasil Cukai Rokok Perlu Dibahas Ulang
Jemberpost.com,
Kabupaten Jember sebagai pusat tembakau Jawa Timur, memang tak bisa kita pungkiri. Bahkan sudah terkenal ke mancanegara, tembakau Jember telah menjadi konsumsi dunia. Cukai rokok yang menjadi pemasok utama devisanegara ini memang hendaknya juga dibahas mengenai pembagian hasilnya antara pusat dan daerah. Itulah tema yang diangkat dalam Seminar sehari Strategi dan kebijakan peningkatan cukai rokok yang digelar di Pendopo Wahyawibawa graha, (15/6).
Seminar yang dihadiri oleh para Bupati Jember, pengusaha rokok kecil dan menengah, pakar tembakau Jember, Ka. Biro Perekonomian Jatim, Perwakilan Kantor Bea & Cukai Jawa Timur.
Menurut Kabiro Perekonomian Jatim, Dr. Ir. Rb. Fattah Yasin, Msi, bahwa melihat dari potensi yang ada di propinsi Jawa Timur sangatlah membanggakan dalam menyumbang devisa untuk negara. Disamping Jawa Timur sebagai lumbung pangan, pusat perkebunan tebu, dsb. Semua itu, banyak disumbangkan oleh Kabupaten-Kabupaten yang sangat produktif, diantaranya Kabupaten Jember. “Meski diakuinya, bahwa kontribusi dari dampak tersebut tak sepadan dari apa yang diberikan oleh daerah ke pusat, “katanya.
Oleh karena itu, memang sudah sepantasnya bahwa dengan otonomi daerah seharusnya pembagian tersebut haruslah seimbang, mengingat kebutuhan kabupaten dalam membangun infrastruktur yang baik untuk mempermudah para petani dalam meningkatkan hasil produksinya.
Pada dasarnya, daerah atau Kabupaten hanya menerima dari hasil cukai rokok tersebut sebesar 2 % dari hasil penjualan cukai yang ada, itupun dana hasil pembagian cukai diserahkan oleh pusat melalui pemerintah propinsi dalam bentuk pembangunan-pembangunan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan fasiliatas umum, “tegas Fattah.
Bupati Jember, MZA Djalal, juga mengungkapkan bahwa melihat dari kontribusi yang sangat besar tersebut. Memang, tak selayaknya daerah khususnya Kabupaten hanya menikmati 2 % dari penjualan cukai tersebut.
Bayangkan, Jawa Timur mempunyai 3 Kabupaten penghasil tembakau terbaik nasional, maupun mancanegara, misalnya Bojonegoro, Pamekasan, dan Jember sendiri. Didukung kabupaten-kabupaten penghasil tembakau lainnya.
Disamping itu juga, tegas Djalal, pabrik rokok terbanyak adalah di wilayah Jawa Timur. Bayangkan, jika dalam 1 tahun saja Kabupaten Jember lewat satu pengusaha kecil rokok memberikan kontribusi sebesar 150 ribu/bulan, jika dikalikan 1 tahun sudah berapa?, “tandas Djalal.
Oleh karena itu, jika hanya mendapat 2 %, dan itupun diterima oleh Pemprop dalam bentuk pembanguan fasilitas-fasilaitas yang ada. Belum lagi, lanjut Djalal, bahwa konsumsi rokok di Jember tergolong sangat tinggi. Dalam per-hari, produsen rokok bisa menjual hampir ± 2 ribu-3 ribu batang.
Oleh karena itu, Djalal, meminta agar Pemprop sebagai pemegang wilayah agar mampu mengakomodir yang ada di Kabupaten sebagai bahan rujukan untuk kembali membahas pembagian hasil cukai antara pusat dan daerah. Mengingat kebutuhan kabupaten juga sangat tinggi, khususnya dalam kebutuhan Kabupaten terhadap peningkatan kualitas SDM yang ada, “pungkas Djalal. (sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Bisnis, Ekonomi, Pemberdayaan