Jemberpost.com
Dipenghujung tahun 2009, Kab Jember nampaknya bakal bikin kejutan, Kaliwates berhasil dalam menembus lima besar Jawa timur penilaian sinegitas pelayanan Masyarakat.Dalam pernyataan ketua Tim Penilaian, Chairul Anwar, SH, mengatakan bahwa penilaian diberikan kepada nominator, dengan melihat sejauh mana keberhasilan Bupati dalam memotivasi camat, sekaluigus melihat kreatifitas dan inovasi camat didaerah. Dia juga menjelaskan kalau penilaian tersebut juga melihat sinegitas dari unit kerja dalam memberikan pelayanan terbaiknya terhadap masyarakat, baik di bidang administratif dan kesehatan. Selanjutnya, chairul menjelaskan, bahwa tujuan penilaian tersebut untuk memberikan stimulan atau inspirasi termasuk motivasi camat dalam melaksanakan tugasnya.
Dengan adanya kegiatan seperti ini, ungkap Chairul, supaya terjalin komunikasi yang baik, sehingga apa yang terjadi di masyarakat merupakan bahan informasi yang bisa dighunakan sebagai bahan ajuan bagi Bupati maupun camat dalam mengambil kebijakan dalam penyelenggarakan pemerintahan di daerahnya.
Sementara itu, Camat kaliwates, Drs. Sigit Akbari, juga mengatakan penilaian yang diadakan oleh propinsi Jawa Timur ini merupakan lomba sinergitas kecamatan yang berpatokan pada leadership seorang camat. “kami pada saat mengawali lomba kemarin dengan mengirimkan satu makalah telah masuk 10 besar, kemudian kita harus memberikan paparan dari sekian banyak tim. Alhamdulilah, masuk 5 besar dan sekarang ini dikunjungi untuk melihat kesesuain antara paparan dengan kenyataan di lapangan”, jelasnya.
Sigit juga menjelaskan tentang paparan tersebut merupakan program-program kabupaten jember, misalnya mengangkat kelurahan sebagai SKPD sendiri, kesehatan mengangkat masalah posyandu yang di SK kan dan mendapatkan honor dari pemkab, pendidikan mengangkat program pemerintah mengenai gugur gunung sehingga bisa mengentaskan jember dari buta aksara sehingga Bupati Jember mendapatkan penghargaan dari Mendiknas. Sedangkan dari sisi ekonomi, yang kaitannya dengan KSU yang secara serentak beberapa waktu yang lalu dibentuk di kabupaten jember, sekaligus mengangkat pembangunan rumah layak huni (bedah rumah) dengan jumlah lebih dari 5000 yang di bangun oleh kabupaten jember.
Dan ini semuanya merupakan kenyataan riil yang ada di kabupaten jember. Sehingga apa yang di ajukan melalui pemaparan tersebut merupakan kenyataan yang ada dan telah dilakukan oleh kab Jember dalam rangka membangun, serta memberdayakan masyarakat Kab Jember, khususnya di pedesaan. (sal)
Kategori
Blog Archive
Senin, Desember 28, 2009
Kaliwates Masuk Nominasi Penilaian Sinergitas Jatim
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Layanan Publik, Pembangunan Desa
Jumat, Oktober 30, 2009
Pemeliharaan Jalan Prioritas Utama
Jemberpost.com- Empat skala prioritas pembangunan yang salah satunya pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana, termasuk Pemeliharaan jalan merupakan prioritas yang dilakukan oleh pemkab Jember untuk membangun sarana tranportasiyang memadai bagi masyarakat terpencil. Hal ini dinyatakan oleh Kabid Pemeliharaan Jalan & jembatan, Senan, ST, saat dikonfirmasi diruang kerjanya.
Menurut Senan, saat di wawancarai di ruang kerjanya Mengatakan bahwa sesuai skala prioritas yang telah di canangkan oleh Bupati Jember, Dinas PU Bina Marga melalui Bidang Pemeliharaan Jalan & jembatan, sehingga jalan-jalan yang ada di Kab. Jember utamanya jalan Kabupaten, bebas dari lubang dengan harapan pengendara nyaman dalam mengendara serta membuka akses jalan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat desa.
Dirinya juga mengungkapkan, ada beberapa jembatan jebol atau rusak, Dinas PU Bina Marga akan segera melakukan perbaikan jalan atau jembatan tersebut secepatnya untuk mengurangi terhindarnya kecelakaan akibat jalanan yang berlobang. untuk kerusakan jalan yang hanya mencapai 15 persen, Dinas PU Bina Marga akan hanya dilakukan pemeliharaan saja, sedangkan untuk persentase diatas 15 persen baru akan dilakukan peningkatan aspal jalan baru.
Menurutnya bahwa Pemeliharaan jalan desa dilakukan secara seksama, melalui survey lapangan sehingga petugas pemeliharaan jalan Dinas PU Bina Marga dapat mengetahui tingkat kerusakan serta penyebab kerusakan tersebut, dengan begitu Bidang Pemeliharaan jembatan & jalan bisa menyesuaikan sesuai dengan tingkat kebutuhan yang ada, ungkapnya. Melalui usulan dari UPTD PU Bina Marga yang ada di kecamatan, Dinas Bina Marga PU Jember.mampu mengetahui jalan-jalan yang rusak, dan mana yang menjadi prioritas untuk segera di tangani sesuai dengan kebutuhan yang ada, tandas Senan .
Oleh karenanya, untuk mengantisipasi kerusakan jalan yang semakin besar, maka setiap tahunnya Dinas PU Bina Marga selalu mengajukan perawatan jalan maka Dinas PU Bina Marga melalui UPTD yang ada menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk ikut serta berpartisipasi membantu menjaga, serta gotong royong bersama dengan sehingga jalan yang rusak tidak menjadi tambah parah. ungkap Senan ( sal )
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Layanan Publik, Pembangunan Desa
Senin, Oktober 26, 2009
Pembangunan Jalan Sentuh Desa Terpencil
Jemberpost.com
Pembangunan merupakan wujud impian masyarakat, jika pembangunan dilaksanakan dengan baik dan sungguh sungguh, bisa dipastikan cita-cita bangsa membangun masyarakat adil dan makmur akan terwujud. Hal ini disampaikan oleh Kabid Pembangunan & Peningkatan Jalan & Jembatan, Ir. Mas’ud Msi, saat diwawancarai di kantornya.
Menurut Kabid Pembangunan & Peningkatan Jalan & Jembatan, Ir. Mas’ud Msi. Mengatakan bahwa Terkait dengan program Dinas PU Bina Marga, sesuai dengan tupoksi yang diembannya, setiap tahun ada pemeliharaan pembangunan, dan peningkatan jalan dan jembatan . lebih kurang 90 kilometer yang diperbaiki. Pemeliharaan jalan maupun jembatan.untuk tahun 2009 ini ada sekitar 43 unit jembatan yang sudah kita laksanakan baik itu pembangunan maupun pemeliharaan jalan dan jembatan, ucapnya.
Bidang pembangunan dan peningkatan jalan-jembatan. Meliputi pembangunan jalan atau jembatan dari tidak ada menjadi ada. untuk itu terus selalu peningkatan jalan dan jembatan, misalnya pelebaran dari dua meter setengah menjadi empat meter , disamping peningkatan jalan yang rusak akan diperbaiki perbaiki menjadi lebih baik sehingga arus transportasi orang, barang dan jasa itu bisa lancar dan tidak terhambat. Ungkap Mas’ud.
Dengan adanya pemeliharaan jalan atau jembatan, yang jelas transportasi akan lancar, untuk itu, lanjut Mas’ud, agar jalan jalan yang sudah di perbaiki, meminta partisipasi aktif masyarakat untuk membantu menjaga kebersihan saluran air (gorong-gorng) dari sampah sehingga air tidak menggenang, hal inilah yang akan merusak jalan. Dengan begitu, ungkapnya, usia jalan itu akan lebih lama
Lebih lanjut juga Mas’ud mengungkapkan, Sebenarnya di Kab Jember masih ada jalan jalan yang terisolir dan belum bisa di jangkau perbaikannya, namun dirinya berharap dengan anggaran yang ada, Pemkab Jember berusaha untuk menyentuh ke seluruh di wilyah yang terpencil, seperti di desa sucopagenpok, Kec. Jelbuk, Ds Baban Kec. Silo, yang dulunya tidak tersentuh pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di tahun yang akan dating, akan mulai digarap, ungkapnya. Semua itu, menurut Mas’ud, dilakukan, mengingat jalan dan jembatan merupakan infrastruktur yang paling vital dalam meningkatkan jaringan ekonomi masyarakat. “kalo jaln, jembatannya bagus, kan akses menuju desa tersebut kan lancer, jika itu dipenuhi, maka saya yakin mas, masyarakat melakukan usaha apapun, pasti juga lancer”ucapnya. (sal/hms)
Diposting oleh Team Redaksi 1 komentar
Label: Berita Umum, Layanan Publik, Pembangunan Desa
Jumat, Oktober 02, 2009
Reboisasi Hutan di Jember Capai 397,50 Persen
Jemberpost.com
Jerih payah KPH Jember, dalam upaya mengembalikan kondisi hutan di bawah pengawasannya, hasilnya cukup membanggakan. Ini terbukti, Gerakan Nasional (Gerhan) Hutan Lindung yang dilaksanakan Perum Perhutani KPH Jember pada tahun 2007/2008, setidaknya sudah mendapat pengakuan dari BP DAS Sampean.
