
Jemberpost.com
Jakarta – Simbiosis mutualisme selalu terjadi di bidang ekonomi. Kali ini menyangkut sektor pertambangan dan agribisnis. Geliatnya terbukti memacu pertumbuhan pasar otomotif. Penjualan segmen produk jenis truk ikut naik.
Kegairahan sektor riil sungguh dinikmati pabrikan otomotif yang piawai memproduksi beragam kendaraan jenis alat angkut kategori berat seperti Isuzu. Buktinya, total penjualan kendaraan jenis itu pada 2007 mencapai enam ribu unit.
Pangsa pasarnya mayoritas di luar Pulau Jawa yang dipadati sektor usaha pertambangan dan agribisnis, yakni Sumatera dan Kalimantan.
"Total penjualan kami di paro pertama 2008 sudah mencapai 13 ribu unit. Lima ribu unit di antaranya jenis kendaraan truk. Target penjualan truk sepanjang 2008 diproyeksikan mencapai 10 ribu dari total 26 ribu unit produk Isuzu," kata Yohannes Nangoi, Vice President Director PT Isuzu Astra Motor Indonesia, Minggu (13/7).
Target penjualan itu hendak diraih melalui pendekatan holistik, mulai dari segmen produksi hingga layanan purna jual.
"Kepercayaan terhadap potensi pasar kendaraan jenis truk juga dibangun melalui upaya pembenahan di lini produksi. Kami terus melakukan improvisasi produk truk yang coba disesuaikan untuk jenis medan jalan yang ada di Indonesia," tandas Yohannes.
Upaya lain untuk mendongkrak penjualan produk adalah melalui peningkatan pelayanan di segmen perbaikan kendaraan. Untuk itu, pihak Isuzu terus melakukan pembekalan kepada pihak pemilik dan karyawan dari bengkel resmi Isuzu.
Pertumbuhan di sektor usaha agribisnis sendiri diyakini terdorong oleh tingginya harga komoditas itu di pasar internasional. Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) per April 2008 melonjak tajam 175% dibandingkan ekspor pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Total ekspor CPO Indonesia mencapai US$ 1,9 miliar, naik cukup tajam dibandingkan periode sebelumnya, yakni US$ 690,1 juta. Volume ekspor meningkat, dari 655 ribu ton jadi 1,8 juta ton atau melonjak 178,2% per Mei 2008.
Naiknya harga minyak sawit, dari US$ 1.174 per ton jadi US$ 1.208 per per ton, ikut memicu prospek pangsa ekspor CPO. Di samping itu, volume ekspor karet juga melonjak, dari dari US$ 657,9 juta jadi US$ 691,5 juta pada Mei 2008.
Situasi itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pelaku industri otomotif untuk menggenjot angka penjualan truk. Kendaraan itu dimanfaatkan sebagai kelengkapan kerja bagi sektor industri pertambangan dan perkebunan.
Di sisi lain, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengindikasikan adanya peningkatan realisasi investasi di kuartal I 2008 sebesar 86% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka realisasi investasi meningkat 314% dibandingkan kuartal IV 2007, yakni dari US$ 2,01 miliar jadi US$ 8,33 miliar.
Investasi asing telah berkontribusi lebih dari 100% dalam peningkatan realisasi investasi tahun ini. Penyumbang terbanyak realisasi investasi adalah transportasi, manufaktur, telekomunikasi, logam, farmasi dan industri makanan.
Pasar ekspor barang tumbuh 7,6%. Angka itu bertumbuh sedikit lebih rendah dibandingkan tingkat pertumbuhan tahun lalu. Ekspor nonmigas dan pertanian menyumbang pertumbuhan terbesar. [inilah.com]
Kategori
Blog Archive
Minggu, Juli 20, 2008
Ketika Truk Naik Daun
Diposting oleh Team Redaksi
Label: Otomotif
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Posting Komentar