Kamis, Januari 01, 2009

Malam Ini Wayang Kulit Meriahkan Hari Jadi Jember

Jemberpost.com,
Malam di Jember akan terasa hidup jika anda melewatkannya dengan melihat tontonan Wayang Kulit. Irama gamelan yang rancak akan berpadu dengan suara merdu parapesinden membuat takkan membiarkan anda jatuh dalam kantuk. Karena malam ini di Balai Serba Guna (BSG) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember dihibur dengan sajian kesenian khas Jawa yaitu Wayang Kulit menampilkan Ki Dalang Timbul Lukito dengan mengambil lakon atau cerita “Gatotkaca Lahir”.
Bahkan cerita yang dibawakan sang dalang akan membawa anda larut seolah ikut masuk menjadi salah satu tokoh dalam kisah yang dibawakan. “Anda pun dengan segera akan menyadari betapa Agungnya Budaya Jawa di masa lalu, “ungkap Agoes Slameto, di kantornya kemarin.
Lebih jauh dikatakan bahwa pagelaran wayang kulit yang merupakan hajatan Pemkab Jember ini, Agoes Slameto berharap dengan pagelaran wayang semalam suntuk ini dapat memberikan hiburan alternatif kepada masyarakat, khususnya dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Jember yang ke-80 dan lebih kepada melestarikan budaya Jawa. “Acara yang akan memberikan hiburan gratis kepada masyarakat ini akan di mulai pada pukul 21.00 WIB hingga usai pada pagi harinya, “jelasnya.
Sementara itu Ki dalang Timbul Lukito dalam lakon Gatotkaca lahir menceritakan bahwa Gatotkaca terkenal sebagai kesatria perkasa berotot kawat bertulang besi. “Ia adalah anak Bima, ibunya bernama Dewi Arimbi, “katanya.
Lebih lanjut diceritakan bahwa begitu lahir di dunia, Gatotkaca telah membuat huru-hara. Tali pusarnya tidak dapat diputus. Berbagai macam pisau dan senjata tak mampu memotong tali pusar itu. “Akhirnya keluarga Pandawa sepakat menugasi Arjuna mencari senjata ampuh untuk keperluan itu, sementara itu para dewa pun tahu peristiwa itu, “ujar Timbul yang sejak tahun 1975 sudah menggeleluti dunia pewayangan ini.
Lalu dijelaskan untuk menolongnya, Batara Guru mengutus Batara Narada turun ke bumi membawa senjata pemotong tali pusar Gatotkaca. Namun Batara Narada membuat kekeliruan. Senjata, yang bernama Kunta Wijayandanu itu bukan diserahkan pada Arjuna, melainkan pada Karna yang wajah dan penampilannya mirip Arjuna. Untuk memperoleh senjata pemberian dewa itu Arjuna terpaksa mencoba merebutnya dari tangan Karna. Usahanya ini tak berhasil. “Arjuna hanya dapat merebut sarung (warangka) senjata sakti itu. Sedangkan bilah senjata Kunta tetap dilarikan Karna, “lanjutnya.
Untunglah ternyata sarung Kunta itupun dapat digunakan memotong tali pusar Gatotkaca. Namun, begitu tali pusar itu putus, warangka Kunta langsung melesat masuk ke dalam pusar bayi itu.
Setelah tali pusarnya putus, atas izin Bima dan keluarga Pandawa lainnya Gatotkaca dibawa Batara Narada ke Kahyangan untuk menghadapi Kala Sakipu dan Kala Pracona yang mengamuk. Mula-mula Bima dan Dewi Arimbi tidak merelakan anaknya yang baru lahir itu dibawa Narada. Namun, setelah dewa itu menjelaskan bahwa menurut ramalan para dewa, Kala Sakipu dan Kala Pracona memang hanya dikalahkan oleh bayi yang dinamakan Tetuka itu, Bima dan Arimbi mengizinkan.
Di kahyangan Bayi Tetuka langsung ditaruh dihadapan kedua raksasa sakti itu. Kala Sakipu langsung memungut bayi itu dan mengunyahnya, tetapi ternyata Tetuka bukan bayi biasa. Tubuhnya tetap utuh walaupun raksasa itu mengunyah kuat-kuat. Karena kesal, bayi itu dibantingnya sekuat tenaga ke tanah. Tetuka pingsan. Setelah ditinggal pergi kedua raksasa itu Bayi Tetuka diambil olah Batara Narada dan dimasukkan ke Kawah Candradimuka.
Di sini Gatotkaca digembleng oleh Empu Batara Anggajali. Setelah penggemblengan selesai, begitu muncul kembali dari Kawah Candradimuka, bayi itu sudah berubah wujud menjadi Ksatria muda yang perkasa.
Akhirnya Gatotkaca untuk meraih kemenangan dalam perebutan kepemimpinan. Demi meraih kemenangan ini Gatotkaca menuai berbagai rintangan dan halangan baik dari kalangan saudara dan keluarganya, terlebih di pihak lawan-lawannya. “Teror, fitnah, maupun hujatan yang menyudutkan dirinya diterima dengan lapang dada serta senyuman oleh Gatotkaca, “ujar Ki dalang.
Singkat kata, dengan modal keyakinan serta didukung usaha yang benar, Gatotkaca akhirnya meraih kemenangan. Kemenangan ini kemudian disambut suka-cita oleh rakyatnya yang ditandai dengan pesta tujuh hari tujuh malam berturut-turut. (sal/tot)

Posting Komentar

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template custom by Adiguna