Gerhan Hutan Lindung Perhutani Jember, dinilai oleh BP DAS berjalan sangat memuaskan, dengan nilai rata-rata persentase tumbuhan sebesar 397, 50 persen. Untuk penilaian PO (penilaian selesai tanam, 400 Ph/ha), kegiatan rehabilitasi hutan ini memperoleh nilai 88, 39 persen.
Sedang untuk penilaian P1 (penilaian pemeliharaan pertama/sulaman) memperoleh nilai 93, 68 persen dan penilaian P2 (penilaian kedua/gebrus piringan) memperoleh nilai 98,18 persen. “Nilai rata-rata persentase tumbuhan sebesar 397, 50 persen,” papar Ir Taufik Setyadi, Administratur Perum KPH Perhutani Jember.
Kegiatan penghijauan kembali hutan di Jember yang merupakan bagian dari Pulau Jawa ini, menurut Taufik, sebagai sebuah keharusan yang mesti dijalankan. Mengingat sekitar 60 persen dari penduduk Indonesia berada di pulau Jawa, sedang luas hutan yang ada tidak cukup.
Karena itu untuk mengimbangi tingkat kepadatan penduduk yang ada di Pulau Jawa diperlukan upaya optimal dalam mengembalikan kondisi hutan. Penghijauan kembali pada kawasan hutan, utamanya di Jember ini, sangat perlu dilakukan, mengingat kawasan hutan yang ada hanya 23 persen dari luas keseluruhan Pulau Jawa
Terlebih dalam masalah kehutanan, Perum Perhutani sebagai BUMN di bawah naungan Departemen Kehutanan, lanjut Taufik, diberi kewenangan untuk mengalola sebagian kawasan hutan yang ada di Pulau Jawa. “Baik itu berupa kawasan hutan produksi maupun hutan lindung,”tandasnya.
Dikatakannya, bahwa kawasan hutan yang baik diperlukan untuk mendukung kelangsungan kehidupan yang optimal di Pulau Jawa. Karena itu, kaitan dengan ini, Perum Perhutani untuk tahun 2010 mencanangkan Program Perhutani Hijau 2010 dengan salah satu kegiatannya adalah Gerakan Nasional (Gerhan) Hutan Lindung.
Sekadar diketahui, dalam upaya mengembalikan kondisi dan fungsi hutan ini, khusus untuk kawasan hutan di wilayah Perum Perhutani KPH Jember, pada tahun 2007/2008 telah melaksanakan kegiatan Gerhan Hutan Lindung seluas 9.039,1 hektar. Lokasi reboisasi yang dijadikan pusat kegiatan, yaitu BKPH Lereng Yang Barat seluas 83,7 hektar, BKPH Lereng Yang Timur 185 hektar, BKPH Sempolan 10,2 hektar, BKPH Sumberjambe 91,8 hektar, BKPH Mayang 5.482,3 hektar dan BKPH Ambulu 3.186,1 hektar.
Dalam pelaksanaan Gerhan Hutan Lindung tersebut Perum Perhutani KPH Jember bekerjasama dengan semua stakeholder yang ada. Itu diantaranya LMDH, FK-LMDH Kabupaten Jember, Kodim 0824 Jember, Polres Jember, GNKL PCNU Jember dan Pemerintah Kabupaten/Kecamatan/Desa setempat. (indra)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Pembangunan Desa
Senin, September 28, 2009
Pilih Paving Untuk Perbaikan Jalan
Jemberpost.com-. Untuk memberikan kenyamanan kepada masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari, Pemerintah Desa Curahmalang, Kecamatan Rambipuji, melakukan pemavingan pada lorong-lorong utama yang ada di desa tersebut. Pavingisasi pada jalan di Desa Curahmalang ini, dilakukan di 4 dusun, Gumuksari, Gumawang, Krajan, Gereng.
yang ada didesa curah malang saling bahu membahu rakyatnya bergotong royong bersama sama membangun desanya agar dapatnya roda prekonomian dapat teraksis dengan baik dan kalau jalan kita baik kesejahteraan masyarakat akan dengan sendirinya ikut pula menikmatinya.
Perbaikan pada kondisi jalan yang ada di Desa Curahmalang diakui Kepala Desa Yosep Yuliadi, S.Sos, sebagai program prioritas. Fokus perbaikan jalan ini, khususnya yang belum teraspal dan jauhnya mencapai 7 kilometer. “Saat saya menjabat jadi kepala desa, masih berupa jalan tanah, kemudian saya punya inisiatif untuk alokasi dana desa (ADD). Memang saya fokuskan untuk jalan utamanya dengan pavingisasi,” ujarnya.
Program pavingisasi pada poros jalan di desa ini, karena menurut Yosep, bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak dibanding pengaspalan. Dan secara kebetulan di Curahmalang, tenaga pemasang paving jumlahnya cukup banyak.
Dengan dilakukannya pavingisasi pada jalan di desa ini, mereka yang memiliki keahlian memasang paving block, tidak usah jauh-jauh dalam mencari rejeki. Cukup bekerja di desanya sendiri, para pemasang paving ini sudah bisa mendapatkan rejeki.
“Di Desa Curahmalang banyak sekali pekerja tukang pasang paving, mereka banyak yang bekerja di luar kota. Jadi saya berdayakan masyarakat di lingkungan ini untuk memasang paving,” jelasnya.
Dipilihnya pavingisasi untuk perbaikan jalan ini, kata Yosep, juga didasarkan atas biaya perawatan yang harus dikeluarkan ketika jalan itu mengalami kerusakan. Perbaikan jalan dengan paving block ini, biayanya bisa diperoleh melalui swadaya masyarakat.
Dibanding menggunakan aspal, biaya perawatan jalan paving block ini lebih murah. “Kalau aspal jelas masyarakat tidak mampu memperbaiki apabila sudah rusak. Soalnya kebanyakan saya lihat di desa-desa lain, aspal belum berumur 2 tahun banyak yang sudah rusak,” paparnya
Belum lagi soal daya tahanannya. Dibanding jalan yang memakai cairan aspal, jalan dengan menggunakan paving block, bisa bertahan lebih lama. Ini kata Yosep, bisa dibuktikan dari kondisi jalan beraspal yang ada di desanya.
Jalan yang dibangun baru berumur setahun, sudah mengalami kerusakan. Padahal pada daerah itu juga ada jalan yang dibangun dengan menggunakan paving block, dan sudah berumur tidak kurang dari 3 tahun. “Sehingga masyarakat sendiri antusias untuk pavingisasi jalan,” akunya.
Mengenai kemampuannya untuk menerima beban kendaraan bermiuatan berat, Yosep menjelaskan, sesuai hasil uji yang sudah dilakukan, jalan dengan paving block ini, mampu dilewati kendaraan bermuatan berat. Sukses pemanfaatan paving untuk jalan ini ternyata cukup mendapat dukungan masyarakat.
Malaha masyarakat setempat, meminta desa untuk tidak menggunakan aspal dalam program perbaikan jalan. “Masyarakat menyarankan jangan pakai aspal, kalau bisa daerah saya dipaving juga banyak permintaan masyarakat seperti itu. Jadi dengan kekuatan alokasi dana desa yang diberikan Pemkab Jember, saya fokuskan pada pembangunan jalan paving,” katanya.
Selajutnya, sesuai dengan yang sudah dijanjikan oleh Bupati Jember, MZA Djalal, bahwa untuk tahun 2010 masing-masing desa akan mendapat Rp 500 juta, Yosep berharap, agar dana itu benar-benar bisa direalisasikan. “Kalau itu terrealisasi, mungkin desa saya akan cepat sekali pembangunannya. Mudah-mudahan doa saya dikabulkan, sesuai janji bapak Bupati Jember,”tambahnya. (sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Pembangunan Desa
Rabu, Agustus 12, 2009
Kepala BPN RI Tinjau Jalur Lintas Selatan
Jemberpost.com
Kepala BPN RI Joyo Winoto melakukan roadshow Jalur Lintas Selatan (JLS) dari Banyuwangi hingga Pacitan hari minggu kemarin, dalam kunjungannya ke Jember Joyo didampingi Kepala BPN Jember Siswo Prajitno beserta tim melihat langsung kesiapan jalan di Jember sepanjang 85 Km.
Siswo diruang kerjanya siang tadi menjelaskan bahwa Peningkatan kemakmuran menjadi harapan adanya Jalur lintas Selatan tersebut dan untuk itu pihaknya melihat secara langsung kesiapan JLS.
