Jemberpost.com.
Kendati angka balita Kekurangan Energi Protein (KEP) total atau gizi buruk masih tergolong tinggi, lantaran prevalensi KEP total Jawa Timur masih lebih rendah dibandingkan Jember.Namun, jumlahnya mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Tahun 2007, angka balita gizi buruk sebanyak 286 balita, lalu pada tahun 2008 jumlahnya turun menjadi 103 balita.
Data yang berhasil dihimpun dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, menyebutkan angka prevalensi KEP total Jatim sebesar 18,4 persen, sedangkan KEP Jember jumlahnya 20 persen. Itu berarti angka gizi buruk Jember rata-rata lebih tinggi dibandingkan kabupaten/kota yang tersebar di Jatim.
“KEP total kita sekarang memang cukup tinggi hampir 20 persen. Tapi yang kategori buruk sekali kita temukan baik yang di opname di RSUD dr Soebandi maupun di lapangan yang hanya dirawat di Puskesmas tahun ini kita temukan sebanyak 103 balita,” kata Kasi Gizi Dinkes Kabupaten Jember, Fathona
Dari jumlah 103 balita yang dinyatakan gizi buruk itu. Sebanyak 19 persen balita masuk dalam kategori gizi buruk ringan dan sedang, sedangkan 1 persen dikategorikan berat. “Penyebab langsung gizi buruk ini karena kurangnya asupan gizi dan penyakit, lha kedua hal ini tergantung dari perilaku dan pola asuh ibu,” katanya.
Ia mengatakan, kurangnya asupan gizi di satu sisi disebabkan oleh kebiasaan ibu memberikan makanan tambahan sejak bayi itu dilahirkan. Pada sisi lain, para ibu yang memiliki balita tidak memberikan Air Susus Ibu (ASI) eksklusif pada bayinya selama 6 bulan penuh.
Padahal pemberian makanan tambahan pada bayi yang berumur kurang dari 6 bulan, relatif berisiko bagi pertumbuhan gizinya. Pasalnya, ASI memiliki kandungan gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi pada usia tersebut, salah satunya adalah kolostrum. “Pemberian ASI eksklusif pada bayi di Jember ini masih sangat rendah, karena kurang dari 15 persen,” ungkapnya.
Pihaknya mengatakan, jumlah balita Jember tiap tahunnya rata-rata 38 ribu. Sedangkan yang mendapatkan ASI eksklusif baru sekitar 13 persen dari total balita tersebut. Itu berarti, sebanyak kurang lebih 87 persen balita yang baru lahir rata-rata telah diberi makanan tambahan sejak dilahirkan.
Lebih jauh, ia menjelaskan, ciri-ciri bayi gizi buruk ditandai adanya oedema (pembekakan) pada tungkai. Bila hal ini terdapat pada balita, maka bayi itu menderita kwasiorkor (gizi buruk berat). Sedangkan marasmik/marasmus bisa diketahui melalui pada penampakan mukanya seperti kera (muka kera). “Balita yang seperti ini berarti tidak mampu mempertahankan tumbuh kembangnya,” terangnya.
Tidak terpenuhinya gizi yang cukup pada masa tumbuh kembang, katanya, disebabkan oleh kurangnya asupan gizi. “Umumnya kurangnya asupan gizi yang diberikan orang tua pada balita disebabkan oleh kemiskinan. Karena miskin, maka orang tua terbatas dalam memenuhi bahan makanan yang mengandung gizi seimbang,” tuturnya.
“Makanya untuk mengetahui sejak dini kondisi anak kita, orang tua harus aktif menanyakan dan melaporkan pada petugas Posyandu atau Puskesmas bila berat badan anak kita perkembangannya tidak mengikuti pelangi yang ada dalam Kartu Menuju Sehat (KMS),” tandasnya.
Dengan begitu, Dinkes bakal mengambil tindakan bila menemukan anggota masyarakat yang memiliki balita gizi buruk. Tindakan yang dilakukan, diantaranya memberikan asupan seper tiga kebutuhan gizi dalam sehari selama 90 hari.
“Sedangkan dua per tiga kebutuhan gizi dan makanan lokalnya bisa dipenuhi oleh orang tuanya. Jika tidak mampu maka menjadi tanggung jawab lingkungannya, termasuk orang tua asuh yang mau dan peduli untuk membantu pemulihan gizi balita tersebut,” paparnya.(sal)
Kategori
Blog Archive
Selasa, Februari 03, 2009
Angka Gizi Buruk Jember Turun
Diposting oleh Team Redaksi
Label: Berita Umum, Kesehatan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Posting Komentar