Jemberpost.com - Petani resah menjelang berakhirnya masa tebang tebu. Keresahan dipicu masalah rendemen yang rendah dan kenaikan ongkos tebang muat angkut. Hal ini dikemukakan penasehat Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR), Samuji Zarkasih. Menurutnya, rendemen tebu yang ditebang di masa akhir memiliki rendemen 2 - 3 persen. Rendahnya rendemen tersebut dipengaruhi oleh volume hujan yang tinggi.
"Sampai akhir bulan ini, giling belum selesai. Koordinasi pabrik gula dan kelompok petani seperti KPTR, APTR, dan PPTR kurang maksimal. Tanaman petani tebu yang mengambil kredit ketahanan pangan dan energi ternyata tidak digiling tepat waktu," keluh Samuji.
Keterlambatan dikarenakan pabrik gula menggiling tebu milik petani yang tak bermitra. "Seharusnya yang namanya mittra, diperhatikan oleh pabrik gula," tambah Samuji.
Beban petani semakin besar, setelah ongkos tebang muat angkut melonjak dari Rp 2.500 - 3.000 per kuintal menjadi Rp 6.000 - 8.000 per kuintal. Kenaikan terjadi karena kendaraan tak bisa masuk ke lokasi tebu yang ditebang, sehingga hasil tebangan harus dioperkan.
"Kenaikan ongkos tebang ini membuat biaya operasional meningkat. Petani merugi jika demikian," kata Samuji. [wir/BJ]
Kategori
Blog Archive
Senin, Desember 29, 2008
Petani Tebu Resah Menjelang Akhir Tebang
Diposting oleh Team Redaksi
Label: Berita Umum, Ekonomi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Posting Komentar