.jpg)
Jemberpost.com,
Panen memberikan gambaran, bahwa ditengah berbagai persoalan yang dihadapi petani saat ini, ternyata para petani yang tergabung dalam kelompok tani Setia Budi IV justru mampu menunjukkan keberhasilannya dalam rangka ikut mendukung program ketahanan pangan. “Keberhasilan ini tentunya akan memberikan manfaat dan kelebihan bertani dengan cara berkelompok, “demikian disampaikan Wakil Bupati Jember Kusen Andalas dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Asisten Ekonomi Pembangunan, Drs. Edi B. Susilo, MSi saat melakukan panen perdana jagung Hibrida SHS 3 di Desa Jambearum Kecamatan Puger Kabupaten Jember, Kamis (4/11) tadi siang.
Lebih jauh dikatakan bahwa Jember selama ini merupakan salah satu lumbung pangan bagi Jawa Timur, karena masyarakat petaninya lebih mengutamakan tanaman pangan, seperti padi, jagung, kedele dan lain sebagainya. “Dengan kata lain, Jember menjadi bagian terpenting dalam rangka mendukung program ketahanan pangan di Jawa Timur, “ungkapnya.
Masih menurut Kusen, bahwa persoalan kelangkaan pupuk sangat klasik, namun tentunya tidak boleh terus berlangsung karena dampak yang ditimbulkan akan semakin krusial dan kompleks. Tidak hanya sebatas menurunnya kualitas produksi yang berdampak pada jatuhnya harga dan menurunnya pendapatan petani, tetapi juga berdampak buruk pada beralihnya usaha tani, sehingga dalam jangka panjang dapat mengganggu ketahanan pangan.
Disamping itu, masih kata Kusen bahwa efektivitas usaha tani yang dilakukan dalam kelompok akan lebih efektif dan terarah, melalui pola intensifikasi yang telah terbukti mampu meningkatkan produksi, seperti yang telah dicapai oleh kelompok tani “Setia Budi IV” ini, yang telah berhasil mewujudkan usahanya dengan sukses, yakni melakukan panen Perdana Jagung Hibrida SHS 3, “katanya.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur yang diwakili, Kusdarianto Kabid Perencanaan Diperta Jatim mengatakan dengan melihat tongkol jagung hibrida SHS 3 ini yang nyaris tidak ada bogangnya, maka produksinya akan meningkat sesuai dengan upaya yang selalu kita harapkan.
Berdasarkan pada angka ramalan III tahun 2008, Jawa Timur akan menghasilkan produksi jagung sebesar 4,8 juta ton dari produksi nasional sebesar 15,8 juta ton dengan besaran 13% produksi jagung nasional ini berada di Jawa Timur dan salah satunya Kabupaten Jember. “Bahkan bisa mengalahkan Gorontalo yang menyebutnya sebagai propinsi jagung dengan produksi jagung hanya sebesar 700 ribu ton, sedangkan Jember bias mencapai 4,8 juta ton, “katanya.
Keberhasilan Jawa Timur ini merupakan prestasi dari para petani dan terus akan diupayakan produksi dan produktifitasnya. “Salah satunya adalah penggunaan benih jagung hibrida yang hanya 40% dan terus diupayakan hingga 60%, “ujarnya.
Untuk meningkatkan produksi dan produktifitas jagung, pemerintah juga telah berupaya membimbing para petani yang sering disebut dengan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTP), dimana untuk tanaman jagung di Jawa Timur dilaksanakan di 700 unit dan 25 unitnya berada di Kabupaten Jember. “Upaya ini adalah membantu petani berupa penggunaan benih, pengolahannya, pemupukan, agar supaya produktifitasnya meningkat, “tuturnya.
Masalah yang tidak kalah pentingnya saat pasca panen, karena panen jagung biasanya dimusim penghujan, sehingga sangat diperlukan proses pengeringan yang cukup baik. “Pengeringan dengan lantai jemur merupakan langkah yang cukup baik mengingat adanya kenaikan harga BBM yang menyebabkan biaya operasionalnya cukup tinggi, “katanya.
Direktur Pemasaran Sang Hyang Seri, M Yedi mengatakan jagung varietas SHS 3 merupakan golongan hibrida single cross dengan penampilan tanamannya seragam, berpotensi produksi sekitar 15,4 ton/ha dengan rata-rata 11,21 ton pipilan kering. “Kelebihan varietas ini sangat cocok ditanam dimusim hujan dan musim kemarau baik dilahan sawah maupun tegalan. Jagung ini juga termasuk varietas yang beradaptasi luas dan stabil dengan produksinya, “ujarnya.
Sedangkan jenis SHS 3 ini sangat tahan terhadap ketahanan rebah, baik batang maupun akar meski dimusim hujan maupun musim kemarau, hal ini karena didukung oleh kuatnya perakaran dan batang yang kokoh. Selain itu SHS 3 mempunyai biji berwarna kuning, dan tongkolnya silender panjang dengan kandungan protein tinggi sebesar 13,46% lebih tinggi dari varietas yang sudah ada yaitu 10%-11%. “Dengan kandungan protein tinggi, varietas ini dapat digunakan untuk pakan ternak khususnya unggas, “katanya.
Selain petak contoh yang ditanam di Kabupaten Jember ini, menurut Yedi, pihaknya juga melakukan hal yang sama di daerah Jombang, Tuban, Situbondo, Pasuruan, nganjuk, dan propinsi Bali serta di NTB. “Sehingga dari banyaknya petak contoh yang ada, petani akan mudah menerima informasi akan jagung hibrida SHS 3 ini, “pesannya.
Benih jagung hibrida SHS 3 merupakan jenis benih jagung terbaru yang diproduksi oleh Sang Hyang Seri tahun 2008 ini dan telah disetujui serta dilepas oleh Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 829, tanggal 24 Juni 2008. “Jenis jagung tersebut kami beri nama dengan SHS 3 yang diproduksi dan dipasarkan hanya oleh PT Sang Hyang Seri satu-satunya, “jelasnya. (sal/tot)
Kategori
Blog Archive
Kamis, Desember 04, 2008
Temu lapang Panen Jagung SHS 3 “Genjah Umurnya Melimpah Panennya”
Diposting oleh Team Redaksi
Label: Berita Umum, Ekonomi, Pembangunan Desa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Posting Komentar