Rabu, Januari 14, 2009

Reputasi Internasional, Gelar Profesor Dosen Unej Terhambat

Jemberpost.com - Inilah wajah Universitas Jember. Seorang dosen yang hanya bergelar sarjana S-1 bisa mendapat gelar guru besar. Namun seorang doktor dengan reputasi nasional dan internasional justru pengajuan gelar profesornya tak jelas hingga hampir tiga tahun. Dr. Achmad Subagyo, dosen Fakultas Teknologi Pertanian, membenarkan bahwa universitas belum juga memberikan gelar guru besar untuknya, kendati sudah diajukan sejak Juli 2006.

"Saya mendengar bahwa gelar saya ditunda. Alasan utamanya karena secara personal saya dianggap tak punya kepedulian terhadap Unej. Tapi saya tidak pernah menerima surat resmi alasan penundaan," kata Subagyo.

Padahal, secara administratif, Subagyo sudah memenuhi syarat untuk menjadi guru besar. Aturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara mensyaratkan seorang dosen harus mencapai angka kredit 850 untuk bisa menjadi profesor. Tahun 2006, angka kredit Subagyo sudah mencapai seribu lebih.

penentuan gelar untuk Subagyo ditempuh melalui voting Voting menghasilkan 18 suara menolak Subagyo dan 14 suara mendukungnya. Ada dua alasan terjegalnya Subagyo, yakni dianggap suka demo dan tidak loyal.

Padahal reputasi Subagyo cukup mentereng. Terakhir dia mendapat penghargaan sebagai salah satu pencipta dari 100 inovasi terbaik di Indonesia tahun 2008. Ia membuat madu dari ampas kelapa.

Di dunia internasional, reputasinya sebagai salah satu peneliti pangan membuatnya diundang ke Afrika Selatan, Tanzania, Jepang, dan Malaysia. Ia juga mendapat dana riset dari Swedia dan Pakistan.

Januari 2009, kekecewaan Subagyo terhadap kampus almamaternya masih belum hilang sepenuhnya. "Saya kalau menggugat di PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara), sebenarnya bisa menang. Tapi saya tak mau menyakiti guru-guru saya," katanya.

Jawabannya ini konsisten dengan jawaban yang diberikan kepada beritajatim.com dua tahun silam.

Setelah dua tahun lebih terkatung-katung, Subagyo tak akan mengajukan lagi permohonan untuk mendapatkan gelar guru besar. "Saya tak perlu mendaftar lagi. Kalau mendaftar lagi berarti kemunduran. Seharusnya berkas saya yang dulu ditindaklanjuti oleh universitas," katanya.

Kabar terjegalnya Subagyo untuk menjadi guru besar ini sering ditanyakan orang. Subagyo sering menjelaskan apa yang terjadi di Unej. "Semua orang jadi tahu, bahwa di Unej tidak bisa dibedakan mana profesionalitas dan urusan personal. Ini demarketing bagi Unej," katanya. [BJ/ted]


Posting Komentar

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template custom by Adiguna