Rabu, Oktober 22, 2008

Pasukan PMK Jember Selalu Siaga


Jemberpost.com,
Upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran merupakan suatu upaya yang perlu kesiapsiagaan setiap saat. Sebab bila upaya tersebut terlambat sedikit saja, maka akibatnya bisa fatal Hal itulah yang rupanya selalu diusahakan oleh Pasukan Mencegah Kebakaran (PMK) saat kebakaran terjadi.Bahaya kebakaran yang bisa setiap saat mengancam jiwa dan harta benda memang harus diwaspadai segenap warga masyarakat. ”Sebab, mungkin kita tidak tahu secara pasti penyebab kebakaran, tahu-tahu api sudah melalap segala milik kita”, cetus Sumariyadi, Kepala UPTD PMK saat dikonfirmasi ruang kerjanya.
Ia menegaskan, biasanya kebakaran seringkali terjadi akibat keteledoran manusia, misalnya akibat kabel listrik yang korsleting, kompor yang lupa dimatikan, membuang puntung rokok sembarangan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, ia menghimbau kepada masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menyulut dan mematikan barang-barang yang berhubungan dengan api.
Menurut Sumariyadi, sebenarnya tingkat terjadinya kebakaran di Jember setiap tahunnya rata-rata tidak mengalami kenaikan atau penurunan secara signifikan. ”Rata-rata tingkat terjadinya kebakaran di Kabupaten Jember sekitar 65 kali per tahun, dan paling banyak 70 kali per tahun”, ungkapnya. Sebenarnya, lanjutnya, tingkat terjadinya kebakaran bisa dikurangi asal masyarakat lebih waspada terhadap bahaya kebakaran tersebut.
Berdasarkan data yang ada, kebakaran paling banyak terjadi pada gudang-gudang tembakau. Sedang daerah yang paling jauh dipadamkan kebakarannya adalah di wilayah Tanggul dan Sukowono.
Di tanya mengenai perlengkapan operasional, Sumariyadi mengatakan saat ini pihaknya memiliki 6 mobil unit pemadam kebakaran. ”3 mobil siap operasional, sedang 3 unit lainnya masih dalam taraf perbaikan”, cetus PNS yang menduduki jabatan Kepala UPTD PMK sejak tahun 2003 itu.
Secara jelas kemudian ia memaparkan setiap ada laporan dari warga masyarakat, anggota PMK yang secara keseluruhan berjumlah 39 orang yang sudah dibagi dalam sistem beregu itu selalu siap diterjunkan ke lokasi kebakaran. Setiap regu terdiri dari 13 personil. ”Sebenarnya, saat ini kami kekurangan personil, sebab terkadang 13 orang saja kurang mampu bekerja secara optimal bila tingkat kebakarannya besar”, ujarnya.
Setiap operasional, biasanya PMK mengerahkan segala perlengkapan yang dimiliki secara optimal, yaitu seluruh mobil pemadam kebakaran yang ada sekaligus selang air yang jumlahnya sekitar 2 sampai 3 selang pada tiap mobilnya. Setiap mobil disertai 6 personil, 2-3 orang sebagai penyemprot, sedang yang lainnya sebagai pengatur keluarnya air pada mesin penyemprot.
Berkaitan dengan kendala yang dihadapi, Sumariyadi mengatakan selama ini memang masih ada saja laporan fiktif tentang terjadinya kebakaran. Atau ada juga yang sekedar iseng terhadap petugas operator. ”Tapi kami selalu melayani dengan rendah hati, sebab kami ingin pelayanan yang kami berikan kepada masyarakat merupakan pelayanan yang benar-benar bermanfaat”, ujarnya dengan low profile.
Selain itu, kendala lain yang dihadapi adalah bila pasukannya telah terjun di lokasi kebakaran. Masih ada saja warga masyarakat yang tidak sabar dengan pelayanan PMK. Padahal untuk mencapai lokasi, terutama di daerah pelosok PMK seringkali kesulitan untuk mencapai medan. Ada juga yang terlalu ngotot ingin memadamkan api sendiri. ”Padahal pasukan kami sudah benar-benar terlatih, akhirnya orang tersebut menyemprot sendiri, karena tidak tahu teknisnya, maka orang itu tidak kuat memegang selang air yang mendapat tekanan tinggi dari mesin penyemprot”, tandas Sumariyadi.
Untuk masalah pasokan air. Selama ini pihaknya telah menandon air di tanki mobil yang berkapasitas 5.000 liter air. Air tandon itu sendiri diambil dari sungai di dekat SMP 9 Kec. Sumbersari atau sungai di wilayah Gebang.
Bila sewaktu-waktu terjadi kebakaran, mobil berisi tandion air tersebut siap dioperasikan. ”Bila terjadi kekurangan air karena kebakarannya besar, kami biasanya menyedot air dari sungai-sungai di sekitar lokasi”, katanya dengan ramah.
Dalam operasional di lokasi, pihak PMK juga berkoordinasi dengan Polsek setempat dan juga PLN. “PMK akan menyemprot kebakaran bila aliran listrik sudah dipadamkan oleh pihak PLN agar tidak menimbulkan korban jiwa pada petugas atau orang-orang disekitar kejadian”, terang Sumariyadi.
Dan saat ini, mobil PMK beserta 3 personilnya telah ditugaskan di areal Lapter. “Sejak ada lapter Notohadinegoro, 1 unit mobil dan 3 personil PMK kami beri tugas untuk berjaga-jaga bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan berkaitan dengan kebakaran disana”, katanya menambahkan.
Di akhir wawancara, Kepala PMK yang murah senyum itu berharap, ke depan tingkat terjadinya kebakaran di Kabupaten Jember dapat dikurangi. “Meskipun PMK memiliki peralatan yang canggih dan pasukan yang selalu siap siaga selama 24 jam, namun kami tidak ingin terjadi bahaya kebakaran yang tentunya dapat merugikan kerugian material bahkan jiwa”, pungkasnya. (sal/dn)


Posting Komentar

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template custom by Adiguna