" JLS Jember sangat siap, dari 85 km tersebut hanya sekitar 10 km yang akan dibebaskan dan itu akan dianggarkan oleh Pemkab Jember pada TA 2009 mendatang, Anda lihat di sekitar Puger telah terbangun Pabrik Semen, Pembangunan kampung nelayan dan sebagainya, itu semua akan lebih meningkatkan kemakmuran jika JLS selesai”Pungkasnya (sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Layanan Publik, Pembangunan Desa
Sabtu, Agustus 01, 2009
Dispenda Serukan Intensifkan PBB
Jemberpost.com,
Pajak merupakan sumber pembangunan paling tidak hal seperti inilah yang harus ditanamkan kepada para Wajib Pajak (WP), sebab tanpa pajak praktis pembangunan akan berjalan tersendat-sendat yang pada akhirnya masyarakat juga-lah yang dirugikan.Meski pada tahun 2009 ini jatuh tempo pembayaran pajak hingga akhir bulan Juli, namun dari total pajak yang dibayarkan oleh wajib pajak sebesar Rp. 21 Milyar di Kabupaten Jember, hingga pertengahan bulan ini baru mencapai 30%. Rendahnya perolehan pajak tersebut adanya berbagai faktor, misal terkait kondisi politik di tanah air seperti Pemilihan Gubenur (Pilgub), legislatif (pileg), maupun Pemilihan Presiden (pilpres).
Hal tersebut dikemukakan H. Drs.Soeprapto Kepala Dinas Pendapatan (Dispenda) Kabupaten Jember, minimnya prosentase pajak yang terkumpul membuat Dispenda perlu mencari terobosan-terobosan untuk mendongkrak perolehan pajak di Kabupaten Jember. Salah satu terobosan itu diantaranya dengan menggerakan para Camat selaku pejabat di wilayah Kecamatan dan para Kepala Desa untuk lebih intensif dalam memungut Pajak Bumi Dan Bangunan (PBB), paling tidak dengan adanya metode jemput bola kepada para Wajib Pajak (WP) di tingkat desa dan Kecamatan diyakini oleh Soeprapto bisa menaikkan jumlah perolehan PBB yang ada. “Bukan berarti dengan adanya pelaksanaan Bulan Berkunjung Ke Jember (BBJ) lantas para Camat dan Kepala Desa melemah semangatnya dalam melakukan tugas pemungutan, saya himbau hendaklah para Camat dan Kepala Desa juga mengintensifkan pemungutan PBB kepada para wajib pajak. Ada kecenderungan selama ini para Wajib Pajak melunasi PBB mendekati saat jatuh tempo, hal ini sengaja dilakukan mereka karena berbagai alasan misalnya menunggu saat panen tiba atau adanya pengeluaran untuk membiayai anaknya yang masih sekolah atau kuliah, ”tukas Soeprapto.
Di Kabupaten Jember sendiri ada beberapa Kecamatan meski tergolong wilayah minus dikarenakan kondisi geografis dan kultur masyarakatnya, tapi perolehan PBB nya cukup signifikan seperti Kecamatan Jelbuk dan Mayang. Namun kondisi geografis itu bukan sebagai tolok ukur kecilnya perolehan PBB di kecamatan, semua itu bergantung kepada kesadaran masyarakatnya. Dispenda sendiri tetap akan memberi reward atau penghargaan kepada kecamatan yang perolehan PBB-nya lunas, selain adanya upah pungut dilapangan, Dispenda akan memberikan bonus bukan berupa barang seperti pada tahun sebelumnya, namun 5% dari baku PBB yang terkumpul sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Bupati.
Soeprapto menambahkan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jember telah memberi kesempatan kepada para Wajib Pajak sampai Juni 2009, bila ada keberatan dari para Wajib Pajak, terkait salah penulisan nama Wajib Pajak, terlalu besar nominal yang dibayarkan, salah dalam penetapan kelas. Hal itu bisa dilakukan oleh para Wajib Pajak dengan menyertakan salinan atau foto kopi sertifikat tanah apabila memang ada kesalahan penulisan luas tanah, atau cukup membawa KTP asli bila pencantuman nama Wajib Pajak tidak sesuai dengan tanda pengenal. ”Bila ada kasus semacam ini hendaknya para Wajib Pajak jangan diam saja lantas tidak mau membayar PBB, padahal tanpa pajak pembangunan sulit terwujud, ”jelas Suprapto.
Apabila total baku pajak di Kabupaten Jember terpenuhi semua sebesar Rp. 21 M, maka 64 % atau sekitar 14 sampai l5 Milyar akan dikembalikan ke daerah melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), namun adanya permasalahan dilapangan seperti banyaknya rumah atau tanah di perkotaan dan di pedesaan dikosongkan oleh pemiliknya tanpa sebab yang jelas menyulitkan penarikan PBB, pasalnya para wajib pajak yang seharusnya melunasi PBB tidak diketahui keberadaan tempat tinggalnya. ”Banyak kan di jumpai rumah atau tanah yang dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya, dispenda mau menagih PBB kepada mereka juga mengalami kesulitan kemana harus menghubunginya, ”pungkas Soeprapto.
Sementara itu Camat Mayang H. Mahfud Jaya, SH mengatakan dirinya selalu memberikan motivasi kepada para Kepala Desa, agar terus mengintensifkan PBB. Bahkan setiap Senin Mahfud yang pernah menjabat Lurah Sempusari itu melakukan evaluasi termasuk kendala PBB di lapangan, bahkan Mahfud berjanji akan memberi bonus khusus berupa jam tangan yang diambilkan dari kantong pribadinya kepada perangkat desa diwilayahnya yang mampu melunasi PBB. ”Upaya ini sengaja saya terapkan agar mereka para petugas pemungut PBB lebih bersemangat, dan mereka akan merasa senang bila kerjanya dihargai dengan reward meski hanya jam tangan, ”ungkap Mahfud. (sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Layanan Publik, Pembangunan Desa
Senin, Juli 06, 2009
Luas Dibawah 200m, HGB Bisa Berubah Hak Milik
Jemberpost.com- Selama Berkunjung ke Jember (BBJ) Badan Pertanahan Nasional (BPN) mengadakan pengurusan HGB menjadi hak milik di komplek perumahan yang luasnya dibawah 200 meter ke bawah.Perubahan status sertifikat milik warga ini dilakukan BPN tanpa beban biaya yang terlalu mahal seperti hari biasa. Khusus selama BBj ini biaya ringan.
Menurut Kepala BPN Jember, Siswo Prajitno, ada kencenderungan banyak yang masih belum mempunyai sertifikat hak milik. Untuk itu pihaknya bekerjasama dengan para penghuni melalui RT / kepala dusun dan Lurah atau warga masyarakat yang belum mempunyai sertifikat tanah agar segera diusulkan kepada BPN.
“Prosesnya cukup singkat tidak perlu mengganti blangko sertifikat cukup mengecap sertifikat menjadi hak milik sudah selesai,” jelasnya.
Perubahan HGB menjadi Hak Milik ini dijamin pengurusannya memakan biaya yang sangat murah dan cepat. Mengingat cakupan luas tanah hanya sekitar � 200 meter kebawah.
Pada tahun ini, BPN memprioritaskan KPR/ BTN yang ada diwilayah Mastrip, wilayah Gumuk kerang, Mangli. Namun bagi pemilik perumahan yang lain juga mempunyai kesempatan yang sama.[bj]
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Layanan Publik, Pembangunan Desa
Senin, Juni 22, 2009
Bukannya Bantu, BI Malah Tegur Bank “Gakin”
Jemberpost.com - Musuh Tutik Aspita bertambah. Sejak menjadi pengurus Bank Gakin Wonosari di Jember, Jawa Timur, ia diincar oleh para rentenir. Kehadiran Bank Gakin telah membuat warga miskin tak lagi menjadikan para rentenir sebagai tempat meminjam uang.
Tutik mengatakan, fitnah menghampirinya. Bermacama-macam fitnah itu, dan sebagian besar menyangkut urusan duit. Namun, ia dan kawan-kawannya jalan terus.
Gagal menebar fitnah, para rentenir putar haluan, mencoba memanfaatkan Bank Gakin. Ia meminjam uang dari Bank Gakin dalam jumlah besar. "Bukan untuk modal usaha, tapi untuk dikembangkan. Kita tahu, dan kita tidak pinjami," kata Tutik.
Namun rentenir bukan satu-satunya 'lawan' Bank Gakin. Di luar dugaan, Bank Gakin justru dianggap sebagai 'lawan' bank formal. Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jember, Mirfano, mengatakan, sudah berupaya agar bank formal mau bermitra dengan Bank Gakin. Harapannya, tentu saja, bank formal mau meminjamkan uang kepada para anggota Bank Gakin agar bisa mengembangkan usaha.
Mediasi dilakukan oleh Bank Indonesia. Hasilnya? Nihil.
"Perbankan di Jember kalau mendengar kata 'Bank Gakin', kupingnya panas dan merasa alergi. Bank formal di Indonesia sampai sekarang ngomong doang. Mereka tidak pernah peduli dengan pengentasan kemiskinan," tukas Mirfano.
