Jemberpost.com,
Komoditas tembakau yang dihasilkan oleh para petani di Kabupaten Jember merupakan potensi pertanian yang dikenal cukup luas. Apalagi, komoditas ini telah menciptakan suatu mata rantai tata niagaistimewa dengan daerah-daerah lain yang juga mempunyai komoditas sejenis. Misalnya, Kota Kediri.
Bertolak pada kenyataan tersebut, sejumlah pejabat dari Pemkot Kediri, yaitu dari Dinas Koperasi dan Disperindag serta beberapa pengusaha home industry rokok lokal yang tergabung dalam UKM Kota Kediri, melakukan studi banding untuk mempelajari sistem pengolahan tembakau di Jember. Rombongan ini diterima secara langsung oleh Asisten II Ekonomi Pembangunan, Drs. Edy B. Susilo, M.Si di aula Pemkab Jember.
Kepada rombongan yang hadir, Edy mengatakan, komoditas tembakau telah menciptakan suatu ikon bagi kedua daerah, Kediri sebagai produsen rokok sedang Jember merupakan pemasok tembakau untuk industri rokok di Kediri. “Oleh karena itu, studi banding ini tentu sangat strategis bagi kedua daerah terkait dengan permasalahan tata niaga tembakau”, ujarnya.
Lebih lanjut Edy menyampaikan, tanaman tembakau banyak dibudidayakan oleh masyarakat, dan hasilnya hampir berimbang dengan tanaman pangan. “Namun kenyataannya, budidaya tembakau ini tidak selamanya menguntungkan petani, bahkan petani sering merugi”, cetusnya. Ia menandaskan, hal tersebut merupakan masalah klasik yang hingga saat ini membutuhkan penanganan serius dari pihak-pihak terkait.
Masalah pertembakauan memang tidak terlepas dari banyak faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitasnya. Faktor-faktor itu misalnya, luas areal tanam, cara penanaman atau tata niaga tembakau. “Hal inilah yang menjadi persoalan pertembakauan semakin kompleks”, tegas Edy.
Untuk memecahkan permasalahan tersebut, Pemkab Jember bersama stakeholder terus berupaya dan sekaligus membantu petani yang ingin tetap menanam tembakau sebagai mata pencaharian. ”Harapannya, dapat menumbuhkan kepercayaan petani agar tetap optimis bahwa tembakau tetap menjadi primadona perekonomian masyarakat”, ungkapnya.
Langkah kongkrit yang telah dilakukan Pemkab Jember sejak tahun 2003, adalah pendataan jumlah kebutuhan kasar tembakau beserta jenis dan kualitasnya. Hasil pendataan itu kemudian disosialisasikan kepada masyarakat, khususnya petani tembakau, sehingga dengan data tersebut petani dapat menyeimbangkan antara jumlah penanaman dan kualitas produksi dengan kebutuhan pasar agar tidak terjadi over produksi. ”Dan yang tak kalah pentingnya adalah memantau transaksi di gudang-gudang guna transparansi pembelian antara pengusaha dan petani”, imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kab. Jember, Ir. Dwidjo Sulastiono yang juga hadir pada acara itu menjelaskan, saat ini Pemkab Jember telah melakukan beberapa solusi agar petani tembakau tidak merugi. Misalnya, menghimbau petani tembakau untuk bermitra dengan pengusaha. Selain itu, Disbunhut juga bekerjasama dengan BMG untuk mendeteksi iklim. “Dengan deteksi ini, akan diketahui kapan waktu terbaik untuk mulai tanam tembakau dan kapan memanennya”, tutur Dwidjo.
Mengenai alokasi dana yang digulirkan untuk membantu permasalahan petani tembakau ini, Dwidjo mengatakan dana tersebut digunakan untuk menyusun database potensi produksi tembakau, program peningkatan hasil panen, penerapan teknologi dan untuk kesejahteraan petani sendiri.
Sedang menurut salah seorang staf Disperindag Kab. Jember, Joko, di Jember sudah ada beberapa home industry rokok. Dari data yang ada, terdapat 144 UKM industri rokok non-formal (tidak ber-NPWP) dan 88 UKM yang telah memiliki NPWP (formal).
Pada dasarnya UKM ini menggunakan mesin yang sangat sederhana, SDM-nya rendah, modal kerja yang kurang mencukupi, yaitu sekitar 1-2 juta rupiah (idealnya Rp 4 juta), pangsa pasarnya terbatas, dan biasanya omset jauh tertinggal dari rokok yang sudah dikenal masyarakat. (sal/dn)
Kategori
Blog Archive
Rabu, November 26, 2008
Jember-Kediri Jalin Sinergitas Tembakau
Diposting oleh Team Redaksi
Label: Berita Umum, Bisnis, Ekonomi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Posting Komentar