Mirfano semakin kecewa, setelah menerima surat peringatan dari Bank Indonesia Jember, awal tahun ini. BI Jember meminta kepada Dinas Koperasi tidak mencantumkan kata 'bank' pada Bank Gakin. "Kalau bank sudah diatur dengan undang-undang, syarat-syarat bank apa saja. Kewajiban bank juga banyak. Sementara yang disebut Bank Gakin kan bukan bank, tapi lembaga keuangan mikro," kata juru bicara Bank Indonesia Jember Sukiman.
BI Jember mengkhawatirkan kesalahan persepsi masyarakat yang ditimbulkan akibat pencantuman kata 'bank'. "Misalkan ada lembaga Bank Gakin yang kolaps, kan LKM bersangkutan harus memberi ganti rugi. Larinya kan ke BI juga. Kita berkepentingan jangka panjang," kata Sukiman.
Namun, bagi Mirfano, surat peringatan dari Bank Indonesia salah tempat. "Saya tidak pernah memakai nama Bank Gakin. Itu yang mempopulerkan pengurus dan anggota Bank Gakin sendiri. Dari awal itu adalah lembaga keuangan mikro masyarakat. BI bukannya membantu, malah kasih peringatan yang tidak substansial," tukasnya.�
Tutik Aspita, pengurus Bank Gakin Wonosari di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, membenarkan. "Orang-orang sendiri yang ngasih nama itu. Saya tanya kenapa, mereka menjawab, 'Iya, Bu, ini kan bank-nya orang miskin. Selama ini bank mana ada yang mau mendekati orang miskin'," katanya.
Tanpa tedeng aling-aling, Mirfano menyebut kehadiran Bank Gakin sebagai antitesis terhadap bank formal. "Bank formal tidak pernah mau peduli dengan ekonomi keluarga miskin," katanya.
Sukiman menyatakan, BI tidak bisa memaksa para bankir untuk meminjamkan duit ke pengusaha yang menjadi anggota Bank Gakin. Melalui mediasi BI, sudah dilakukan dua kali presentasi.
Namun para bankir masih enggan, karena menerapkan kriteria manajemen risiko. "Kan Bank Gakin tidak perlu agunan. Perlu ada terobosan. Kalau ada penjaminnya, tentu kita bisa bantu. Pemerintah daerah perlu meyakinkan dunia perbankan," kata Sukiman.
Perilaku dunia perbankan yang tak ramah terhadap pengusaha kecil ini pernah dikecam oleh Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Perbankan mematok bunga kredit lebih tinggi bagi sektor UKM, sampai 24 persen per tahun (flat). Sementara, untuk perusahaan besar, perbankan hanya mematok bunga sekitar 12 persen per tahun.
"Perlakuan kita di republik ini semua terbalik. Usaha besar dapat perlakuan yang lebih mudah, bunga lebih rendah. UKM bunga lebih tinggi. Itu perbuatan yang tidak pantas kita lakukan," kata Kalla.
Dalam buku 'Hanya dengan Kerja Keras: Catatan Seorang Wakil Presiden', Kalla memandang, perbankan harus turun tangan membantu sektor riil. "Apa yang saya tuntut dari para bankir, adalah agar mereka tidak menjadikan faktor risiko sebagai sesuatu yang mutlak untuk tidak menjadi kreatif," tulisnya.
"Buat apa kita memiliki sektor perbankan yang kaya raya bila ternyata tak bermanfaat bagi pembangunan. Bagi saya, sektor perbankan harus turun tangan membantu sektor riil agar bergerak maju, dan bisa diandalkan untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat," tulis JK.
Suherman Rosyidi, ekonom Universitas Airlangga Surabaya, mengatakan, watak perbankan konvensional memang tidak terlalu ramah kepada sektor riil. Sistem perbankan konvensional memiliki pendekatan moneter. "Bagaimana caranya agar duit bertambah. Ini berbeda dengan perbankan ekonomi syariah, yang ditunjukkan dalam bank syariah melakukan pendekatan, bagaimana menggerakkan pasar," katanya.
Suherman membandingkan loan to deposit rasio (LDR) atau rasio antara pinjaman terhadap dana pihak ketiga antara bank konvensional dengan bank syariah. Loan to deposit ration (LDR) bank syariah 96 persen, dan perbankan nasional 54 persen.
LDR merupakan rasio antara pinjaman terhadap dana pihak ketiga. Dalam perspektif intermediasi, perbankan syariah lebih bagus. "Ini berarti uang yang disalurkan ke masyarakat, ke sektor riil lebih tinggi di bank syariah daripada di bank konvensional," kata Suherman.
Bank syariah juga lebih mudah ditembus, karena bermodalkan kepercayaan. Pola kepercayaan ini mirip dengan Bank Gakin. "Kredit macet di bank konvensional 10-20 persen. Namun di perbankan syariah, non performing finance (NPF) hanya 5 persen," kata Suherman.
Namun Mirfano mengatakan, tak mudah juga menembus bank syariah. "Sama seperti bank pada umumnya, mereka menerapkan prinsip 5 C, salah satunya collateral atau jaminan. Bank Gakin dan para anggotanya tentu tidak punya itu," jelasnya.
Bank Gakin sebenarnya sudah berupaya mengatasi persoalan jaminan itu dengan bersatu mendirikan Koperasi Keluarga Indonesia (Kopgakin). Kopgakin didirikan oleh 31 Bank Gakin, dan siap memberikan kolateral berupa sertifikat tanah senilai Rp 200 juta. Ada harapan agar perbankan mau bermitra dengan Kopgakin, dan kredit dari perbankan digunakan untuk membiayai kegiatan ekonomi para anggota Bank Gakin. Namun, harapan itu bertepuk sebelah tangan.
Kopgakin tak cukup menarik hati perbankan. Akhirnya, Kopgakin dan Bank Gakin berjalan sendiri. Bank Gakin menyetorkan simpanan wajib dan pokok, dan dari situ uang diputar untuk memberikan pembiayaan kepada Bank Gakin yang membutuhkan.
Mirfano dan para pelaku Bank Gakin belajar dari Muhammad Yunus, Bapak Grameen Bank yang modelnya diadaptasi Bank Keluarga Miskin (Bank Gakin) dengan sejumlah inovasi. Yunus juga menemui pesimisme serupa saat berhadapan dengan pejabat bank. Ia ingin agar pejabat bank itu meminjamkan barang satu sen dua sen untuk orang miskin agar bisa mengurus diri mereka sendiri.
"Anda gila ya? Mereka tidak dapat memberi jaminan, dan jumlah sekecil itu juga tidak layak diberikan sebagai pinjaman," kata sang pejabat kepada Yunus, sebagaimana dimuat di Majalah Basis.
Mirfano, Yunus, dan orang-orang kecil itu akhirnya tahu siapa yang benar. Kegilaan tak selamanya sebuah kesalahan, ternyata. [bj/wir]
Diposting oleh Team Redaksi 1 komentar
Label: Berita Umum, Bisnis, Ekonomi, Pembangunan Desa, Pemberdayaan
Kamis, Juni 18, 2009
Bupati Minta Makanan Khas Jumerto Dilombakan

Jemberpost.com.
Harapan Bupati Djalal terhadap bergairahnya sektor ekonomi kerakyatan, agaknya perlu mendapat dukungan dari semua pihak. Tidak hanya pemerintah, tapi masyarakat juga harus mau melakukannya dengan cara lebih berperan aktif dalam setiap program pemberdayaan yang diluncurkan pemerintah.
Keinginan Bupati Djalal, untuk menggairahkan sektor ekonomi kerakyataan ini, hari Rabu, 17 Juni lalu, terlontar dalam acara Dialog Solutif Bedah Potensi Kelurahan, di Kelurahan Jumerto, Kecamatan Patrang. Pada kesempatan itu, bupati meminta masyarakat Jumerto untuk berperan aktif menyambut Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ) yang launchingnya digelar akhir Mei lalu.
Ajakan bupati terhadap masyarakat, khususnya di Jumerto, untuk ikut ambil bagian dan memanfaatkan perhelatan BBJ yakni, bisa lewat penyediaan (penjualaan), makanan rakyat yang memang banyak ditekuni masyarakat di desa itu. Diantara makanan rakyat yang bisa dijual masyarakat dalam pagelaran BBJ menurut bupati, yaitu orok orok dan tiwul atau sawut.
Menurut bupati, makanan rakyat yang dihasilkan itu, bisa ditampilkan di arena BBJ, utamanya pada pelaksanaan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Propinsi Jawa Timur yang akan digelar pada tanggal 19 s/d 25 Juli 2009 mendatang. “Kalau perlu diadakan semacam festival makanan rakyat. Mungkin dalam waktu dekat, atau pada saat MTQ, atau juga saat digelarnya kegiatan panjat pinang dalam mendukung BBJ,”ujar Bupati Djalal.
Dengan berperannya masyarakat dalam BBJ lewat penjualan hasil produksi makanan rakyatnya, diharapkan perekonomian masyarakat di Kecamatan Patrang, akan semakin membaik. Ini karena, kegiatan produksi makanan rakyat ini, hampir bisa ditemui di semua kelurahan di Kecamatan Patrang.
Sehingga dengan dilibatkannya masyarakat dalam BBJ lewat penjualan hasil produksi makanan rakyatnya, ekonomi masyarakat di Kecamatan Patrang akan semakin bergairah, selain juga akan lebih membuat terkenal Kelurahan Patrang atau Jember. “Makanan khas yang berupa tiwul ini memang banyak disukai masyarakat, di samping harganya murah, termasuk rasanya dan kemasannya sangat menarik,” tandasnya.
Menanggapi permintaan Bupati Djalal, Camat Patrang, Drs. Gatot Suharsono, M.Si, menyatakan kesediaannya untuk menindaklanjutinya “Kami akan segera menindaklanjuti, sebagaimana disampaikan Bapak Bupati tadi, dalam acara Bedah Desa di Kelurahan Jumerto. Bahwa wilayah Kecamatan Patrang sangat potensi makanan khas rakyat seperti orok orok, tiwul dan sawut,”tambahnya. (sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Pembangunan Desa, Pemberdayaan
Rabu, Juni 17, 2009
Dukung Perumusan Penanggulangan Bencana Alam
Jemberpost.com
Bupati Jember merespon positif Seminar Nasional Penanggulangan Resiko Bencana dalam Perencanaan Pembangunan yang digagas oleh Universitas Jember. Pasalnya, dengan digelarnya seminar berskala nasional itu, perumusan penanggulangan bisa diterapkan secara langsung dalam pola perencanaan pembangunan daerah. Khususnya, bagi daerah-daerah yang rawan dilanda bencana alam.
Sambutan hangat dilontarkan Bupati Jember, MZA Djalal, pada tamu dari berbagai kabupaten di Indonesia dan tamu dari luar negeri yang bertindak sebagai peserta seminar nasional tersebut. “Kami mengucapkan selamat datang pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPBN), undangan dari dalam dan luar negeri. Saya atas nama masyarakat Jember merasa berbahagia sekali mendapat tamu-tamu istimewa,” ungkapnya.
Ia berharap besar, seminar itu akan menghasilkan hasil yang mampu memberikan solusi yang minimal bisa mengurangi resiko bencana alam pada daerah-daerah yang selama ini dinyatakan sebagai wilayah rawan bencana. “Kita akan merenung dan berdiskusi untuk mencari jalan keluar agar masyarakat di bumi bisa keluar dari masalah-masalah bencana,” tandasnya.
Djalal mengatakan, peristiwa bencana banjir bandang di Kecamatan Panti beberapa tahun lalu telah memberikan bekas luka yang mendalam bagi seluruh masyarakat Jember, khususnya keluarga korban bencana. “Kami merasakan sakit ketika terjadi bencana, karena bencana banjir bandang pernah menimpa masyarakat kami,” tuturnya.
Setidaknya, kata dia, ratusan orang meninggal dunia dalam kejadian tersebut. Bukan hanya itu, kerugian yang sangat besar juga telah menjadi harga yang sangat mahal untuk menebus luka yang menyayat hati seluruh rakyat Jember itu. “Sekitar 100 orang meninggal dalam bencana waktu itu,” ungkapnya dalam acara sambutan yang dihadiri oleh ratusan orang.
Di tengah-tengah acara yang dihadiri oleh utusan dari Kabupaten Bantul, Aceh, Jogjakarta, NTT, NTB, Nganjuk dan berbagai daerah lainnya itu, pihaknya menyampaikan rasa terima kasih berkat digagasnya seminar itu. Harapannya, seminar itu bisa menjadi bahan masukan bagi kabupaten yang selama ini kerap didera bencana alam.
“Kami berterima kasih sekali pada BPBN beserta Rektor Universitas Jember yang menggagas karya bersama dalam bentuk seminar untuk merumuskan kebijakan pemerintah daerah khususnya, dan pemerintah RI pada umumnya. Bagaimana pembangunan daerah ke depannya semaksimal mungkin bisa menanggulangi masalah-masalah bencana,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, Djalal memperkenalkan dan mensosialisasikan Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ) pada para tamu. “Dalam bulan Juli-Agustus Jember punya gawe besar bernama kegiatan BBJ. Kegiatan ini adalah kerja manajemen untuk memperingati hari HUT Proklamasi kemerdekaan RI,” ujarnya.
BBJ tersebut, lanjutnya, mengusung 3 dimensi diantaranya nilai historis, prestasi dan ekonomi kerakyatan. “Dengan dimensi prestasi akan ada isu-isu yang mencuat ke tingkat nasional, bahkan ke tingkat internasional. Seminar seperti ini masuk dalam dimensi prestasi,” tandasnya.
Sementara dalam dimensi ekonomi kerakyatan, imbas BBJ akan memberikan peningkatan kesejahteraan pada masyarakat pada umumnya. Dengan datangnya wisatawan ke Jember, maka perputaran keuangan di sektor riil Jember bisa lebih besar. “Mudah-mudahan 10-15 tahun ke depan ada orang yang tertarik menanamkan investasinya di Jember,” tegasnya.(sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Layanan Publik, Pembangunan Desa
Sabtu, Juni 13, 2009
80 Persen PU Bina Marga Bangun Jalan Desa
Jemberpost.com,
Pembangunan sarana prasarana jalan di Kabupaten Jember tahun 2009 ini memasuki tahun keempat pemerintahan MZA Djalal,yang fokus di pembangunan jalan desa. Proyeksi pembangunan dan peningkatan jalan penghubung desasaat ini sedang dikonsentrasikan. Demikian disampaikan Kabid Pembangunan dan Peningkatan Jalan di Dinas PU Bina Marga Pemkab Jember, Senan.
Menurutnya, sekitar 80 % proyek di Dinas PU Bina Marga Pemkab Jember adalah pembangunan dan peningkatan jalan di desa. Jalan Desa diyakini sebagai sarana terpenting selain penerangan atau listrik yang selama ini sudah dicanangkan melalui program Proyek Penerangan Jalan Umum (PJU). “Dibanding pembangunan jalan di perkotaan, jalan desa sangat diprioritaskan, “jelasnya.
Khusus untuk menghindari kenakalan rekanan, dan juga untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan Dinas PU, dalam proyek pembangunan saat ini meningkatkan pengawasan. Tentu saja personel yang ada yang dimaksimalkan kinerjanya, sebab jumlah personel pengawas di Dinas PU Kecamatan sangat terbatas. “Kita fokus untuk pembangunan sarana di pedesaan. Karena itu sebagian besar dari aspirasi masyarakat, ”ujar Senan.
Proyek pembangunan jalan di Kabupaten Jember mencapai 205 paket pekerjaan yang kesemuanya akan dilaksanakan tahun Pertama APBD 2009. Dalam pelaksanaan nantinya proyek tersebut akan menggunakan teknologi pengerjaan jalan berupa pengerasan metode telford atau HRS.
Ada beberapa bagian jalan yang menggunakan ATB. Tentu saja teknologi yang dipakai tetap metode batu pasangan onderlaag. “Dulu memang metode agregat. Sementara banyak keluhan, kerusakan jalan. Metode itu sebenarnya lebih efektif tapi, seringkali diakui pelaksanaan kurang maksimal,” ujar Senan, mengakui.
Beberapa jalan desa yang akan diandalkan menjadi sumber peningkatan dan pemicu peningkatan taraf perekonomian masyarakat desa adalah, jalan di kawasan tembus wisata Bandealit, Kecamatan Tempurejo. “Kita maksimalkan, kalau tidak salah pasti akan tembus ke wilayah pantai, ”ujarnya lagi.
Sedangkan untuk jalan-jalan desa di kawasan lain, semisal di Baban Silo Sanen, juga menjadi prioritas karena di Kecamatan Silo, masih banyak jalan desa yang belum tergarap. “Kita tidak mungkin bisa memenuhi semua program rancangan kita, dan usulan masyarakat. Masyarakat lebih bisa bersabar dalam hal ini. Karena program pembangunan menyesuaikan anggaran yang tersedia, ”ujarnya.
Dinas PU Pemkab Jember selain melaksanakan program peningkatan dan pembangunan jalan raya di pedesaan, juga melakukan program perawatan jalan. Program perawatan jalan memiliki bidang tersendiri di Dinas PU. “Insya Allah, besok kita akan paparkan lagi, ”pungkasnya. (sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Layanan Publik, Pembangunan Desa
Kamis, Juni 11, 2009
226 Desa Resmi Miliki Kades Definitif
(2).jpg)
Jemberpost.com,
Wakil Bupati Jember, Kusen Andalas, tadi siang melantik 2 (dua) Kepala Desa terpilih periode 2009 – 2015 secara resmi di Kantor Kecamatan Gumukmas. Kedua Kepala Desa tersebut yaitu Choirul Anam, SE sebagai Kepala Desa Karangrejo Kecamatan Gumukmas, dan Trimanto sebagai Kepala Desa Padomasan Kecamatan Jombang Kabupaten Jember.
Turut Hadir dalam pelantikan tersebut diantaranya unsur Muspida Jember, Kepala SKPD se-Kabupaten Jember, Camat Jombang dan Camat Gumukmas, para staf Kepala Desa dan Para Tokoh Masyarakat di kedua desa tersebut. Dalam pelantikan juga Kusen Andalas juga menyematkan tanda jabatan Kepala Desa kepada keduanya yang disaksikan oleh undangan yang hadir.
Wakil Bupati Jember, Kusen Andalas dalam sambutannya mengatakan bahwa dengan terpilihnya 2 Kepala Desa tersebut, berarti masyarakat telah sukses dan berhasil memilih pemimpinnya yang disepakati, dan Wakil Bupati Jember minta kepada seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama saling bahu-membahu dengan Kapala Desa Terpilih untuk membangun Desa, lupakan perbedaan–perbedaan yang terjadi selama proses pemilihan Kepala Desa berlangsung.
Dan yang tidak kalah pentingnya menurut Kusen Andalas Kepala Desa harus memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat serta menggalang partisipasi dan gotong royong masyarakat yang merupakan modal utama pembangunan di desa. “Disinilah letak kewajiban kita mengisi pembangunan yang berawal dari tingkat desa dan kini Pemerintah Kabupaten sudah bekerja keras melaksanakan pembangunan melalui tahapan yang berjalan terus menerus, “jelasnya.
Lagi-lagi Kusen berharap agar kinerja Kepada Desa yang baru ini dapat lebih baik dan mempunyai prestasi yang lebih cemerlang, terutama dalam memotifasi masyarakat didalam pemasukan pajak sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah, menjaga dan meningkatkan kamtibmas di lingkungan.
Wakil Bupati Jember mengingatkan pula bahwa jabatan adalah sebuah amanah, karena itu pemegang jabatan harus betul–betul berbuat yang terbaik untuk masyarakat yang dipimpinnya, karena kelak akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT atas semua kebijakan yang diterapkan selama Kepemimpinannya. “Seorang pemimpin mempunyai semangat membangunan desa, pembangunan daerah dari sebuah obsesi masyarakat yang menginginkan perubahan kehidupan menuju kesejahteraan, “pintanya.
Dalam akhir sambutannya beliau berharap mudah-mudahan dengan diangkatnya 2 Kepala Desa terpilih tersebut dapat tampil dengan perubahan-perubahan baru, prestasi dan kinerja yang optimal dalam membangun desanya. “Dibawah kepemimpinan Kepala Desa yang baru masyarakat harus lebih baik, maju dan sejahtera, “harapnya.
Sementara itu Asisten Pemerintahan Pemkab Jember, Hasi Madani mengatakan bahwa dengan telah dilantiknya 2 Kepala Desa ini berarti seluruh desa yang ada di Kabupaten Jember telah resmi mempunyai Kepala Desa yang definif. Untuk itu kepada seluruh Kepala Desa se-Kabupaten Jember mengabdikan tenaga dan pikirannya untuk kepentingan masyarakat. “Tunjukkan itikad baik seperti janji yang telah disampaikan kepada masyarakat desanya masing-masing, “pungkasnya.
Usai dilantik secara resmi menjadi Kepala Desa Padomasan Kecamatan Jombang, Trimanto kades terpilih bertekad akan mengaktualisasikan semua program pembangunan diwilayahnya, terutama dalam mensejahterakan warga desanya. “Semua program pembangunan di desanya akan diarahkan untuk pemberdayaan masyarakatnya dan keluarga miskin yang ada, “ujarnya. (sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Layanan Publik, Pembangunan Desa
Rabu, Juni 10, 2009
Manfaatkan Lahan Kering Sebagai Lahan Produktif
Jemberpost.com,
Dalam rangka melakukan penguatan pangan di masyarakat. TP PKK Kabupaten jember melakukan pemanfaatan pekarangan yang tidak digunakan Melalui gerakan pemanfataan pekarangan yang di lakukan oleh TP PKK kabupaten jember ini diharapkan bisa merangsang masyarakat untuk melakukan hal yang sama. Disampaikan oleh Bupati Jember, MZA Djalal, saat membuka gelar kebun karang gizi, di kelurahan Sempusari, kecamatan kaliwates bahwa pemanfaatan pekarangan terpadu dengan luas 1/4 Ha merupakan langkah terpadu bagi TP PKK untuk melakukan swasembada pangan, yang beragam, bergizi, berimbang, serta aman untuk konsumsi.
`Lebih lanjut, Djalal, mengungkapkan kebun karang gizi tersebut sebagai bentuk nyata gerakan PKK Kabupaten Jember utnuk memunculkan kreatifitas , inovasi, dengan pemanfaatan pekarangan terpadu ini,diharapkan bisa menjadi contoh bagi PKK yang lain, sehingga pada waktunya nanti kesejahteraan .masyarakat akan terangkat dengan sendirinya. Disamping karang gizi ini bisa dimanfaatkan untuk tempat rekreasi keluarga yang sehat, dan aman.
Dijelaskan pula, bahwa hal tersebut merupakan implementasi dari 10 program pokok PKK ini dapat di rasakan manfaatnya oleh semua masyarakat
Sementara itu Ketua Tim penggerak PKK Kabupaten Jember, Ny. Sri wahyuni Djalal, Pada bulan April 2009 Tim penggerak PKK telah menyelesaikan pembinaan 10 program pokok PKK di 31 kecamatan dan 248 desa/kelurahan. Dari hasil pembinaan tersebut Tim penggerak PKK mencoba melaksanakan aktualisasi 10 program pokok PKK dengan kegiatan salah satunya di bidang pangan.
Pokja 3 merupakan pelaksana penggelolaan kebun percontohan karang gizi. Dengan program karang gizi ini, diharapkan mampu memikat masyarakat yang masih banyak belum memanfaatkan lahan pekarangannya, lanjut Sri wahyuni.
Usaha pemanfaatan lahan secara terpadu.merupakan pemanfaatan lahan yang digunakan untuk tanaman varietas unggul, seperti padi, ketela pohon,disamping itu ada beberapa tanaman apotek hidup, juga sebagai lahan untuk pembudidayaan Ikan Gurami, lele dumbo, peternakan ayam arab
Oleh karena itu, lanjut Bu Djalal (sapaan akrab Sri Wahyuni), langkah kretif TP PKK ini Perlu mendaptkan dukungan semua pihak, tidak hanya sekedar pencontohan akan tetapi sekaligus sebagai salah tempat atau pusat pelatihan pemanfatan pekarangan terpadu secara utuh di kabupaten jember. Disampaikan juga agar masyarakat juga ikut serta berpartisipasi membantu dan menjaga pekarangan kebun karang gizi ini dengan sebaik baiknya sebagai akses pelatihan masyarakat yang akan bercocok tanam padi disini.
Hal senada juga disampaikan, Camat Kaliwates ,Drs. Sigit Akbari, pemanfaatan lahan ini merupakan langkah awal bagi TP PKK yang diprakarsai oleh para kader-kader PKK Kaliwates, sehingga diharapkan mayarakat bisa benar-benar memanfaatkan lahan karang gizi ini sebagai tempat paltihan nantinya. (sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Pembangunan Desa, Pemberdayaan, Pertanian Peternakan
Alun-alun Tanggul dan Rambipuji Ditata
Jemberpost.com
Usulan perbaikan dan penataan Alun-alun kota Kecamatan Tanggul mendapat respon positif dari Bupati Jember. Penataan itu, dimaksudkan selain mengurangi tingkat kemaksiatan di kawasan tersebut.Juga untuk menggebyarkan Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ). Pasalnya, Tanggul merupakan pintu gerbang masuk ke kota Jember. Demikian pula kota Kecamatan Rambipuji.
Warga Dusun Rowo Tapen Desa Tanggul Wetan mengusulkan soal renovasi dan penataan Alun-alun kota Kecamatan Tanggul. Lantaran, di kawasan tersebut kerapa digunakan oleh muda-mudi untuk berbuat maksiat. Kondisi alun-alun itu mulai kurang representatif, karena di malam hari banyak lampu yang padam.
Kendati di sebagian kawasan alun-alun telah dipasang lampu halogen. Namun, belum juga merubah perwajahan kota kecamatan itu. Apalagi, lapangan yang terletak di jantung kota Kecamatan Tanggul saat ini terlihat semrawut dan kurang tertata.
Tak pelak hal itu mengundang kegelisahan warga Dusun Rowo Tapen. Mereka pun menyampaikan persoalan tersebut pada Bupati Jember, dalam Dialog Solutif Bupati Jember Bedah Potensi Desa yang digelar di Desa Klatakan, Tanggul beberapa waktu lalu.
Menanggapi ihwal itu, Bupati Jember, MZA Djalal, menanggapi positif usulan masyarakat Desa Tanggul Wetan tersebut. Ia menilai, sudah sepatutnya wajah jantung Kecamatan Tanggul dibenahi.
Sebab, Tanggul merupakan pintu gerbang kota Jember. Semua mobilitas masyarakat dari arah barat ketika masuk ke Jember akan melewati kawasan tersebut. “Semua pengunjung dan wisatawan yang datang ke Jember akan melewati Tanggul, makanya Tanggul perlu segera dibenahi,” ujarnya.
Lebih jauh, pihaknya menengarai, Kecamatan Tanggul dan Rambipuji merupakan performen awal kota Jember. Oleh karenanya, jantung kota kedua wilayah itu perlu mendapatkan perhatian sebelum pelaksanaan BBJ 2009 mendatang.
“Sebelum pelaksanaan BBJ, Alun-alun di kota Kecamatan Tanggul dan Rambipuji harus ditata lebih baik lagi. Sehingga pengunjung yang dating ke Jember akan menilai bahwa Jember itu baik terutama pada saat memasuki kedua wilayah ini,” terangnya.
Supaya keindahan nampak, lanjutnya, lampu-lampu harus dipasang. Dengan demikian pada malam hari kesan gebyar sudah tergambar. Segenap tatanan lampu dan pernak-pernik di sepanjang kota kecamatan itu menghiasi sepanjang gerbang masuk ke Kota Jember.
“Lampu-lampu harus dipasang. Kalau perlu sebisa mungkin gebyarnya sama dengan Alun-alun Kota Jember. Jangan sampai dalam pelaksanaan BBJ nanti Alun-alun Kecamatan Tanggul dan Rambipuji belum diberi lampu,” tuturnya.
Untuk itu, Djalal memerintahkan kepada Dinas PU Bina Marga dan Cipta Karya supaya secepat mungkin bertindak guna membenahi wajah Alun-alun kedua kecamatan itu, sebelum digelarnya even akbar tahunan Kabupaten Jember.
Bukan hanya itu, agenda yang perlu segera direalisasikan adalah perbaikan jalan rusak menuju ke tempat-tempat wisata di Kota Tanggul. Dikarenakan, pada saat para wisatawan berkunjung ke Jember selain menikmati keindahan dan gebyarnya kegiatan di jantung kota. Umumnya, wisatawan itu juga acapkali mengunjungi tempat-tempat pariwisata yang tersebar di berbagai wilayah Jember.
“Jalan-jalan yang menuju ke tempat pariwisata semuanya dibangun dengan baik. Sebelum pelaksanaan BBJ jangan ada jalan rusak. Minimal semua jalan itu tidak ada yang berlobang. Dengan demikian, isatawan tidak terganggu atau merasa kurang nyaman,” tandasnya.(sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Layanan Publik, Pembangunan Desa
Kamis, Juni 04, 2009
Anggota Bank Gakin Tumbuh 80 Persen Setahun
Jemberpost.com - Perkembangan Lembaga Keuangan Mikro Masyarakat (LKMM) atau biasa disebut Bank Gakin, banknya keluarga miskin, patut diacungi jempol. Sampai dengan Desember 2008 lalu, tercatat jumlah bank Gakin sudah mencapai 37 unit.Ke-37 unit LKMM tersebut tersebar di 37 dusun, 26 desa/kelurahan dan 14 kecamatan dengan jumlah anggota sebanyak 4.834 orang pengusaha mikro perempuan. Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, yakni sekitar 3 tahun, bank Gakin mulai menunjukkan perkembangan yang sangat positif.
Jumlah anggota mengalami peningkatan rata-rata 80 persen per tahun. Nilai omset atau pemberian pinjaman meningkat rata-rata 238 persen per tahun dan nilai asset meningkat rata-rata 81 persen per tahun.
Dan secara tidak langsung keuntungan usaha meningkat cukup siginfikan. "Berdasarkan laporan seluruh LKMM yang kami terima setiap bulan, nilai omset atau pemberian pinjaman untuk anggota selama tahun 2008 lalu nilainya mencapai Rp 8,3 milyar," jelas Kepala Dinas Koperasi (Kadiskop) Jember, Mirfano selaku Pembina dan penggagas berdirinya LKMM.
Untuk menciptakan sifat tidak bergantung pada pemerintah, maka Mirfano terus mendorong partisipasi masyarakat. Dan hal ini telah dirintis melalui pembentukan LKMM swadaya yang sumber permodalannya bukan dari APBD melainkan berasal dari infaq/shodaqoh tokoh masyarakat dan institusi kemasyarakatan yang memiliki kepedulian terhadap pengusaha mikro keluarga miskin.
"Hingga saat ini telah terbentuk 3 unit LKMM swadaya yang tersebar di 3 dusun dengan performance yang cukup baik," imbuhnya.
Keberadaan bank Gakin selama 3 tahun terakhir ternyata telah mampu menumbuhkan sumber-sumber keuntungan (profit center) yang baru di wilayah dusun. Perputaran modal, meski kecil, ternyata cukup signifikan menggerakkan roda perekonomian.
Tumbuhnya wirausaha baru seperti penjual cilok, penjual bakso, penjual bensin, penjual kerupuk, penjual sayur, penjual gorengan, mindring serta berbagai jenis usaha mikro lainnya menjadi indicator nyata.
Bahwa peran mereka telah menumbuhkan harapan baru ditengah himpitan dan kesulitan ekonomi yang dihadapi keluarga miskin selama ini. Para ibu rumah tangga yang tadinya hanya bergantung pada penghasilan suami, kini telah memiliki sumber pendapatan sendiri yang merupakan tambahan penghasilan bagi keluarganya (income generating).� [bj]
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Bisnis, Ekonomi, Pembangunan Desa, Pemberdayaan
Rabu, Mei 27, 2009
Wadul Bupati Soal Tanah Kas Desa
Jemberpost.com
Persoalan tanah kas desa Balet Baru sempat mencuat dalam Dialog Solutif Bupati Jember Bedah Potensi Desa yang digelar di Desa Sukowono Kecamatan Sukowono. Masalah tersebut terjadi karena belum tuntasnya sewa-menyewa yang dilakukan kades lama. Bahkan, persoalan tersebut sempat mengundang konflik di kalangan masyarakat.
Menurut salah seorang warga Desa Balet Baru, Ahmad, hingga kini tanah kas desa itu masih dikuasai individu, yakni penyewa tanah. Yang berakibat tanah itu tidak bisa dimanfaatkan oleh desa. Persoalan tersebut muncul lantaran mantan kades Desa Balet Baru telah menyewakan tanpa disertai ketegasan waktu penyerahan setelah habisnya batas waktu sewa.
“Sebenarnya, si penyewa telah mengetahui kalau batas akhir sewanya. Tapi tetap saja si penyewa tidak mau melepaskannya. Meskipun tahu batas akhir penyewaannya pada tahun 2007,” katanya pada Bupati Jember.
Karena, si penyewa tanah dari kades lama itu bersi kukuh tak mau melepaskannya. Maka terjadi konflik yang berujung pada pemukulan oleh si penyewa tanah terhadap masyarakat desa tersebut. “Walaupun terjadi pemukulan di hadapan Muspika, tapi orang tersebut tidak ditindak tegas oleh aparat,” tuturnya.
Untuk itu, dalam pertemuan langsung dengan Bupati Jember, pihaknya bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan tokoh masyarakat meminta petunjuk dan kebijakan Bupati Jember guna menyelesaian persoalan tanah yang berlarut-larut itu. “Kami memohon pada Bapak Bupati solusinya, bagaimana tanah kas desa itu bisa dikuasai kembali oleh masyarakat,” tandasnya.
Selain itu, masyarakat mengusulkan supaya tanah kas desa itu disertifikatkan sekaligus di-Perdeskan. Harapannya, kepemilikan tanah tersebut bakal memiliki kekuatan hukum yang pasti. “Kami minta tanah itu disertifikatkan supaya memiliki kejelasan hukum yang pasti,” terangnya.
Menanggapi hal tersebut Bupati Jember, MZA Djalal menyerahkan masalah tersebut pada Asisten II supaya segera dicarikan jalan keluarnya. Dengan harapan, masyarakat tidak lagi saling bertengkar. Ia mengatakan, setiap persoalan harus diselesaikan dengan musyawarah.
Sementara itu, Asisten II Pemkab Jember, Hasi Madani, mengatakan, sangat prihatin atas persoalan tanah kas desa yang berujung pada konflik itu. “Tolong masyarakat menghormati para penegak hukum, dan jangan main hakim sendiri. Kalau itu memang tanah kas desa, tolong jangan dimiliki dan hendaknya diselesaikan berdasar pada ketentuan yang ada,” tukasnya.
Dalam proses penyelesaiannya, Hasi telah berkoordinasi dengan kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Jember, kepala desa dan BPD. “Kades bersama BPD akan segera mengusulkan penyelesaiannya. Selain itu, kami sudah berkoordinasi dengan BPN untuk memprosesnya sesuai dengan prosedur yang ada,” tegasnya.(sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Layanan Publik, Pembangunan Desa, Pertanian Peternakan, Selidik Kasus
Bupati Resmikan Balai Desa Internet Sukowono
Jemberpost.com,
Ada pernyataan menarik yang disampaikan oleh Bupati Jember Ir.MZA Djalal, saat acara bedah potensi desa , di kecamatan SukowonoSuami Sri wahyuni itu mengatakan kalau Kecamatan Sukopwono ternyata lebih siap dalam menyambut Bulan berkunjung Jember yang akan dimulai awal juni mendatang. Pernyataan itu cukup beralasan pasalnya, saat bedah potensi desa di gelar, siapapun tak menyangka , kalau disana nuansa BBJ ternyata sudah mulai semarak di sana. Untuk itulah, Bupati memberi penghargaan khusus bagi kecamatan Sukowono atas terobosannya terebut.
Acara bedah potensi desa, memang merupakan agenda rutin yang dilakukan Bupati sebagai langkah serap informasi atas perkembangan pembangunan yang ada di jember.
Desa Intenet
Yang membuat setiap undangan kagum adalah, ketika acara penyampaian pendapat dimulai, seorang wakil dari desa Dawuhan mangli, Abdurachman nenyampaikan berbagai perkembangan pembangunan dibawa pemerintahan Bupati Djalal. Secara umum, dia menganggap apa yang telah dilakukan bupati bersama masyarakat Sukowono sangat berhasil, terlebih Desa dawuhan mangli mampu menjadikan satu-satunya desa di Kabupaten Jember yang memiliki Balai Desa Internet. Dengan dibukanya balai desa internet menjadikan Desa Dawuhan mangli tidak lagi hanya dikenal oleh masyarakat Sukowono, dan jember saja, tapi kini malah membuka akses dikenal dunia. Internet yang di adakan di Bali desa Dawuhan mangli ini tergolong sangat murah, yaitu hanya 200 ribu per bulan, serta cukup memakai 1 server computer baru yang disambungkan ke computer-komputer lain, Bupati Djalal mengajak masyarakat Jember, Khususnya Desa Dawuhan agar benar-benar memanfaatkan dunuia internet sebagai bagian dari penggalian informasi yang ada di dunia saat ini.
Dalam arahannya, Bupati Djalal berharap, agar apa yang sudah dimiliki oleh masyarakat Dawuhan mangli dapat memelihara fasilitas yang sudah ada. Malah kalau perlu masyarakat dapat mengakses berbagai perkembangan didunia. Bupati juga berharap apa generasi muda yang ada didesa dawuhan dapat menjadikan balai desa internet sebagai sarana pengembangan usaha, dan pendidikan “ Jangan terus dibiarkan apa yang sudah dimiliki, kalau perlu dirawat dan dikembangkan, hingga fasilitas ini dapat dijadikan sebagai sarana pengembangan pendidikan dan usaha “ tegas Djalal. Mengingat juga opersional internet yang diadakan di desa dawuhan mangli ini sangat murah dan terjangkau dari masyrakat desa. Bupati Djalal juga sangat mengharapkan media internet ini dapat digunakan oleh para siswa-siswa sekolah, sehingga para generasi muda nantinya tak lagi Gaptek, disamping bisa digunakan untuk menjual potensi desa ke dunia melalui internet. Tegasnya. (sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Gaya Hidup, Pembangunan Desa, Pemberdayaan, Pendidikan
Kamis, Mei 21, 2009
Hebaat… Omzet Koperasi Jember Rp 263,5 Miliar
Jemberpost - Omzet koperasi di Jember mencapai Rp 263,5 miliar. Nilai tersebut setara dengan 2,67 persen dari Produk Domestik Regional Bruto semester kedua tahun 2008.Persentase sumbangan sektor koperasi lebih baik daripada sektor pertambangan dan penggalian yang sekitar 1,40 persen. Namun omzet sebesar itu masih belum maksimal.
"Itu omzet dari 283 unit koperasi yang telah melaksanakan rapat anggota tahunan (RAT) tahun lalu, dan melaporkannya kepada kami. Masih ada yang melaksanakan RAT namun tidak melaporkan, atau belum melaksanakan RAT," kata Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Jember, Mirfano.
Dari sisi penyerapan tenaga kerja, ratusan koperasi yang telah melaksanakan RAT tahun 2008 itu cukup bagus. Tercatat, koperasi-koperasi ini mempekerjakan 3.924 orang karyawan.
Dibandingkan tahun 2007, angka omzet dan daya serap tenaga kerja kurang lebih 10 persen lebih bagus. "Ini menunjukkan krisis global tidak terlalu signifikan mempengaruhi performa koperasi," kata Mirfano.
Dengan daya serap tenaga kerja, sektor koperasi boleh dibilang 'mengalahkan' program Jember Job Market Fair tahun 2008. Tahun lalu JMF menyerap 2.750 orang pencari kerja.
Namun, Dinkop Jember masih patut prihatin. Kendati omzet koperasi mencapai ratusan miliar rupiah, namun jumlah koperasi yang 'tidur' ternyata lebih besar, yakni 511 unit. Mereka tidak bisa dibubarkan, karena Dinkop kesulitan menemukan pengurus maupun anggota organisasi koperasi itu.[bj/sal]
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Bisnis, Ekonomi, Pembangunan Desa, Pemberdayaan
Selasa, Mei 19, 2009
Tahun 2009, Prona Jember Meningkat 200 Persen
Jemberpost.com
Kuota Proyek Operasi Nasional Agraria (Prona) tahun 2009 meningkat tajam kurang lebih 200 persen. Itu berarti, masyarakat desa berperekonomian lemah bisa mendapatkan bantuan sertifikasi tanah lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Jember, Siswo Prajitno, kepada jemberpost.com (derap group) mengatakan, alokasi Prona atau Percepatan Pendaftaran Tanah (PPT) untuk Kabupaten Jember jumlahnya kian meningkat. Dengan demikian, kesempatan masyarakat desa cukup tinggi dalam mendapatkan pelayanan pembuatan akta tanah dengan bantuan Pemerintah Pusat. “PPT ini diperuntukkan bagi masyarakat desa berperekonomian lemah,” ungkapnya.
Kuota program yang digelontor oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pusat pada BPN Kabupaten Jember itu cenderung meningkat selama 3 tahun terakhir. Pada tahun 2007 kuota yang diberikan sebanyak 1.200 permohonan pembuatan akta tanah, lalu pada tahun 2008 dan 2009 meningkat masing-masing sejumlah 1.719 dan 4.500. “Pada tahun ini jumlah kuotanya jauh lebih besar dibandingkan 2 tahun sebelumnya,” ujarnya.
Ia mengatakan, kategori perekonomian lemah masyarakat desa yang berhak mendapatkan PPT itu ditunjukkan dengan adanya kepemilikan tanah di bawah 5.000 meter. “PPT ini diperuntukkan untuk masyarakat desa yang berkategori ekonomi lemah dengan tingkat pemilikan tanah maksimal sebesar 5.000 meter. Bagi masyarakat yang memiliki tanah lebih besar dari angka itu bisa mengurus akta tanahnya melalui program sertifikat masal swadaya (SMS) dengan biaya murni dari masyarakat,” tengaranya.
Dalam realisasi program tersebut, ungkapnya, tiap pemohon PPT akan mendapatkan bantuan pengurusan sertifikat tanah antara Rp 250-300 ribu dalam bentuk pelayanan. “Sedangkan tanda batas, materai dan pemberkasan biayanya ditanggung sepenuhnya oleh para pemohon,” tuturnya.
Lebih jauh, pihaknya mengatakan, tujuan diadakan Prona atau PPT ini adalah untuk pemberdayaan masyarakat ekonomi lemah. Pasalnya, setelah tanah milik masyarakat telah bersertifikat, maka dengan sertifikat tanah itu masyarakat bisa menggunakannya untuk mendapatkan bantuan modal dari bank atau lembaga perkreditan lainnya.
“Aset berupa sertifikat tanah itu bisa dijadikan masyarakat untuk menarik bantuan modal dari bank dan lembaga perkreditan rakyat lainnya, dengan cara menjadikannya sebagai jaminan. Itulah tujuan PPT dikeluarkan, karena bisa mendukung proses pemberdayaan masyarakat dalam bidang usaha informal,” terangnya.
Penerapan program PPT tersebut, dikatakannya, sebagai reforma agraria. “Jika dulu tugas BPN hanya menyertifikatkan tanah masyarakat. Tapi sekarang, dengan lahirnya Tap MPR No 9/2001 tentang pembaharuan agraria diharapkan sertifikat tanah yang diterbitkan oleh BPN bisa ditindaklanjuti oleh program-program pemberdayaan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa,” paparnya.
Siswo menerangkan, selaras dengan program Bupati Jember dalam rangka pembangunan di desa-desa binaan, BPN Kabupaten Jember turut berandil pula dalam sertifikasi masal tanah masyarakat lewat program PPT tahun 2008. “Tahun lalu, PPT ini kami gelontor di 4 desa-desa tertinggal Kabupaten Jember, diantaranya di Kecamatan Arjasa, Sumberbaru, Jelbuk dan Sumberjambe. Selain itu prioritas program ini juga dialokasikan di Desa Sumberjati Kecamatan Silo,” tandasnya.(sal)
Diposting oleh Team Redaksi 0 komentar
Label: Berita Umum, Layanan Publik, Pembangunan Desa